"Tante!"
Cahaya hanya menoleh sekilas. Sudah tahu siapa pemilik suara itu.
"Tante mau berangkat ke kantor ya?!"
"Udah tau ngapain nanya?" ketus Cahaya, sengaja bersikap seperti itu agar tak lagi didekati.
"Biar bisa dengar suara Tante," cengir Azalea.
Cahaya memutar bola mata. "Minggir! Jangan halangin jalan orang."
Azalea gegas menyingkir. Tatapannya masih tertuju pada wanita dewasa tersebut.
"Ngapain masih di sini? Bukannya kamu mau sekolah?" tanya Cahaya.
Azalea mengangguk. "Ini hari pertama aku sekolah di sini. Lagi nungguin daddy yang masih siap-siap. Daddy kalau siap-siap suka lama. Kasian sih. Gak ada yang ngurusin malah sekarang harus ngurusin aku juga."
"Itu karena daddy kamu yang rewel. Gak mau pakai asisten rumah tangga. Semua dikerjain sendiri sampai nyiram tanaman pun sendiri sambil tebar pesona tuh sama tetangga yang matanya jelalatan," sahut Cahaya.
"Tante cemburu ya daddy aku ditaksir tetangga?" cengir jahil Azalea.
"Anak kecil tapi bahasanya udah kayak orang gede. Belajar yang bener mending juga daripada aneh-aneh."
"Ih! Tante kok bisa sih ngomong gitu? Sama kayak daddy aku, tadi ngomong gitu juga sama aku. Kompak banget. Jangan-jangan jodoh makanya sehati, bicaranya sama."
Cahaya memutar bola mata. "Mulai deh, kumat." Ia lalu masuk ke mobil.
"Lea!"
Gadis kecil berusia tiga balas tahun itu menoleh. "Pagi, Nek." Sambil menghampiri.
"Pagi, Sayang. Mau sekolah?"
"Iya, Nek."
"Satu kelas sama Dion?"
Azalea mengangguk. "Iya. Aku minta satu kelas bareng biar aku ada teman, Nek."
"Baguslah. Kalau ada apa-apa nanti kamu bisa minta tolong Dion. Tapi kalau dia usil, kamu bilang aja sama nenek, biar nanti nenek jewer dia."
Azalea terkekeh. "Iya, Nek. Tapi Nenek gak usah khawatir. Kalau ada yang iseng, aku pasti bales."
Dari balik kaca mobil Amanda memperhatikan ibunya yang tampak begitu akrab dengan Azalea. "Iya sih memang masih bisa dibilang cucunya meski saudara jauh," gumamnya yang kemudian melajukan kendaraan roda empatnya meninggalkan kediaman orang tua.
***
"Haya!"
"Iya, Ma!"
"Kamu mau ke mana?" Memindai putrinya dari kepala hingga kaki. "Mau keluar? Mau pulang jam berapa kalau pergi abis Magrib begini?"
"Aku cuma mau ke supermarket depan. Mau beli camilan."
"Oh." Fani mengangguk. "Tunggu sebentar. Jangan dulu pergi." Lalu pergi ke dapur.
Cahaya menurut, duduk menunggu di kursi makan sambil bermain ponsel. Mungkin ibunya ingin ikut untuk berbelanja kebutuhan rumah.
"Ini!" Fani menyodorkan kotak makanan.
"Ini apa?" Cahaya mengerutkan dahi.
"Lauk buat makan malam."
"Buat siapa? Aku? Aku ini mau ke supermarket, Ma. Bukan mau piknik."
"Kamu antar sekalian ke rumah Angga sambil keluar. Mama masak banyak tadi."
Cahaya memutar bola mata sambil bangkit dari kursinya. "Mama minta tolong aja sama bibi. Kenapa juga harus aku yang antar?" Ia sebenarnya tidak pernah punya masalah dengan Anggara, hanya saja setelah Azalea ada, ia jadi malas pergi ke sana.
Fani memaksa anaknya untuk menerima. "Bibi lagi sibuk. Udah kamu aja. Jangan banyak protes. Orang sekalian langkah ke depan juga."
"Tapi, Ma—"
"Gak usah tapi-tapi. Orang cuma disuruh anterin doang. Udah sana."
Cahaya berdecak sambil melitik sebal ibu yang masih berdiri di depannya.
"Jangan lupa kasiin tuh! Awas aja kalau kamu buang di tempat sampah."
Cahaya menghentakkan kaki kemudian pergi tanpa bisa membantah.
Fani hanya menggeleng pelan. "Anak jaman sekarang. Disuruh orang tua—susah. Banyak protes. Giliran disuruh sama orang lain—nurut tanpa banyak drama," gumamnya sambil menatap punggung anak. Tetapi kemudian gegas menyusul. "Jangan lupa. Kasiin dulu sebelum pergi."
Cahaya menoleh. Ibu sedang berdiri memperhatikan di teras rumah. Ia awa berniat membawa makanan itu dan memberikannya pada orang lain. Urung karena diawasi. Terpaksa menurut.
Mengetuk pintu rumah yang posisinya tepat di depan. Tak lama terbuka. Senyum lebar seorang gsdis remaja menyambut.
"Tante mau ketemu aku atau daddy?"
"Nih!" Cahaya menyodorkan kotak makanan.
"Ini buat aku?"
"Buat di sini terserah mau kamu atau Deddy kamu yang akan. Kamu nggak usah ke GR. Ini dari mama. Kalau bukan karena disuruh, saya juga males datang ke sini," ketus Cahaya.
"Siapa, Sayang?" Anggara menghampiri. "Haya? Kenapa?"
"Aku disuruh mama anterin makanan," jawab Cahaya.
"Oh. Tolong bilang makasih sama tante," ujar Anggara. Ini bukan kali pertama ibu mertua adiknya tersebut mengirimkan makanan sejak ia pindak ke kawasan tersebut. Sudah sering.
Cahaya mengangguk kemudian berlalu.
Azalea mengikuti, berdiri di pintu pagar menatap punggung wanita itu. "Tante, tunggu!" Ia mengejar.
"Lea, mau ke mana? Katanya lapar. Ayo makan!" Anggara sedikit berteriak.
"Tunggu sebentar, daddy!"