"Baru pulang, Sayang? Tumben banget jam segini baru pulang."
Cahaya menoleh. "Enggak, Ma. Aku pulang dari tadi tapi ngobrol dulu sama Dion di depan."
"Sini duduk minum teh." Fani mengajak putrinya untuk duduk bersama.
Cahaya menurut. "Papa mana?"
"Lagi ke rumah kakak kamu. Katanya ada yang mau dibicarakan."
"Mas Damar?"
"Bukan, ke rumah Aga."
"Ada apa papa ke rumah Mas Aga?" Cahaya manatap penasaran.
"Mama gak tau. Nanti kamu tanya aja sendiri kalau papa kamu pulang."
Cahaya tak lagi menanggapi. "Oh ya, Ma. Sejak kapan Bocah Resek itu suka ke sini?"
Wanita paruh baya itu mengerutkan dahi. "Bocah resek siapa?"
"Anaknya Om Angga."
"Oh. Azalea. Beberapa hari yang lalu."
"Aku baru tahu Om Angga punya anak udah segede Dion pula. Anak angkat ya?"
"Hus! Kamu ini jangan sembarangan. Azalea itu anak kandung Angga."
"Hah? Aku kok baru tahu."
"Mama juga baru tau. Yang mama tahu, dulu Angga nikah memang tak lama setelah Damar nikah. Tapi abis itu gak lama mama dengar dia pergi ke luar negeri. Abis enam tahun baru balik ke sini waktu itu."
"Ke luar negeri sama istrinya?"
"Itu mama gak tau."
Cahaya mengangguk-angguk. "Atau mungkin mereka udah cerai dan selama ini anaknya tinggal sama ibunya. Terus sekarang ibunya meninggal jadi ke sini?"
"Kamu ini kalau ngomong suka sembarang. Ibunya masih ada."
"Mama tau dari mana?"
"Azalea sendiri yang bilang. Selama ini dia memang tinggal di luar negeri sama ibunya."
"Berarti bener waktu itu Om Angga pergi ke luar negeri sama istrinya. Tapi kok pulang sendiri ya? Atau jangan-jangan mereka cerai makanya Om Angga pulang ke sini?"
"Mama gak tau," jawab Fani.
Cahaya diam. Jika Azalea masih punya ibu, lalu kenapa anak itu terus memaksanya untuk jadi ibu? "Agak lain emang itu anak," gumamnya.
"Maksudnya?" Fani heran.
"Enggak apa-apa. Aku ke kamar dulu." Cahaya pamit, bangkit dari kursinya dan berlalu naik ke lantai dua. "Oh iya, Ma. Kalau Anak Resek itu nanyain kamar aku, jangan Mama kasih tau." Ia berbalik seteleh menaiki beberapa anak tangga.
"Dia udah tau."
"Hah? Kok bisa?"
"Dia maen di sini setiap hari. Banyak ngobrol dan nanya juga. Ya mama mah seneng aja. Mama jadi gak kesepian. Ada teman ngobrol. Dia udah mama anggap cucu sendiri."
Cahaya memutar bola mata. "Mama punya cucu banyak."
"Iya. Tapi mereka semua gak ada yang tinggal dekat sini. Kalau kangen mama harus maen ke sana atau nunggu mereka yang ke sini."
"Kan dekat masih satu kota. Gak sampai setelah jam juga sampai. Ngapain coba deket-deket sama anak itu? Nanti dia makin ngelunjak."
"Ngelunjak apa? Anaknya baik gitu kok. Suka bantuin mama potong-potong sayuran kalau lagi masak."
"Itu dua cari muka," sebal Cahaya, baginya Azalea tak ada baik-baiknya.
"Kamu itu cuma cemburu mama deket sana dia."
"Aku?" Cahaya menunjuk dirinya sendiri dengan bola mata membulat.
"Udah sana ah! Katanya mau mandi. Mama mau lihat anak-anak di depan." Fani berlalu.
"Eh!" Cahaya tak dapat berkata-kata lagi. "Anak itu bener-bener deh. Udan ngetacunin otak mama."
***
Anggara duduk di kursi yang ada di balkon lantai dua rumahnya sambil menikmati udara pagi. Minuman hangat berada di tangan.
Saat sedang menyeruput, fokusnya tertuju ke arah rumah depan. Seseorang dengan sweater hoodie telinga kelinci keluar. Merentangkan tangan ke atas hingga tetapan mereka bertemu. Tetapi tak lama kemudian, orang itu kembali masuk sambil membuang muka.
Ia berdecih. "Anak kecil," gumamnya dan kembali menyeruput kopi. Siapa lagi jika bukan Cahaya yang kamarnya berada tepat di depan.
"Daddy lagi apa?"
Anggara tersedak. Kemunculan putrinya membuat ia terkejut.
"Maaf, Daddy." Azalea memukul pelan punggung sang ayah. "Daddy gak apa-apa?"
"Kami ini." Hanya itu yang Anggara katakan.
"Daddy sih ngelamun. Orang aku cuma nanya," kilah Azalea sambil duduk di samping sang ayah. "Daddy di sini lagi liatin Tante Cahaya ya?"
Anggara menoleh, tatapannya penuh protes. "Jangan ngawur!"
"Ngawur apa? Orang bener 'kan? Tuh kamar Tante Cahaya pas banget depan kita sekarang."
Anggara menyentil pelan kening putrinya. "Otak kamu tuh yang isinya dia terus. Dari dulu juga daddy suka minum kopi di sini sebelum ngantor. Jangan suka mikir aneh-aneh."
Azalea cemberut. "Daddy memangnya gak suka sama Tante Cahaya?"
"Suka."
"Beneran, Daddy?" Azalea menatap dengan mata berbinar. "Nanti aku bilangin sama Tante Cahaya."
"Eh! Bilang apa? Daddy itu suka sama dia karena dia saudara kita juga. Bukan suka seperti yang kamu pikir. Kamu ini masih kecil. Sekolah aja yang bener. Jangan malah ngurusin hal-hal gak penting. Kalau masih bandel juga, daddy kirim lagi kamu ke mommy kamu!"