"Tante mau ke mana?"
"Bukan urusan kamu!" jawab Cahaya, tanpa menoleh pada anak perempuan yang ada di belakangnya.
"Mau pergi ya?"
"Gak usah kepo deh. Sana pulang. Anak kecil gak boleh keluar malam-malam. Nanti kamu digondol wewe gombel baru tau rasa."
"Tante kamu mau ke supermarket depan. Kamu mau ikut?" Fani yang masih berdiri di teras rumah menimpali.
"Ma ...!" Cahaya menatap ibu penuh protes.
"Mau, Nek!" Azalea tentu saja mengangguk dengan antusias.
"Ikut lah. Tapi bilang dulu sama daddy kamu," sahut Fani.
"Iya, Nek." Azalea mengangguk. "Aku pamit sama daddy dulu sekalian mau minta uang."
"Eh! Tunggu! Tunggu!" Cahaya menahan tangan anak itu. "Enak aja. Siapa juga yang mau ajak kamu?"
"Itu tadi kata nenek aku boleh ikut."
"Itu 'kan bukan kata saya."
Azalea mengalihkan tatapan pada satu-satunya wanita paruh baya di sana. Menatap penuh harap tanpa kata.
"Sudahlah, Sayang. Ajak aja Lea sekalian. Toh dia juga udah gede. Gak perlu kamu gendong," kata Fani.
Azalea mengangguk setuju beberapa kali sambil menatap Cahaya—memelas.
"Gak ada." Gadis itu memalingkan wajah, jangan sampai tatapan memohon Rubah Kecil itu membuatnya iba.
"Ajak aja. Biar dia juga kenal sama kawasan sekitar sini. Anggap aja jalan-jalan."
"Gak mau. Kan ada bapaknya. Kenapa mesti aku?"
"Udah, kamu gak usah dengerin tante kamu. Sana! Izin dulu sama daddy kamu!" Fani abai dengan tatapan sang anak yang protes.
"Iya, Nek!" Azalea berlari menjauh.
"Eh!" Cahaya tidak sempat mencegah. Menoleh pada ibu. "Mama apa-apaan sih?"
"Apa? Mama cuma nawarin dia ikut kamu dan kebetulan dia mau ikut. Salahnya apa?"
"Ya salah lah, Ma. Orang aku juga gak niat ajak dia kok."
"Ajal aja. Kasian dia tuh jauh dari ibunya. Ayahnya juga kerja. Dia lebih banyak waktu sendiri. Sekali-kali kamu ajak nggak apa-apa."
"Dia yang jauh dari ibunya dan punya ayah yang sibuk kerja, terus aku yang harus tanggung jawab, gitu? Enggak ada urusannya sama aku, Ma."
"Ish! Kamu ini ngomong apa? Siapa juga yang suruh kamu tanggung jawab? Mama cuma minta kamu ajak juga dia sekalian. Gitu aja kok kamu rewel banget."
"Tapi, Ma—"
"Sssttt ... mama gak mau debat sama kamu! Pokoknya kamu ajak Azalea sekalian. Awas aja kalau sampai kamu tinggalin dia di supermarket."
"Aku gak mau!" tolak Cahaya sambil beranjak. Ia harus masuk mobil sebelum anak itu kembali. Tetapi tangannya ditahan. "Ma ...!"
"Apa? Kamu mau kabur? Tunggu sebentar. Tuh anaknya udah ke sini."
Cahaya hanya bisa membuang napas kasar. Anak itu benar-benar merepotkan dirinya.
"Nenek, kata daddy aku boleh pergi. Ini aku juga bawa uang, dikasih sama daddy." Azalea tersenyum lebar. Tubuhnya sudah dibalut jaket.
Fani mengangguk. "Sana masuk mobil. Nanti di sana jangan jauh-jauh dari tante biar gak ilang."
"Iya, Nek."
"Ilang juga dia udah gede. Bisa cari jalan pulang sendiri,'' sahut cahaya dengan lirikan tajamnya.
Fani berdecak sembari menatap sang anak.
"Awas kalau kamu nyusahin saya!" Cahaya mengacungkan jari telunjuk, memberi peringatan keras.
Azalea menggeleng dengan senyum lebar. "Enggak. Janji!"
Cahaya berdecih seraya beranjak, masuk ke mobil.
"Udah sana! Nanti keburu tante kamu berubah pikiran." Fani mendorong lembut punggung anak itu.
"Iya, Nek." Azalea dengan senang hati gegas menyusul, duduk di kursi depan. Tetap tersenyum lebar meski tahu wanita di sampingnya terlihat kesal.
"Gak usah cengar-cengir. Kayak iklan pasta gigi aja," komentar Cahaya sambil melajukan kendaraan roda empatnya.
Azalea tetap tersenyum meski kini tatapannya teralih ke arah depan. "Kemarin sebenarnya aku ajak daddy keluar. Tapi daddy pulangnya malam. Aku jadi gak tega mau ajak daddy pergi," ujarnya.
"Tadi daddy kamu pulang cepat. Kenapa gak ajal dia aja?"
"Tadinya aku ajak daddy juga pergi bareng. Tapi daddy gak mau. Katanya aku aja."
"Maksud saya, kamu ajak daddy kamu pergi, berdua. Bukannya nebeng saya," sebal Cahaya. Untung saja pria itu tahu diri dan menolak.
"'Kan Tante mau pergi. Jadi ya aku ikut Tante aja."
"Kamu mah emang niatnya mau nyusahin saya."
"Enggak kok. Aku kan udah gede. Apa-apa bisa sendiri. Aku cuma butuh ditemenin pergi aja. 'Kan aku masih kecil, butuh pengawasan orang."
"Saya bukan orang tua kamu."
"Tapi Tante bisa kok jadi orang tua aku kalau Tante mau.
"Saya gak mua."
"Aku tunggu sampai Tante mau," balas Azalea.
Cahaya memutar bola mata seraya bergumam, "Anak jaman sekarang memang gak mau kalah kalau ngomong. Ada aja jawabnya."
Azalea mendengar, tetapi memilih untuk tidak menanggapi.
"Turun! Jangan nyusahin saya nanti. Bawa sendiri barang belanjaan kamu!" kata Cahaya saat sudah tiba di tujuan.