Semua masalah telah kita hadapi berdua.... Sekarang tinggal kita menikmati indahnya kebersamaan dengan cinta
Hafi dan Steven
Hafi menghembuskan nafas lega setelah bersih bersih rumah baru. Sementara itu Steven tengah asik membaca novel karya Hafi berjudul SOLO AGAIN? yang kebetulan baru terbit kemaren.
Hafi hanya menyunggingkan bibirnya melihat ekspresi Steven yang sangat serius mendalami makna kata per kata bacaannya.
Novel itu berisikan kisah seorang wanita dan seorang laki laki yang menghadapi tantangan percintaan sejak masih SMA sampai mereka telah menikah. Setelah itu muncul pula masalah lain dengan kecelakaan si wanita dan pria itu hidup sendiri.
Tak tega memanggil suaminya Hafi lebih memilih untuk menyiapkan makan untuk Steven tercinta.
Dia segera berlari ke dapur dan mulai mengolah bahan bahan yang tersedia, mulai dari
memotong bawang merah sampai memotong seledri.
Tiba tiba ada sepasang tangan yang memeluknya erat pinggang kecilnya dari belakang, siapa lagi kalau bukan suami manjanya (Steven).
Hafi yang sedang sibuk itu langsung tersenyum merasakan hangatnya pelukan Steven.
Begitu juga dengan Steven, dia menyandarkan kepalanya di pundak Hafi. Rambut panjang istrinya yang tergerai indah menyapu wajah tampannya.
"Kamu lagi masak ya bae ? " tanya Steven manja.
"Iya lah bae masa nyuci piring !" Hafi menggelengkan kepala mendengar pertanyaan bodoh Steven.
" Pantesan wangi.... " Steven memuji.
" Wangi apanya, lo wong belum ada yang aku masak kok, dari mana datang wanginya ?" Hafi menggerutkan kening.
"Yang wangi emang bukan masakannya tapi chefnya" tutur Steven dengan penyakit lama yang kambuh kembali.
"Ahh gombalin aja terus ....." gumam Hafi sambil terus bekerja dalam pelukan Steven.
"Kamu suka kan ?" tanya Steven dengan membisikkannya ke telinga Hafi.
"Ihh apaan si... pergi mandi sana! kamu bau... " Hafi menggeliat untuk melepaskan pelukan Steven. Ia berkata seperti itu bukan karena Steven berbau, tapi karena takut tak bisa menyelesaikan masakannya karena ulah Steven.
"Ngak mau..... aku masih seneng disini ....." Steven berlagak seperti anak kecil yang tak infin ditinggal oleh ibunya.
"Jangan merengek kayak anak anak Steven Youne... mandi sana gih ! kalo enggak akan aku suapin kacang mentah nih !" ancam Hafi dengan tangan yang mulai mengambbil toples berisi kacang tanah.
Melihat sebutir kacang tanah yang sudah berada di jari Hafi membuat Steven merinding karena dia adalah orang yang pobia terhadap kacang dan sejenisnya.
"Jangan.... aku bakalan mandi kok bae" Steven mencium pipi Hafi lalu bergegas ke toilet sebelum pingsan akibat kacang tanah.
20 menit kemudian....
Steven yang selesai membersihkan dirinya itu segera berlari menuju dapur dengan style kaos + celana pendek.
"Udah mateng ?" Steven duduk di meja makan karena merasa tak sabar ingin mencicipi sup cinta dari Hafi.
"Udah nih " Hafi meletakkan sup iga spesial diatas meja makan lalu duduk dihadapan Steven.
Wanita itu pun mengambilkan makanan untuk suami tercintanya. Steven langsung tersenyum sebelum ia benar benar menyantapnya dengan lahap.
"Masakan kamu terlalu enak bae, aku tidak kuat " Steven berakting sembari memegangi dadanya sambil tersenyum.
"Saking enaknya sampe kamu sekarat! gitu" kekeh Hafi melihat tingkah absurd Steven yang tak pernah berubah sejak pertama kali mereka saling kenal.
"Iya, rasanya kek kek mau meninggal gitu" balas Steven menirukan gaya gaya alay orang orang di media sosial.
"Bae.... kamu terlalu alayers sekarang...!" ejek Hafi.
Tawa keduanya langsung meledak seketika.
"Abis ini kita pergi ya " ajak Steven do tengah tengah bahakan mereka.
"Lah... mau kemana ?" keluh Hafi yang sepertinya masih ingin istirahat.
"Ada.....lah pokoknya" jawab Steven santai.
"Enggak ahh males " tolak Hafi.
"Aduh please kita kan pengantin baru.... masa gak ada liburan mau yah ..... kan lagi cuti " pelas Steven dengan menirukan gaya Hafi saat istrinya itu meminta sesuatu padanya.
