Hafi memasuki ruangan khusus untuk para dokter berkumpul.
Disana sudah sangat banyak dokter yang berbincang mengenai kelihaian Hafi menangani pasien.
Mereka tak menyangka dokter semuda Hafi bisa melakukan hal hal yang bahkan senior di rumah sakit sekalipun tak pandai menanganinya.
"Halo" sapa Hafi sembari memasuki ruangan dan menutup pintu secara perlahan.
Para dokter itu membalas sapaan Hafi dengan membungkukkkan badan. Ya, begitulah mereka saling hormat dengan sesama dokter di sana.
"Apa operasinya udah selesai Haf?" tanya dokter Jian.
"Udah dok operasinya juga berjalan lancar" balas Hafi disertai senyuman khasnya.
Semuanya pun langsung menghela nafas lega, karena tadi suasana sangat menegangkan sebelum Hafi datang untuk menangani semuanya.
"Maaf ya Hafi... gara gara telfon dari kami, tidur cuti kamu keganggu" dokter Hana menepuk nepuk bahu Hafi pelan. Sudah tersirat ekspresi iba di wajahnya karena ia tau bagaimana rasanya meninggalkan suami di hari hari pertama pernikahan. Itu sangat memprihatinkan.
Hafi menggelengkan kepalanya dan menatap semuanya. Wajahnya yang teduh mampu membuat siapa saja menjadi tenang.
"Kalian tidak perlu merasa bersalah sama aku, semua ini sudah menjadi tugasku, so... bukankah membantu orang adalah kebahagiaan kita ?" ucap Hafi penuh kebijakan.
Lagi lagi para dokter itu dibuat kagum untuk kesekian kalinya dengan Hafi, si dokter muda berhati sebening kristal.
"Wah kamu memang hebat Fi" puji dokter Rei.
"Bukan aku yang hebat, tapi kita semua " Hafi menundukkan kepalanya tanda menghargai sang senior.
"Oke, sekarang tugasku sudah selesai kan ?" tambah Hafi kepada seluruh rekan kerjanya.
Mereka mengangguk serentak, lagipula tidak enak juga mengganggu pengantin baru seperti Hafi.
"Sekali lagi makasih banget ya Fi, kamu udah mau nolongin kita dan pasien itu" celetuk dokter Lana.
"Iya sama sama.... kita sesama manusia kan emang harus tolong menolong ... dalam keadaan apapun " jelas Hafi bijak.
"Bener banget tuh, ngak kebayang deh kalo ngak ada kamu tadi " timpal dokter Nay.
"Oke... kalo begitu aku pulang dulu ya" ijin Hafi.
"Oke... kamu hati hati ya..."
Ucap seluruh yang ada di ruangan itu.
"Pasti itu mah....." Hafi melangkahkan kakinya menuju pintu sambil melambaikan tangannya seperti orang yang tidak akan kembali lagi.
Hal itu dirasakan oleh teman temannya, mereka merasakan sesuatu yang tidak enak akan kepergian Hafi barusan.
Hafi berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sepi karena malam memang sudah sangat larut. Angin malam berhembus menyibak surai panjangnya yang bewarna hitam pekat mengkilap.
Kaki jenjangnya berjalan sangat cepat menuju parkir yang sudah sangat sepi. Dengan segera ia memasuki mobil. Menghidupkan kontak dan mulai membawa mobilnya menjauhi area rumah sakit.
"Bae... tunggu...aku akan kembali" batin Hafi.
Mobil itu melaju sangat kencang karena Hafi sudah tidak sabar bertemu dengan suaminya.Hafi melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 03:15 am.
" Uhh baru beberapa jam pisah udah kangenan aja sama bae... emang aku ngak bisa jauh dari dia selamanya " Hafi senyum senyum sendiri sembari mengendalikan mobilnya memecah kesunyian jalan.
Sinar lampu mobilnya berbaur dengan rimbunnya pepohonan dan dalamnya jurang disebelah kiri jalan.
Hafi bergidik ngeri ketika melewati jalan yang dikelilingi jurang itu. Karena menurut rumor yang beredar, tempat itu sering dijadikan para perampok untuk berkumpul dan memberhentikan mobil siapapun yang lewat.
Para Perampok itu tidak akan segan untuk membunuh korbannya dengan cara yang sadis setelah mereka mendapatkan semua yang diinginkan. Bahkan mereka juga sering memutilasi bahkan menjual organ organ tubuh korbannya.
