"Angga?"
"Malam, Tante." Anggara berdiri di depan pintu rumah tetangga.
"Malam."
"Maaf mengganggu."
"Enggak ganggu sama sekali. Ada apa?"
"Azalea ... apa sudah pulang?" Angga sekilas melirik pintu rumah yang terbuka lebar.
"Belum."
"Oh. Saya kira dia gak langsung pulang ke rumah soalnya udah lama belum pulang juga."
"Mungkin mereka jalan-jalan dulu. Gak usah cemas. 'Kan pergi sama tantenya. Kalau ada apa-apa Cahaya pasti telepon."
"Saya khawatir Azalea merepotkan Cahaya."
"Gak usah sungkan. Cahaya juga biasa nemenin cucu tante yang lain. Dia pasti bisa handle. Udah, sini duduk. tante panggilkan om dulu."
"Gak perlu, Tante. Saya—" Anggara belum sempat selesaikan bicara, terdengar suara desing kendaraan yang semakin jelas terdengar.
"Itu mereka pulang," ujar Fani saat melihat mobil putrinya memasuki pekarangan rumah.
Anggara menghela napas. Cemas yang sebelumnya sempat mendera, perlahan menguap.
"Daddy di sini?" Begitu turun dari mobil, fokus Azalea langsung tertuju pada ayah yang tampak ada di rumah itu.
Anggara menghampiri. "Daddy nungguin kamu."
"Iya. Tadi daddy kamu nyariin. Katanya lama belum kembali. Dikira main dulu di sini," sahut Fani yang sejak tadi menemani Anggara mengobrol di teras rumah.
"Mana barang kamu?" tanya Anggara.
"Di sana." Azalea menunjuk bagasi mobil yang baru daja terbuka.
"Kamu pulang duluan. Biar barangnya daddy yang bawa," ujar pria itu lagi.
"Iya, Daddy." Anak remaja itu dengan patuh mengangguk. "Tente, makasih udah ajak aku." Kali ini ditujukan pada tantenya.
"Siapa yang ngajak? Orang kamu yang ikut. Udah gitu maksa pula," sahut Cahaya seraya memeriksa kantung keresek di bagasi, memilah barang miliknya.
Azalea hanya cengengesan. "Nenek, aku pulang dulu. Makasih, ya?!"
"Sama-sama, Sayang. Istirahat gih. Besok main lagi di sini,'' sahut Fani.
"Iya, Nek."
"Gak main lagi juga gak apa-apa," sambar Cahaya, tak peduli bahwa ayah anak itu ada di sampingnya.
"Maaf, aku pasti akan mengecewakan Tante," balas Azalea sambil berlalu.
Cahaya menoleh sekilas. "Dasar tukang ngerepotin," gumamnya.
Anggara menatap punggung putrinya yang masih terlihat hingga suara Cahaya membuatnya menoleh.
"Ini barang punya Azalea."
"Sebanyak ini?" Anggara hampir tidak percaya.
"Om pikir kenapa aku jam segini baru pulang," balas Cahaya.
"Dia pasti merepotkan kamu."
"Banget!" jujur Cahaya.
"Nanti saya bilangin dia biar gak ganggu kamu lagi."
"Harus. Kalau aku yang bilangin, dia sama sekali gak mau denger. Kalau sama Om, pasti dia nurut."
Anggara menghadap wanita muda di sampingnya. "Saya pengen tanya satu hal sama kamu."
"Tanya apa?" Cahaya balas menatap, penasaran.
"Kenapa kamu sekarang panggil saya Om? Ngikutin anak-anak?"
"Enggak juga sih. Kan emang Om udah om-om," sahut Cahaya. Dulu pertama kali kenal, ia panggil dengan sebutan mas. Mengira perbedaan usia tak terlalu jauh. Setelah tahu usia pria itu yang sebenarnya, panggilan pun berubah.
"Memang saya setua itu? Sama Damar aja cuma beda lima tahun."
"Iya. Tapi Mas Damar sama aku beda sepuluh tahun. Om hitung deh tuh beda aku sama Om berapa."
"Tapi kan berarti kamu bisa panggil saya om."
"Memang nggak bisa? Kenapa? Aku suka saya dong mau panggil apa. Lagian anak-anak juga panggil om, Om nggak protes. Kenapa kalau aku yang panggil, Om jadi protes."
"Kamu sama anak-anak itu beda. Dipanggil om sama kamu Saya berasa tua."
"'Kan memang udah tua."
"Cahaya ...." Anggara geram.
Tetapi gadis cantik dengan senyum manis itu justru tertawa kencang. "Aku mau masuk dulu. Om jangan lupa bilangin anaknya tuh. Jangan suka gangguin aku," ularnya kemudian setelah tawa mereda. "Oh iya satu lagi. Kayaknya Azalea butuh ibu. Lebih baik Om cariin dia ibu." Seteleh itu berlalu, menyusul ibu yang sudah sejak tadi masuk rumah.
Anggara menatap sebal gadis itu. Tetapi kemudian mengerutkan dahi. "Butuh ibu?" gumamnya yang tak lama kemudian berlalu. "Anak itu beli apa sih? Kok beratnya beda. Katanya cuma beli camilan."
"Hayo ... Daddy abis ngapain sama Tante Cahaya?"
Anggara tersentak kaget saat membuka pintu dan anaknya tiba-tiba muncul. "Kamu ini sengaja mau bikin daddy jantungan?"
Azalea tertawa. "Daddy aja tuh yang jantungnya oleng abis ngobrol sama Tante Cahaya. Daddy suka ya sama Tante Cahaya?"
"Kamu ini udah pernah tanya soal itu dan daddy juga udah jawab. Pelupa apa gimana?" sahut Anggara. Meletakkan belanjaan di atas meja. Membuka isinya karena penasaran. "Sayang, kamu beli buah sebanyak ini buat apa? Di kulkas juga masih banyak. Memangnya kamu nggak tau?"
"Buat daddy. Nanti aku belikan lagi." Azalea tersenyum lebar. Tentu saja ia tahu bahwa lemari pendingin di rumahnya penuh dengan buah-buahan yang masih segar.