Setelah menikah Hafi dan Steven memutuskan untuk pindah rumah, hal ini dilakukan karena ingin membuktikan bahwa mereka merupakan pasangan baru yang mandiri.
Toh mereka juga sudah membeli rumah seharga ratusan miliar jauh jauh hari.
" Ma.... pa... kami putuskan bahwa kami akan pindah ke rumah yang baru " ucap Steven kepada keluarganya dan keluarga Hafi yang kebetulan sedang berkumpul.
"APA ?!"
Keluarga besar itu langsung terperanjat mendengar penuturan Steven yang secara tiba tiba. Bagaimama tidak ? sepasang suami istri ini baru saja menikah, lalu mereka akan meninggalkan rumah orang tuanya secepat itu ? yang benar saja.
" Iya..... " singkat Steven.
" Kenapa kalian ingin pindah ?" tanya papa Chandra.
" Karena kami ingin mandiri pa " tegas Steven mantap.
"Kalian tidak perlu mandiri, nanti siapa yang akan mengisi kekosongan rumah rumah kami" celetuk mama Rienna.
"Kan ada Loren, lagipula rumah baru itu ngak jauh dari sini kok ma...." jawab Hafi.
"Kan tetep aja ngak serumah, kalo serumah kan asik apalagi nanti udah ada cucunya " ucap mama Lisa menggoda hingga pipi Hafi bersemu malu.
"Mmmm.... Mama ada ada aja"
Dengan segera Steven menggenggam erat tangan istrinya guna mengatasi nerveous mode yang dialami Hafi. Tapi jujur, Steven juga mengalami hal yang sama dengan Hafi. Hanya saja dia lebih pandai menyembunyikannnya.
" Hahahaah tenang aja ma...." Steven tertawa geli melihat Hafi yang menyembunyikan wajahnya pada punggung Steven.
"Gaskeun Steve!" sorak Loren histeris, sehingga suasana jadi sangat heboh, semuanya menertawakan pasangan baru itu.
"Aku kan jadi malu bae.... " bisik Hafi.
"Jangan malu malu bae... kita kan mau punya 5 anak, satu perempuan dan selebihnya laki laki" goda Steven membuat Hafi tambah gemetar. Suaminya itu memang selalu meresahkan dirinya.
"Kamu terlalu meresahkan bae " Hafi tertawa geli.
"Eh.... kalian ngapain bisik bisik gitu ?" tunjuk papa Alex kepo.
"Ih... papa ini kayak gak pernah jadi pengantin baru aja! biasa lah... soal itu tu... " sahut mama Rienna.
Sontak Steven dan Hafi langsung menutupi wajah masing masing menggunakan tangan, hal itu membuat semuanya tertawa terpingkal pingkal.
"Apa kalian serius mau pindah?" pertanyaan papa Chandra sontak membuat semuanya hening seketika.
"Iya pa... kami sudah memantapkan diri untuk pindah" gumam Steven.
"Aduh... Terus kapan kalian mau pindah?" keluh mama Lisa.
"Kami mau pindah sekarang ma" terang Hafi.
Lagi lagi mereka membulatkan mata karena keputusan itu dianggap sangat mendadak.
"Kok mendadak banget kan gak etis ...... please kalian tinggal disini aja dulu buat sehari ini aja" pelas mama Lisa memperlihatkan wajah memelasnya.
Hafi dan Steven saling pandang, Steven mengedipkan matanya pelan seolah memberi kode padanya hingga ia mengangguk paham.
"Oke ma... kami bakal tinggal disini sehari lagi".
Keesokan harinya....
Sore itu Hafi dan Steven sangat disibukkan dengan perlengkapan yang akan mereka bawa ke rumah baru.
Terutama Hafi yang notabenya adalah seorang wanita, jadi sangatlah ribet, mulai dari pakaian hingga tas tas branded yang menjadi koleksinya beberapa tahun terakhir ini.
"Bae barang barang kamu banyak banget " Steven terkejut.
"Ya iyalah.... kamu kayak orang baru tau aja, aku kan sekarang hobi ngoleksi " cemberut Hafi sambil berkacak pinggang.
"Yee dasar emak emak rempong" Steven mengatai Hafi dan mengacak acak rambut istrinya dengan gemas.
"Apa kamu bilang ? emak emak? enak aja! kamu tuh yang bapak bapak ! rambut aku pake di acak segala lagi" dengus Hafi seraya merapikan rambutnya.
"Dasar emak emak!"
"Bapak bapak !"
"Uuuuu"
"emak emak ..."
"bapak bapak..."
"Kamu tuh "
"kamu !"
Diantara semaraknya keributan yang mereka ciptakan, datanglah mama Lisa secara tiba tiba untuk memantau keadaan.
" Kalian lagi ngapain sampe teriak teriak begitu!" tegur mama lisa kebingungan.
"Dia bilang aku bapak bapak ma" Adu Steven seraya bersembunyi di belakang Lisa.
" Enak aja, kan kamu yang manggil aku emak emak duluan!" ketus Hafi.
Mama Lisa menggelengkan kepalanya dengan berusaha menahan tawa. Pengantin baru yang satu ini semakin hari semakin aneh.
"Ehh udah udah kalian ini ngapain? ayo cepet damai!" tegas
Mereka pun saling lirik Steven mengedipkan sebelah matanya.
"Maafin aku ya bae " Steven memeluk Hafi.
" Maafin aku juga bapak bapak" ucapan Hafi membuat mama Lisa menahan tawa sementara Steven langsung menatap Hafi tajam.
" Enggak kok bae yang ganteng aku becanda kok" Hafi mempererat pelukannya dan menenggelamkan kepalanya du d**a sang suami.
"Nah gitu dong.... kan enak diliat"mama Lisa melipat tangannya di d**a.
"Udah siap semuanya kan ?" tanya Steven.
" Udah dong, ayo kita keluar " Hafi menggiring bawaannya diikuti Steven dan mama Lisa dari belakang.
••••
Mobil mereka terparkir pada sebuah rumah mewah dengan harga ratusan Miliar. Rumah itu tak lain adalah milik mereka sendiri yang sudah dibeli Steven jauh jauh hari sebelum keduanya berucap janji.
"Akhirnya nyampe juga " Hafi menghela nafas panjang dan langsung melepar pantatnya di sofa empuk.
"Kamu capek bae? aku bakal bikin kamu gak capek lagi" bisik Steven.
"Mmmm tempatnya nyaman ya" Hafi berusaha mengalihkan suasana agar tidak canggung dengan ucapan Steven barusan, karena ia tau ada maksud terselubung dari kata kata Steven barusan.
"Ya iyalah kan cuma ada kita berdua, jadi kita bisa bebas sebebas bebasnya " Steven menatap Hafi dengan tatapan aneh.
Hafi menggeliat dari rangkulan Steven. Ia tau sekarang jiwa kemesuman suaminya sudah muncul, jadi ia harus waspada. Predator itu bisa menyerangnya kapan saja, bahkan sekarang juga bisa.
"Sory bae, aku mau mandi dulu udah bau nih dah...." Hafi meninggalkan Steven segera.
"Bae !".
"Yah.... dia pergi ..."
Steven menyeringai seraya mengikuti Hafi ke lantai atas lalu duduk di atas ranjang seraya berpura pura fokus membaca sebuah koran padahal matanya sedari tadi hanya setia memantau Hafi agar segera keluar dari kamar mandi.
"Tunggu aja bae, kamu gak akan bisa kabur ..."