"Semoga aku ngak ketemu sama mereka" gumam Hafi takut takut.
Ternyata kenyataan tidak sesuai dengan harapan penuh wanita itu. Rumor yang selama ini hanya ia dengar dari mulut ke mulut ternyata memang benar adanya.
Matanya menangkap sekomplotan perampok yang sudah berdiri ditengah jalan dan menghalaginya dengan berbagai benda membahayakan di tangan.
Mobil Hafi langsung berhenti mendadak dan para perampok yang membawa senjata tajam itu langsung berjalan kearahnya. Wajah mereka tampak sangat menakutkan.
Tato tato berbagai bentuk yang menempel di tubuh mereka berhasil membuat Hafi ingin mual saking jijiknya dia dengan tato.
"Eh ayo keluar lo !" seru salah seorang dari mereka yang memegang balok kayu.
"Woi keluar woy !" teriak seorang yang berambut plontos.
Perlahan keringat mulai bercucuran di kening Hafi, sekarang dia tidak tau apa yang harus diperbuat.Jika dia keluar berarti dia rela dibunuh nantinya. Jujur, wanita itu kalang kabut.
" Aduh gimana nih..... mereka banyak banget lagi".
"WOI KELUAR NGAK LO! ATAU KITA ANCURIN MOBIL INI !" teriak yang berbadan paling besar diantara komplotan itu.
"Woi keluar !"
"Mau cari mati Lo !"
"Dia cewek! bisalah buat main main bentar !"
"Iya ! lepas itu bisa dibunuh aja, sekalian mutilasi ntar ginjalnya dijual"
"Lumayan duitnya buat ke bar !"
Hafi benar benar berada dalam keadaan genting dan tidak tau harus berbuat apa. Sementara hp nya sendiri low bat ketika hendak menghubungi Steven.
Ucapan ucapan yang terlontar dari mulut mereka menambah sensasi menakutkan bagi Hafi.
" Aduh hp pake low bat lagi... gimana nih " Hafi menangis sambil mengacak rambut frustasi.
Ketika salah seorang dari perampok itu ingin melayangkan baloknya ke kaca mobil, Hafi langsung tancap gas. Komplotan itu cukup terkejut dengan perlakuan Hafi hingga mereka menghindar untuk menyelamatkan diri.
"Woi dia kabur, ayo kejar !"
Mereka pun menaiki motor masing masing lalu mengejar mobil Hafi.
" Duh mereka ngikutin lagi.... " rengek Hafi yang semakin mempercepat laju mobilnya sampai kecepatan maksimal.
Hafi terus menoleh ke belakang hingga ia lupa sedang mengendarai mobil dalam kecepatan abnormal. Mobil mewah itu pun hilang kendali.
Malang tak dapat dihindarkan, untung tak dapat digapai, mobil Hafi masuk ke jurang yang sangat dalam, terguling guling lalu meledak sepersekian menit kemudian.
Perampok perampok itu langsung membulatkan matanya melihat mobil mewah dan pemiliknya sudah berubah menjadi abu di dasar jurang.
Mereka lebih memilih untuk melarikan diri sebelum polisi mengetahui mereka yang menyebabkan semuanya terjadi.
"Wahh tu mobil meledak, gimana nih ?"
"Ihh kebakar !"
"Kabur aja woi !"
"Ayo ! sebelum polisi nangkep kita"
Mereka langsung kabur dari lokasi kejadian tanpa memikirkan Hafi yang tak tau nasibnya seperti apa.
Sementara itu....
Sedari tadi sejak kepergian Hafi untuk ke rumah sakit, Steven tidak bisa tidur. Pria itu hanya berguling guling di kasur dengan frustasi.
Perasaannya tidak enak. Dia merasa ada sesuatu yang telah terjadi pada istrinya Hafi karena tidak mungkin istrinya bermalam di rumah sakit.
Ia sudah beberapa kali menghubungi Hafi namun hpnya tidak aktif hal ini semakin membuat Steven cemas.
Nomor yang anda tuju tidak aktif atau berada di luar jangkauan.....
" Aduh Hafi mana ya ? kok gua khawatir gini sih .... semoga gak terjadi sesuatu sama dia " harap Steven.
