"Jangan jauh-jauh." Cahaya menggeleng pelan ketika anak perempuan itu berjalan cepat sambil mendorong troli yang masih kosong. Sementara ia sendiri hanya menjinjing keranjang. "Kayak ibu-ibu mau borong." Berkomentar nyinyir.
"Tante khawatir ya sama aku?" Azalea tersenyum lebar.
"Gak usah GR," kilah Cahaya seraya menyentil pelan kening anak itu. "Saya khawatir sama diri saya sendiri. Nanti saya yang bakal disalahin kalau kamu nyasar."
Azalea hanya mencebik. "Tempat camilannya di mana?"
Cahaya hanya menunjukkan tanpa kata. Mengikuti anak itu sambil mengawasi. "Kayak gak pernah jajan aja." Menggeleng pelan saat melihat anak itu kalap, mengisi troli dengan banyak makanan ringan.
Sambil memilih, ia sesekali melihat Azalea, memastikan bahwa anak itu tak lepas dari pengawasannya. Hingga beberapa saat kemudian, ia terkejut karena Azalea tidak ada di tempat terakhir ia lihat.
"'Kan apa aku bilang. Bawa bocah itu pasti merepotkan,'' gumamnya sambil melangkah cepat, mencari anak perempuan itu. Seharusnya tidak jauh dari tempat semula. "Azalea!" Memanggil sambil mengedarkan pandangan. Tidak terlihat. "Ke mana itu anak?"
Cahaya menyisir etalase demi etalase. "Habislah aku diomelin mama. Mana aku gak punya nomor telpon dia. Apa aku tanya Om Angga aja? Tapi kalau dia tahu anaknya hilang, aku juga yang kena. Emang bener-bener deh itu anak. Udah dibilang jangan nyusahin, malah ngerepotin." Terus menggerutu sambil mencari.
Wanita muda itu terus mencari sambil mengedarkan pandangan hingga melihat sosok tidak asing. Menajamkan indra penglihatan. Gegas mendekat untuk memastikan. "Tadi saya udah bilang, kamu jangan jauh-jauh,'' geramnya sambil menatap kesal.
Dengan santai Azalea menoleh. "Gak jauh-jauh kok. Aku dari sini tadi bisa lihat Tante yang di sana."
"Kenapa gak bilang kalau mau ke sini? Saya itu nyari kamu ke mana-mana."
"Maaf. Aku tadi gak sengaja ke sini. Lagi beli cemilan tapi lihat buah-buahan. Daddy kan sibuk kerja. Sering pulang menjelang malam. Gizinya harus tercukupi. Jadi aku mau beliin buah-buahan buat daddy."
Cahaya tertegun sejenak. Tidak menyangka anak semenyebalkan itu ternyata terlihat begitu menyayangi ayahnya. Ia saja tidak sampai memikirkan hal sekecil itu tentang ayah.
''Kamu itu terlalu cepat dewasa sebelum waktunya. Kayak bisa aja cari buah yang bagus." Komentarnya kemudian.
"Bisa kok. Aku 'kan sambil nyari tahu di internet. Jaman sekarang ini, Tante ... kalau masih bilang gak tau, payah banget. Orang tinggal ambil handphone, cari tahu deh. Internet itu harus dimanfaatkan."
"Kamu ini emang paling pinter jawab."
"Aku memang pintar."
"Kepedean, kamu! Sini, biar saya aja yang pilihin."
"Emang Tante bisa?"
"Ya bisa lah."
Azalea mengangguk. Diam sambil memperhatikan. "Tante!"
"Apa?"
"Kalau Tante suka buah apa?"
"Apa aja suka asal jangan mengkudu."
"Mengkudu?" Azalea menyapukan pandangan. "Di sini gak ada buah mengkudu. Yang kayak gimana? Kenapa gak suka?"
"Katanya jaman sekarang kalau gak banyak tahu itu payah," sindir Amanda.
"Bilang aja Tante emang gak mau ngasih tahu aku."
"Memang. Kamu cari tahu aja sendiri kalau pengen tau."
"Enggak kok. Itu 'kan buah yang nggak Tante suka. Buat apa aku cari tahu?"
"Ya kali aja kamu penasaran."
"Enggak tuh!" Azalea mengangkat bahu.
"Ini kamu mau beli buah sebanyak apa? Kebanyakan juga nanti sayang kalau gak kemakan. Di rumah kamu kan cuma berdua."
"Beli aja yang banyak sama buat besok-besok. Daddy juga kasih aku ini." Azalea memperlihatkan kartu pembayaran sebuah bank.
"Bukan soal uangnya. Saya juga tahu daddy kamu punya uang banyak. Hampir semua orang di negara ini tahu kalau keluarga daddy kamu kamu itu banyak uangnya."
"Terus kenapa Tante gak mau sama daddy aku? Kan daddy aku banyak uangnya, ganteng—lagi."
"Eh malah ke mana-mana. Maksud saya, kalau kamu beli buah banyak-banyak, nanti keburu busuk sebelum dimakan. Yang ada malah kebuang."
"Terus gimana? 'Kan kasian kalau daddy aku nanti jadi daddy-daddy gizi buruk."
Cahaya diam. Ia sering dengar anak dengan gizi buruk. Tetapi ayah gizi buruk? Apa ada? "Udah, kamu beli aja seperlunya. Nanti bisa beli lagi."
"Tante mau nemenin aku beli buah lagi buat daddy nanti?"
Ah, sepertinya Cahaya salah bicara. "Kamu minta daddy kamu temenin. Kenapa harus saya?"
"Daddy kan sibuk, Tante."
"Ya kamu minta temenin ...." Cahaya tidak lanjut bicara, teringat di rumah itu hanya ada Azalea dan ayahnya.
"Temenin sama Tante 'kan?" sambar Cahaya.
"Kamu bisa pesan antar. Tinggal telepon, nanti juga dianterin sama kurir supermarket. 'Kan kamu bilang tadi internet itu harus dimanfaatkan."
Azalea cemberut saat kata-kata itu berbalik padanya.