Karena tak tega melihat puppy eyes yang dimiliki Steven, akhirnya Hafi mengangguk.
"Oke .... Oke... My Bae"
••••
"Duh ini mau kemana si .... dari tadi kok ngak nyampe nyampe?" omel Hafi. Matanya tak henti henti memandang ke jendela karena tak sabar untuk sampai ke tujuan yang dimaksud Steven.
Tanpa menghiraukan ocehan Hafi, Steven pun memberhentikan mobil mewahnya tepat di depan rumpunan ilalang yang tingginya mencapai dua meter hingga ia tak mengerti maksud suaminya membawajya ke tempat aneh dan sepi seperti ini.
"Bae... kok kamu berhenti disini? Tempatnya sepi banget aku takut... gimana kalo ada orang jahat yang bunuh kita... bae... ayolah kita cari tempat yang ramai sedikit..." keluh Hafi panjang lebar.
Seteven hanya diam, pria itu pun langsung menutup mata Hafi menggunakan tangannya.
"Steven kamu..." bentakan Hafi tiba tiba terpotong dengan suara berat Steven.
"Bae... kamu pasti tidak akan menyesal dengan semua yang aku tunjukkan ini, kita hanya perlu berjalan lurus untuk menemukan sesuatu yang damai".
Hafi terdiam, sebenarnya rencana apa yang akan dilancarkan Steven ? Daripada hatinya terus berkecamuk untuk menebak, lebih baik dia menuruti perintahnya saja.
Setelah istrinya diam, pelan pelan Steven menggiring Hafi berjalan kedepan diantara celah celah rumpunan ilalang yang membelah seolah memberi jalan untuk sepasang insan tersebut.
Setibanya di tempat tujuan, Steven langsung melepaskan tangannya dari mata Hafi.
"Sekarang buka mata kamu" ujarnya sambil tersenyum.
Hafi membuka matanya perlahan, tampaklah sebuah aliran sungai yang di tepiannya dikelilingi bunga bewarna warni yang tengah bermekaran dan reruputan hijau meyambut mereka.
"SUNGAI...." Hafi langsung berlari ke bibir sungai dan duduk di tepian.
"BAE TUNGGU!" kejar Steven. Pria itu tau, sedari kecil Hafi memang sudah tergila gila dengan sungai yang katanya bisa membuat dirinya tenang.
Mereka pun berbaring diantara hamparan rumput rumput indah. Kebetulan cuaca tidak begitu panas hari itu.
" Kamu menyukainya ?" tanya Steven.
"Iya, aku sangat tergila gila dengan pemandangan asri yang diberikan sungai ini, lihatlah bunga bunga yang tubuh disini... sangat cantik bae" balas Hafi.
"Karena itu tadi aku ngajak kamu kesini bae" Steven bangun dari posisi berbaringnya.
"Kok bangun ?" tanya Hafi heran.
Steven tersenyum simpul seraya mengulurkan tangannya.
"Mau ikut?"
"Kemana ?"
"Ayo ikut aja ....."
Steven menarik tangan Hafi dan memboyongnya ke sebatang pohon yang dibawahnya sudah bersandar sepeda dengan dua pedal.
Steven menaiki bagian depan dari sepeda itu.
"Ayo naik!" ajaknya.
Hafi terkekeh, keromantisan yang dibuat Steven memang tidak ada duanya di hati. Setiap hari pasti selalu ada saja hal yang membuat dirinya kagum dengan pria itu.
Mereka menggayuh sepeda mengelilingi sungai Lei dengan senyuman tak berhenti terulas hingga tanpa Hafi sadari Steven telah berhenti pada sebuah restoran yang terletak tak jauh dari sana.
"Kamu laper?"
"Kamu tau aja bae..." Hafi memegang perutnya yang keroncongan.
"Oke, sekarang ayo masuk " ajak Steven sambil memakirkan sepedanya disana.
Steven ternyata sudah membooking restoran itu dengan hidangan yang akan mereka santap di rooftop.
Betapa terharunya Hafi melihat keindahan dekorasi ditambah pemandangan indah sungai Lei dari atas rooftop.
"Wah makasih ya bae..... " Hafi memeluk Steven kegirangan.
"Apapun untukmu permaisuriku" Steven menunduk seperti pangeran yang akan mengajak berdansa seperti di film film barbie.
Indahnya sore ditemani dengan dekorasi yang indah dan pemandangan yang sangat cantik menambah romatisnya hari hari pertama mereka memulai bahtera kehidupan.
Hafi mencium bibir Steven, semua yang ada disana menjadi saksi mati cinta mereka.
"I love you bae...".