Steven berdiri, lalu mondar mandir sambi memijit pelipisnya. Sesekali mata mono eyelid nya memandang ke arah jam dinding yang terpampang di dinding kamar.
Pukul 03:56 am, tapi tak ada tanda tanda kepulangan Hafi. Steven mencibuk kearah jendela sambil melayangkan pandangan ke halaman depan rumah mewah itu, namun sepertinya ia tak menemukan apapun.
"Bae.... kamu dimana ?".
Untuk mengatasi ketegangan yang meledak di pikirannya Steven pun memilih menghidupkan televisi dan duduk di lantai saking tidak konsentrasinya. Alih alih menonton, dia tertidur sendiri karena terlalu mengantuk.
••••
Mentari pagi sudah menyapa,burung burung bernyanyi ria menyambut segarnya pagi yang menjadi candu bagi setiap orang karena kedamaiannya.
Steven masih tidur dengan kondisi tertelungkup di lantai dan televisi yang masih hidup dari semalam.
Steven aku pergi dulu ya...
aku pergi ke surga dan selamat tinggal ....
Aku yakin kamu pasti menemukan yang terbaik dariku
Jadi aku mohon lupakan aku
Good bye bae...
"TIDAK !..... HAFI.... ! " Steven berteriak histeris dan segera terbangun dari tidurnya. Pria itu menghela nafas lega ketika mengetahui itu hanyalah sebuah mimpi buruk yang tak boleh terulang lagi.
"Untung hanya mimpi" lirih Steven sambil mengusap usap dadanya lalu melamun.
Sebuah mobil mewah terjatuh ke jurang sekitar pukul 03:18 dini hari. Keadaan mobilnya hancur karena terbentur sangat keras lalu terbakar. Korban jiwanya diketahui seorang wanita yang berprofesi sebagai dokter dengan inisial HF ......
Suara berita tiba tiba memecah lamunan Steven. Dia langsung teringat Hafi dengan berita pagi itu.
" Hafi ? dimana dia "
Steven menyusuri setiap sudut rumah, namun tidak menemukan tanda tanda adanya sang istri.
Seketika ucapan ucapan yang dilontarkan pembawa berita tadi terngiang ngiang di otaknya.
Perlahan pikiran negatif mulai menggerogotinya, dadanya sesak kakinya gemetar. Ada perasaan tak enak sekarang.
Tiba tiba ponselnya berdering, Steven dengan malas berjalan mencari ponselnya yang ia letakkan di sembarang tempat.
"Halo" sapa Steven datar.
"Halo, bisa bicara dengan Tn. Steven Youne?" tanya kepala kepolisian.
Steven menggernyitkan kening. Rasanya ia tidak pernah memanggil polisi beberapa hari terakhir seperti ini. Tapi mengapa polisi mencarinya secara tiba tiba?.
"Ya ... saya sendiri, memangnya ada apa pak ?"
"Begini... kami menemukan mobil yang hangus di dasar jurang di duga itu adalah mobil milik dokter Hafine Foulie istri tuan" jelas kepala kepolisian.
Ucapan polisi barusan terdengar seperti sambaran petir di telinga Steven. Sungguh, pria itu tidak percaya. Hafi yang semalam hanya minta izin untuk pergi ke rumah sakit tak mungkin pergi untuk selamanya.
"Bapak jangan bercanda pak... saya tidak suka bercandaan bapak ! " tandas Steven dengan sedikit bentakan.
"Saya tidak berbohong Tn. Steven Youne jika tidak percaya, anda bisa datang ke lokasi kejadian dan saya akan mengirim lokasinya sekarang juga" terang kepala kepolisian.
Suara Steven melemah, bulir air mata mulai membasahi pipinya, dia benar benar shock dan berasa di alam mimpi. Ponselnya terjatuh, tanpa respon apapun dia juga tersungkur ke lantai.
"Istri saya tidak mungkin.... ".
"Halo Tn. Steven.... halo... apakah anda masih tersambung dengan kami ? halo ?...."
Polisi sudah berteriak teriak di dalam ponsel namun tak ada respon dari Steven yang membeku di tempat.
Mata Steven tidak bisa berkedip memerima kenyataan pahit ini.Karpet yang berada dibawahnya itu sudah lusuh karena dicengkeram.
" Hafi.... apa benar kamu ...." Steven tidak kuat menahan air matanya yang semakin banyak. Tubuhnya gemetar dan tak mampu tuk berdiri lagi.
