Tak terasa waktu terus berjalan, tanda tanda keberadaan Hafi tidak kunjung Steven temukan.
Semua orang tampak berusaha tuk melupakan Hafi dari ingatan masing masing walaupun itu amatlah sulit untuk dilakukan.
Berbeda dengan Steven, dia tidak akan pernah bisa sekalipun untuk melupakan orang yang jadi nafasnya itu. Orang yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya, motivasinya, bahkan orang yang selalu mengajarkan arti kebaikan kepada semua orang.
Entah terbuat dari apa hati istrinya itu, walau waktu kecil dulu ia pernah di nistakan kedua orang tua dan adiknya tapi ia malah berubah menjadi wanita terbaik sepanjang masa. Wanita yang rela mengorbankan kebahagiaannya untuk orang lain.
Dan kalian tau ? hanya Hafi lah yang mampu melakukan semua itu tanpa keluhan. Itulah yang membuat Steven jatuh hati dan tak akan pernah bisa menghapus sosok peri tak bersayap yang berstatus sebagai istrinya itu.
Sekarang Steven sudah menjadi duda, mungkin untuk selamanya nanti, karena dia sudah bertekad bahwa tidak akan menikah lagi. Cukuplah seorang Hafi yang mengisi hatinya.
Tak akan pernah ada siapapun yang bisa mendapatkan cintanya. Cinta yang hanya dia tujukan kepada Hafi.
Diluar sana sangat banyak gadis yang menginginkan dirinya. Menjadi pendamping hidup seorang pria tampan bernama Steven itu adalah cita cita tertinggi mereka.
Sehingga diantara mereka ada yang langsung mengucapkannya, bahkan ada yang rela melemparkan tubuhnya sendiri kepada Steven. Namun sayang, pria itu hanya akan setia pada satu nama, Hafi.
Hari ini adalah hari pertama Steven masuk kerja setelah 1 bulan cuti sejak pernikahannya dengan Hafi.
Sangat berbeda ketika ia masih bersama Hafi. Hari harinya sangatlah bermakna kala itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 07:45 am namun Steven masih setia memeluk gulingnya. Pria yang awalnya sangat disiplin itu mendadak berubah menjadi sosok lazy man setelah Hafi tiada.
Sementara itu mama Rienna dan papa Alex kini tengah sarapan di ruang makan. Keduanya melayangkan pandangan ke sana kemari mencari sosok Steven yang belum terlihat batang hidungnya sejak tadi.
"Steven mana ma ?" tanya papa Alex sambil memakan roti yang sudah ia olesi dengan selai kacang kesukaannya.
Mama Rienna menggeleng polos, mengisyaratkan bahwa ia juga tak tau dengan putranya itu.
"Mama juga gak tau pa, tapi yang jelas semenjak Hafi pergi, sikapnya berubah 180 derajat, hidupnya tampak tak b*******h, lebih terlihat seperti mayat hidup pa, apalagi akhir-akhir ini Steven sering melamun, gak pernah senyum dan yang parahnya lagi dia sekarang jarang banget keluar kamar" terang mama Rienna begitu dramatis.
Raut wajah papa Alex langsung berubah sendu. Wajar saja Steven seperti itu, karena dia kehilangan sosok Hafi dalam hidupnya. Menurut papa Alex, kepergian Hafi memang patut selalu dikenang.
"Kasihan sekali nasib putra kita ma..." lirih papa Alex.
Rienna mengangguk setuju.
"Bener pa, kira kira apa yang harus kita lakukan agar dia nggak gitu lagi?" tanya mama Rienna sambil meringis iba.
Papa Alex menggeleng lamban.
"Sejauh ini papa masih belum memiliki solusinya ma, kita hanya bisa berdoa untuk kesembuhan luka batin yang diderita Steven".
Mama Rienna mengangguk.
"Ma, mending bangunin Steven sekarang, dia pasti masih tidur di kamar" titah papa Alex.
"Baik pa" Mama Rienna beranjak dari kursi, menaiki tangga menuju lantai dua.
Tok
Tok
Tok
Wanita paruh baya itu mencoba mengetuk pintu kamar Steven yang kebetulan memang tertutup.
"Steven... ayo bangun nak!"
"Steven... bukankah hari ini kamu bakal ke kantor ?"
Hening. Tak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar itu. Mama Rienna mengehela nafas kasar.
"Anak itu pasti masih tidur !" duga mama Rienna, membuka pintu dan ia langsung di suguhkan pemandangan yang luar biasa di sana.
Seisi kamar Steven tampak layaknya kapal pecah. Pakaian berserakan di mana mana. Botol botol minuman beralkohol pun berjejer rapi di atas mejanya. Bahkan yang lebih parahnya lagi, Steven masih setia di alam mimpinya itu.
Mama Rienna melangkah perlahan sembari menggeleng gelengkan kepalanya. Melipat kedua tangannya di d**a dan mulai berdiri tepat di samping tempat tidur.
"Steven ! ayo bangun !" Panggil mama Rienna yang minim respon.
" Steve, ayo bangun.... kamu kan hari ini mulai masuk kantor ..... " teriak mama Rienna, mengguncang guncangkan tubuh besar Steven.
