Hafi dan Steven sampai di rumah sudah agak larut malam, mereka langsung merebahkan badan di sofa sambil sesekali mengelap keringat di dahi masing masing.
"Fiuh.... capek banget aku bae..."
Hafi melirik Steven yang tampak memejamkan matanya. Perlahan pria itu membuka matanya lalu memandang Hafi dan mengelus lembut puncak kepalanya.
"Sama bae, tadi kita mainnya terlalu jauh" sahut Steven. Sesekali ia menguap karena terlalu mengantuk. Matanya pun hampir saja terpejam sempurna.
"Bae.... tidur yuk!" Steven menggenggam erat tangan Hafi untuk ikut dengannya ke kamar.
Hafi mengangguk lalu berdiri mengikuti langkah suaminya menuju kamar untuk melepas penat setelah seharian berdua mengelilingi kota.
"Yuk ! aku juga udah capek banget nih" Hafi memegang megang tengkuknya yang terasa berat.
Mereka berjalan sempoyongan menuju kamar. Setibanya disana Steven langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur bersama Hafi.Perlahan mata mereka mulai terpejam dan akhirnya tertidur lelap.
Ting ting ting ting ting .......
Terdengar deringan ponsel Hafi yang sangat keras sehingga mereka berdua terbangun dari mimpi masing masing.
"Duh siapa sih yang nelfon malem malem gini ...." keluh Hafi sambil menolak panggilan tanpa melihat dulu siapa yang menelepon.
" Ngeganggu tidur cuti orang aja" timpal Steven memperbaiki posisi tidurnya dengan mempererat pelukannya pada Hafi. Perlu diketahui bahwa pria yang satu itu memang tidak bisa tidur kalau tidak memeluk sesuatu.
Namun beberapa saat kemudian ponsel milik Hafi kembali berdering. Merasa kesal akhirnya Hafi mengangkatnya panggilan yang ternyata datang dari pihak rumah sakit.
"Halo... " sapa Hafi dengan nada khas bangun tidur.
"Halo dokter..." sapa Lena yang merupakan suster kepercayaan Han Hospital.
"Iya Lena... ada apa ?" tanya Hafi khawatir karena tidak biasanya Lena memanggilnya dengan logat panik seperti itu.
"Apa dokter bisa ke rumah sakit sekarang ?" tanya Lena agak sedikit segan karena ia tau Hafi baru saja menikah 2 hari yang lalu.
"Memangnya ada apa ? saya kan lagi cuti" balas Hafi.
"Ada seorang pasien yang akan dioperasi dok, dia menderita penyakit langka dan hanya dokter yang bisa menanganinya, kalau dokter tidak mengoperasinya kami tidak tau apa yang akan terjadi pada pasien itu" jelas Lena penuh harap.
"Oh benarkah ?!" Hafi terbelalak sekaligus prihatin dengan pasien itu. Lagipula menolong orang lain jauh lebih berarti baginya dari urusan pribadi.
" Iya dok" angguk Lena.
"Baiklah saya akan kesana sekarang, ditunggu ya.. " Hafi menutup telfonnya segera dan langsung beranjak dari ranjang.
" Siapa barusan ?" Steven ikut terbangun karena Hafi tadi melepas pelukannya.
" Itu..... ada pasien yang operasi mendadak " jelas Hafi sembari mengenakkan pakaian dokter dan jaketnya.
Kening Steven berkerut tanda tak paham dengan istrinya yang sudah mengambil cuti. Tapi mengapa bisa ia masih ditugaskan di rumah sakit ? Bukankah Hafi berhak libur dari kesibukannya?.
" Loh... bukannya cuti, kok kamu yang ngoperasi ? kan ada dokter lain " tandas Steven tak suka.
"Apa kerjanya dokter lain kalau Mereka masih nyuruh kamu buat kerja?" lanjut Steven penuh emosi. Jujur, ia begitu emosi dengan orang orang yang selalu tak kompeten dalam pekerjaannya.
Hafi tersenyum, salah satu tangan mungilnya memegang lembut pipi Steven yang sudah menggembung karena cemberut.
"Ada bae... tapi yang bisa menangani pasien itu cuma aku aja jadi aku harus pergi sekarang" Hafi berbalik hendak keluar dari kamar.
Steven langsung bangkit dan memeluk Hafi dari belakang. Seketika wanita itu tersentak dengan pelukan yang seolah olah membawa perasaan aneh.
"Kamu hati hati ya " bisik Steven.
Hafi menghela nafasnya perlahan.
"Pasti bae, kamu juga baik baik disini ya, gih tidur... kamu kelihatan capek banget" Hafi mencium Steven yang mulai cemberut dan merasakan suatu kegelisahan.
"Cepet baliknya ya " Steven membalas ciuman Hafi.Entah apa yang menyebabkan Steven mempunyai firasat buruk akan Hafi. Hatinya ingin agar Hafi tetap dirumah, namun apalah daya dia tidak bisa berbuat apa apa.
" Aku pergi.... " Hafi melambaikan tangan.
Steven hanya menatap punggung Hafi dengan nanar hingga punggung itu menghilang dari tatapannya.
"Semoga kamu baik baik saja bae... " lirihnya.
Sementara itu ......
Hafi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar dia bisa datang tepat waktu.
Namun dia juga merasakan kejanggalan pada suaminya. Ada sesuatu yang berat di hatinya tapi ia tak tau itu.
" Aneh... tidak biasanya bae berbicara seperti itu denganku" gumam Hafi.
Tak lama kemudian dia pun sampai di rumah sakit dan segera menuju ruangan operasi menyusuri koridor demi koridor yang tampak gelap seraya berlari.
"Untung dokter cepat datang...." sambut beberapa suster yang sedang bertugas.
"Iya... aku akan segera ke ruangan operasi " Hafi berjalan kearah ruangan itu dengan menggunakan baju khusus dan segera menangani pasiennya.
Perlahan tapi pasti, dengan segala ketelatenannya Hafi mulai mengangkat sel sel kanker yang mengganas itu. Peluh peluh di dahinya mulai bercucuran mengingat ada nyawa yang harus dia selamatkan hari itu.
Butuh waktu 3 jam untuk mengoperasinya hingga pada jam 2:30 am operasinya selesai dan berjalan dengan lancar.
Hafi keluar dari ruangan operasi dengan penuh senyuman, diluar telah menunggu beberapa orang anggota keluarga pasien yang siap menghantam Hafi dengan ribuan pertanyaan.
"Bagaimana keadaan anak saya dok ?" tanya ayahnya.
"Operasinya berjalan lancar dan anak bapak baik baik saja, untuk sekarang dia masih belum sadar tapi besok pagi kalian sudah bisa mengunjunginya" terang Hafi.
"Oh syukurlah, terimakasih dokter.... kalau tidak ada dokter Hafi mungkin nyawa anak kami tidak bisa diselamatkan" tangis si ibu pasien.
"Ibu.... bukan saya yang menyelamatkan anak ibu, tapi Tuhanlah yang memberikannya kesempatan untuk berkumpul dengan kalian lagi" kata Hafi bijak.
Kedua manusia paruh baya itu saling pandang satu sama lain, mereka sangat bahagia bisa bertemu dokter hebat sebaik Hafi yang mampu menghargai orang lain tanpa rasa gengsi.
"Dokter memang orang yang sangat baik.... terimakasih banyak dok" ucap si ayah pasien.
"Iya sama sama, kalau begitu saya permisi dulu bapak, ibu" pamit Hafi.