Matanya melirik kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 08:30 pagi. Steven mengumpulkan tenaga untuk berdiri dan segera menuju lokasi kejadian.
••••
Mobilnya melaju diatas rata rata seolah tidak lagi memperdulikan hidupnya sendiri. Jengkal tiap jengkal jalanan ia lalui dengan jengkel karena dia telah menelepon pihak rumah sakit namun mereka hanya mengatakan bahwa Hafi sudah pulang tadi malam.
" Hafi.... dimana kamu ? aku harap bukan kamu yang mengalami kecelakaan itu " Steven mengacak rambutnya frustasi.
Mobilnya langsung terparkir di pojokan pohon yang dibawahnya terdapat jurang dalam yang dapat membuat yang masuk dipastikan tidak akan selamat.
Suasana dingin dan begitu aneh terasa benar benar tidak bersahabat dengan kulit Steven.
Ia menghembuskan nafas kasar ketika polisi mulai menghampirinya.
"Anda Tn. Steven Youne kan?" tanya polisi yang membawa pulpen dan sebuah nota.
"Iya, saya memang Steven " gumam pria itu dengan ekspresi sedatar mungkin.
"Mari ikut saya tuan " polisi itu menggiring Steven untuk turun ke lokasi kejadian.
Steven hanya mengikuti aba aba yang dikatakan polisi dengan raut wajah yang sengaja dibuat tegar.
Dari kejauhan Steven sudah bisa melihat seoonggok abu yang tampak memprihatinkan di dasar jurang.
"Itu gak mungkin Hafi..." Steven tersenyum miris.
Perlahan di dekatinya abu yang telah dikelilingi garis polisi. Mata monoeyelidsnya mulai berlinang setelah menemukan sebuah cincin berlian yang tak hangus terbakar. Disana tertulis nama 'Hafi and Steven'.
Steven menggenggam erat cincin itu. Tidak disangka, belahan jiwanya yang baru resmi ia miliki beberapa hari lalu mengalami kejadian dahsyat yang tak akan bisa membuatnya kembali lagi ke pelukannya.
" HAFI ! " teriakan Steven memecah kesunyian jurang hingga burung burung pun langsung beterbangan entah kemana.
" Apa benar itu cincin dokter Hafi?" tanya polisi yang memegang pulpen dan nota tadi.
Steven hanya mengangguk dengan tatapan kosong. Dia masih berfikir bahwa ini hanyalah mimpi. Sebuah mimpi yang tidak akan pernah ia ingat kembali. Ini adalah mimpi terburuk dalam hidupnya.
"HAFI PASTI SELAMAT ! DIA GAK MUNGKIN MENINGGAL! " tiba tiba Steven berteriak histeris lalu berlutut di depan abu itu.
Pria berdecak rusuh,mengamuk ke semua orang yang berada di sekitarnya. Ia juga tak segan mencengkeram kerah baju salah seorang polisi yang kebetulan berada didekatnya.
"JANGAN SUKA BAWA BERITA SAMPAH ! ISTRI SAYA TIDAK MENINGGAL !" hardik Steven tepat di depan wajah polisi itu.
Polisi itu menggeleng lamban, wajah Steven terlihat begitu menyeramkan ketika emosi seperti itu.
"Ini kenyataan pak, tolong bersabarlah !" tandas polisi itu.
Steven melotot hingga bola matanya hampir keluar dari sarangnya. Tangan besarnya mengepal sempurna.
BUKH !
Satu pukulan pun berhasil mendarat di perut pria yang berada di cengkramannya. Darah segar pun menyembur keluar dari sela sela mulutnya.
Para polisi Polisi berusaha menenangkan Steven yang sedang dalam ankara murka tersebut. Menariknya sekuat tenaga, tubuh tingginya sampai terseret ke tanah dengan begitu dramatis.
"Mohon bersabar Tn. Steven...".
Steven kemudian berdiri sambil menatap semua yang ada disana penuh emosi. Jari telunjuknya menunjuk semua orang yang memandangnya iba.
"KALIAN TIDAK TAU BAGAIMANA RASANYA KEHILANGAN ORANG YANG DICINTAI !" Racau Steven. Wibawanya sebagai orang tersohor pun hilang.
Semuanya langsung diam, apa yang dikatakan Steven itu benar, kehilangan orang yang paling dicintai adalah neraka bagi yang ditinggalkan.
