"Daddy, dengar aku gak sih?" rengek Azalea.
"Jangan aneh-aneh."
"Aneh-aneh apa? Aku ini anak lagi masa pertumbuhan, Daddy. Aku bukan cuma butuh makan dan jajan. Aku juga butuh kasih sayang seorang ibu." Azalea bicara dengan gaya dramatis.
Anggara menyentil pelan kening putrinya. "Gak usah lebay! Lagian memangnya kamu gak lihat kalau Tante Cahaya itu judes sama kamu?"
"Lihat."
"Itu kamu nyadar. Kenapa malah mau dia jadi mommy kamu?"
"Biar seru aja."
Anggara memutar bola mata. "Kalau cuma seru-seruan mah nggak usah pakai acara dia jadi mami kamu. Kamu bisa main sama dia. Dia juga tante kamu. Masih saudara."
"Aku gak mau jadi saudara. Maunya jadi mommy."
"Gak usah aneh-aneh. Daddy kerja dulu. Kamu hati-hati di rumah. Nanti makanan di kulkas tinggal kamu angetin kalau mau makan." Anggara berdiri dari kursi yang sejak tadi ia duduki.
"Ok, Daddy." Azalea mengangguk. Mengantar sang ayah hingga depan rumah.
"Pergi dulu. Ingat jangan nakal. Kalau ada apa-apa hubungi daddy." Sebelum pergi Anggara sekali lagi berpesan
"Iya, Daddy. Gak usah bawel. Aku ini udah gede," sebal Azalea sambil berdecak.
Anggara tak lagi menyahuti. Melambaikan tangan sambil mengemudi meninggalkan kediamannya. Beberapa hari terakhir ia harus beradaptasi dengan kebiasaan baru, kehadiran putri yang tak pernah ia tahu sebelumnya.
***
"Aunty!"
Cahaya yang baru turun dari mobil, menoleh. "Dion ke sini sama siapa, Sayang?" tanyanya dengan lesu. Duduk di kursi teras, tak jauh dari keponakannya.
"Sendiri."
"Sendiri?" ulang Cahaya, tidak yakin.
"Iya, Aunty. Aku disuruh Om Angga anterin keperluan sekolah Alea sambil ngasih tau yang perlu disiapkan," jawab Dion.
"Oh. Kamu udah kenal sama bocah meresahkan itu?"
"Bocah meresahkan?" Remaja laki-laki putra pertama Dania dan Damar itu mengernyit.
"Iya. Itu anak Om Angga."
"Oh. Namanya Azalea, Aunty."
"Tau."
"Terus kenapa Aunty panggil dia bocah meresahkan?"
"Emang meresahkan."
"Mommy!"
Cahaya dan Dion menoleh ke arah sumber suara.
"Lea, kamu panggil mami ke siapa?" Dion bertanya, menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan bahwa memang di sana hanya ada ia dan tante.
Azalea menunjuk ke arah Cahaya yang hanya memutar bola mata mendengarnya.
Sementara Dion menatap sang tante—bingung.
"Heh! Kamu gak usah ngaku-ngaku. Jangan panggil saya mommy. Saya bukan mami kamu," ketus Cahaya.
"Oke deh. Aku gak akan panggil mommy lagi." Sambil duduk di kursi lain yang kosong.
Cahaya mengernyit. Menurut begitu saja? Ternyata anak itu tidak begitu menyebalkan.
"Gimana kalau panggil mama aja? Mommy aku udah punya sih." Azalea bersuara lagi.
Cahaya melotot. Ia tarik kembali kata-kata yang sempat memuji. Ternyata anak itu lebih menyebalkan daripada yang ia kira.
"Atau ibu kayak Tante Mita? Atau ... Bunda? Biar kayak Tante Binar."
Suara Azalea terdengar semakin menyebalkan di telinga Cahaya. "Azalea ...." Geram dengan gigi bergemeletuk. Tetapi tunggu dulu. Apa tadi anak itu sedang mengabsen nama kakak-kakaknya? "Heh! Dari mana kamu tau mereka?"
"Mereka siapa?" tanya Azalea, bingung.
"Itu tadi. Nama-nama yang kamu sebut."
"Oh. Aku kan kenal sama semua kakaknya Tante. Daddy ajak aku ketemu semuanya. Kata daddy semua saudara. Jadi aku bisa minta tolong sama mereka juga kalau misalnya lagi butuh bantuan."
Cahaya semakin melongo. Jadi hanya ia yang baru kenal anak itu? "Terus kamu ngapain di rumah saya?" Baru sadar bahwa anak perempuan itu tadi keluar dari rumahnya.
"Aku dari tadi main di sini sama Nenek Fani. Di rumah aku gak ada teman. Daddy kan kerja," jawab Azalea.
Cahaya tak bisa berkata-kata lagi. Anak itu bahkan sudah mengenal semua orang. "Sudahlah. Terserah." Ia bangkit, berlalu masuk ke dalam rumah.
Dion yang sejak tadi hanya menjadi pendengar, menatap sepupunya itu. "Kamu suka sama aunty aku?"
"Suka!" angguk Azalea dengan jujur. Menatap sepupunya dengan serius. "Tante Cahaya udah punya pacar belum?"
Dion menggeleng.
"Itu maksudnya apa?"
"Gak tau."
"Kenapa gak tau? Dia 'kan tante kamu.''
"Tapi bukan berarti aku tau semuanya. Lagian aunty emang belum pernah bawa teman laki-laki terus dikenalin ke aku. Kalau ke mama atau papa aku gak tau deh."
"Harusnya kamu tau."
Dion tidak lagi menyahuti.
"Eh. Kamu mau gak bantu aku?" Azalea mendekat, berbisik.
"Bantu apa?'' Dion menatap penasaran.
"Bantu aku jodohin aunty kamu sama daddy aku."
"Hah?"