" KENAPA KALIAN DIAM ! AYO CARI HAFI.... CEPAT CARI ! AKU YAKIN DIA PASTI SELAMAT " titah Steven.
Seluruhnya langsung mengangguk, mengikuti langkah Steven menelusuri setiap inci hutan itu, berharap bisa menemukan Hafi.
10 jam kemudian....
Sudah begitu lama Steven dan polisi berteriak kesana kemari membelah hutan rimba yang gelap. Namun tak membuahkan apapun.
"Kita sudah sampai di jantung hutan, tapi tanda tanda keberadaan dokter Hafi belum juga ditemukan sebaiknya kita kembali ke lokasi kejadian " usul salah seorang polisi .
" TIDAK ! SAYA MASIH INGIN MENCARI HAFI ! DIA PASTI MASIH HIDUP DAN MEMBUTUHKAN PERTOLONGAN SAYA.... TINGGALKAN SAYA DISINI SENDIRI JIKA KALIAN SUDAH LELAH MENCARINYA !" Steven tetap pada pendiriannya. Berdiri kokoh untuk membuktikan bahwa semangat untuk menemukan sang istri masih menggebu gebu.
"Tn. Steven... korban yang masuk ke jurang ini tidak ada yang pernah selamat, jadi lebih baik kita kembali... anda juga belum istirahat dari tadi " saran seorang lagi.
"TIDAK ! KALIAN SEMUA DULUAN SAJA SANA ! KATAKAN SAJA KALIAN MALAS MENCARI ISTRI SAYA !" usir Steven.
Dengan terpaksa polisi dan tim SAR itu harus menyeret paksa Steven untuk kembali ke lokasi kejadian. Pria itu meronta hingga harus ditangani banyak orang.
Steven terenyuh, terseret, dan terombang ambing rasa sedih yang amat dalam. Matanya yang sayu masih tetap setia menoleh kebelakang berharap ada keajaiban.
Angin sepoi sepoi pun berhembus, menyibak rambut Steven begitu dramatis. Dedaunan kering pun juga ikut berguguran seolah ikut merasakan kepedihan yang dirasakannya.
Beberapa menit kemudian sampailah mereka ke lokasi sebelumnya.
"Apakah anda sudah memberi tahu keluarga tentang ini ?" seseorang mengingatkan.
"Belum" jawab Steven tak bertenaga.
"Cepat beritahu mereka Tn. Steven"
Steven pun mengambil ponselnya . Jari jarinya tak sanggup bergerak untuk menekan nomor keluarganya. Apa yang harus ia katakan pada keluarganya ?.
Nafasnya begitu memburu saat angka demi angka sudah berhasil tertekan. Ini adalah hal yang terberat baginya.
"Halo" sapa papa Chandra di sebrang sana.
"Halo pa....."balas Steven dengan suara parau.
" Kamu kenapa Steve...?" papa Chandra heran, tidak biasanya menantunya itu berbicara selirih ini.
"Haafi pa... Hafi... " tangis Steven. Lidahnya terasa keluh dan tak mampu melanjutkan kata katanya.
"Hafi kenapa ?" papa Chandra mulai khawatir dengan keadaan putri pertamanya. Ada prasangka buruk berkecamuk di dalam hatinya.
"Hafi kecelakaan dan meninggal pa" tangis Steven kembali pecah. Rasanya berdosa sekali memberikan berita buruk kepada mertuanya itu.
"Kamu jangan bercanda Steve, ini gak lucu !" papa Chandra membulatkan matanya sempurna.
"Aku tidak berbohong pa... sekarang aku lagi di lokasi kejadian" Steven kembali menangis.
" Ttolong berikan alamatnya kami akan segera kesana " perintah papa Chandra yang sudah tak sanggup menopang tubuhnya karena terlalu shock.Pria paruh baya itu memegang dadanya di bagian jantung.
"Pa ! papa kenapa ?" tanya Loren yang kebetulan sedang lewat.
Secepat mungkin wanita itu memegangi tubuh ayahnya agar tidak ambruk.
"Hafi... haf... Hafi...." gumam papa Chandra dengan nada lemah. Menambah tingkat kepenasaran di otak Loren.
"Hafi kenapa pa ?" tanya Loren panik.
"Hafi kecelakaan dan dia dikabarkan meninggal" terang papa Chandra.
Jantung Loren langsung tersentak. Ini tidak mungkin terjadi pada kakaknya. Kemaren kakaknya baru saja menelfonya dan Hafi tak akan pergi secepat ini.
"Ini gak mungkin pa !" tandas Loren dengan air mata yang sudah keluar dari sudut matanya.
Papa Chandra memandang putri keduanya dengan teduh, mengusap lembut pipinya dan menghapus air matanya.
"Tapi kenyataannya Hafi udah gak ada Loren!"
Loren menggeleng.
"Gak mungkin pa ! Hafi gak meninggal ! dia masih hidup !" bantah Loren.
Percakapan mereka pun akhirnya terdengar juga oleh mama Lisa.
"HAFI MENINGGAL ?" teriak mama Lisa tidak percaya.
Loren dan papa Chandra saling tatap, keduanya lebih memilih untuk bungkam daripada harus mengatakan kepedihan ini pada mama Lisa. Dia pasti akan sangat terpukul.
"JAWAB PA ! JAWAB REN !" jerit mama Lisa penuh kekalutan. Bibirnya bergetar.
Hening. Tak ada respon apapun dari papa Chandra ataupun Loren, dan itu sudah membuktikan bahwa Hafi benar benar sudah tiada.
"Ini gak mungkin !" tegas mama Lisa dengan tatapan kosong.
"Hafi gak boleh pergi !".
"Hafi anak yang kuat !".
"Gak mungkin meninggal cuma gara gara kecelakaan !".
"Tapi ini beneran ma !" potong Loren.
"GAK MUNGKIN !"
•••
Seluruh anggota keluarga sudah sampai di lokasi kejadian. Tampaklah Steven yang duduk melamun di bawah sebatang pohon rindang di dekat abu bekas kecelakaan kemaren.
Rambutnya yang acak acakan, wajah lusuh nan sendu, serta baju uang kotor membuat Steven tampak seperti orang gila.
"Steven..." panggil mereka serentak.
Pria tampan itu langsung menoleh, memandang keluarganya dengan sangat memprihatinkan.
"Mama... papa..." lirih Steven kepada orang tua dan mertuanya.
Rienna segera berlari kearah putra semata wayangnya itu. Memeluknya erat sembari menciumi puncak kepalanya.
"Hafi ma..." bisik Steven penuh kesedihan.
"Hafi kenapa sayang kenapa ?" tanya Rienna sungguh.
"Hafi kecelakaan ketika dia pulang dari rumah sakit dan aku malah enak enakan tidur di rumah tanpa ada firasat sedikitpun ! harusnya aku yang nganterin dia ke rumah sakit dan kami harusnya mati bersama tapi kenapa jadinya harus begini !" racau Steven kesetanan.
Tangis semuanya pun pecah setelah Steven menjelaskan tentang semua yang telah terjadi.
"Jangan berkata seperti itu nak... jangan..." tutur mama Lisa.
"Tapi kami baru menikah ma, kami baru merasakan kebahagiaan hidup ini setelah bertahun tahun, tapi kenapa Tuhan mengambil Hafi secepat itu !" bantah Steven.
"Itu tandanya Tuhan lebih sayang sama Hafi nak !" pungkas papa Alex.
Steven menggeleng, melepaskan pelukan Rienna dari tubuhnya. Berusaha berdiri, berjalan gontai menuju abu itu. Mendongkak keatas langit sambil merentangkan tangannya.
"AMBIL NYAWAKU SEKARANG JUGA TUHAN ! UNTUK APA AKU HIDUP JIKA DIA SUDAH TIDAK ADA LAGI !" ucapan Steven mengundang semuanya untuk menangis kembali, mengingat memori memori mereka bersama Hafi.
"Hafi kenapa kamu terlalu cepat pergi nak ...." raung mama Lisa tepat di depan abu itu.
"Hafi kenapa lo ninggalin gue" tangis Loren menggebu gebu, tangan mulus miliknya mencengkeram abu itu.
Hafi adalah sosok yang paling dia sayangi.
Sosok yang sangat baik hati dan pemaaf walau dulu dia sangatlah jahat padanya. Namun Hafi malah rela mengorbankan satu ginjalnya untuk dirinya.Hafi adalah malaikat tak bersayap yang dikirimkan Tuhan dari langit.
Semuanya maafkan aku yang sudah gagal menjaga Hafi
Batin Steven.