Steven bergeming dan menatap mata mama Rienna yang benar-benar mirip dengannya.
" Males ah ma.... ngak ada Hafi lagi, buat apa aku hidup " jawab Steven santai.
" kamu ngak boleh gitu, ntar Hafi sedih lho" tambah mama Rienna.
"Sedihan aku lah ma dia ninggalin aku begitu aja.
Tenggorokan mama Reinna langsung tercekat setelah mendengar nama Hafi.
"Yaudah ..... " Steven langsung berlari ke toilet.
»»»»»
Steven mengendarai mobilnya ugal ugalan sambil mengumpat umpat tidak jelas.
" Nagapain juga gua ke kantor! bikin pusing aja huh " ucapnya sembari menghantam stir mobil dengan tangannya.
Matanya semakin sayu sampai sampai tidak melihat ada nenek nenek yang menyeberang.
" Woi lo jalan jangan lembek gitu dong dasar ! " mata sayunya tadi berubah menjadi mata yang besar dan berapi api.
" maafkan saya cu.... " lirih nenek nenek itu sedih.
" Alah dasar lo lemot !" bentak Steven sembari melajukan mobilnya lagi.
Semenjak Hafi pergi, Steven seolah olah sudah kehilangan kendali. Sikapnya kepada orang orang sekitar berubah sangat drastis.
Dulu dia adalah orang yang sangat baik serta santun kepada semua kalangan. Namun sekarang dia sangatlah tempramental.
Sepanjang perjalanan Steven membayangkan memori memorinya ketika Hafi masih hidup.
Kenangan demi kenangan manis selalu terukir di dalam bayangan itu berhasil membuat Steven tersenyum.
Setidaknya dengan membayangkan itu, rasa rindunya dapat sedikit terobati.
" Bae.... andai kamu masih ada mungkin aku tidak akan jadi seperti ini sekarang " gumam Steven.
Tiba tiba mobil Steven mengerem mendadak karena di depannya telah berjejer antrian panjang , lebih tepatnya MACET.
Umpatan demi umpatan yang tidak patut terus dilontarkan mulut Steven.
Nafasnya menggebu gebu menahan emosi, wajahnya juga merah padam tangannya mulai mengepal.
" Anj*ing apaan nih , baru jam segini macetnya gak tanggung tanggung, dasar *** ngak bisa ngejaga ketertiban apa ! gak tau orang lagi buru buru aja ! , Sampe kapan nih antrean gila ini bakalan bubar HUH !" umpat Steven.
1 jam kemudian....
Steven masih Stay di tempat yang sama dan pada akhirnya antrian panjang itu bubar.
Steven berdecak lega setelah 1 jam terjebak macet, namun akhirnya berhasil keluar dari sana.
Antrian mobil yang awalnya sangat rapat dan panjang, berangsur angsur renggang dan memendek.
" Fiuhhh..... akhirnya.... gini dong dari tadi , ngak mungkin gua marah marah dari tadi " Steven mulai melajukan mobilnya lagi.
»»»»»
Mobil Steven memasuki gerbang kantornya yang luas. Semua karyawati yang berada di luar kala itu langsung terpana karena yang datang adalah bos yang sudah jadi DUREN alias DUDA KEREN .
Mereka mengetahui itu karena berita kematian Hafi telah tersebar ke seluruh penjuru.
Para perempuan perempuan itu langsung mempertebal make up agar bisa menarik perhatian Steven.
Steven berjalan begitu arogan ditengah tengah kerumunan karyawannya yang berbaris bak para b***k yang memberi penghormatan kepada sang raja yang baru saja selesai perang.
Ohh tuhan dia sangat tampan....
Yess.... pak Steven datang...
I love pak Steven....
Dia pasti tertarik denganku...
Kasian sekali dia, padahal baru saja menikah sudah kehilangan istri cantiknya.....
Dia sekarang sudah DUREN....
Mumpung masih menduda mending aku goda deh....
Untung istrinya udah mati hahhahah.....
Pak Steven dan Hafi mungkin tidak berjodoh ....
Itulah sederetan komentar komentar para karyawan itu terhadap Steven.
Tak hanya kerumuan karyawan, di depan pintu masuk kantornya sudah berdiri puluhan wartawan untuk mengintrogasi Steven.
Spontan dia langsung berlari sambil memanggil satpam guna menghindari kerumunan pers yang siap mengujamnya dengan ribuan pertanyaan memilukan.
Seketika tempat itu berubah ricuh.Belum lagi karena para pers, ditambah dengan para karyawati yang ingin mencuri kesempatan agar bisa menyentuh Steven.
Pak Steven......
Tunggu pak jangan lari.....
Kami masih ingin menanyakan banyak hal pak.....
Please pak.....
Pak bagaimana keadaan anda sekarang ?....
Apakah sudah ada kabar baik.tentang ibu Hafi ?
Apakah anda sehat sehat saja...
Bagaimana kehidupan anda sekarang setelah ditinggalkan Hafi ?....
Apakah anda sudah memiliki pengganti untuk ibu Hafi ?
Apakah anda akan menikah lagi?
Tolong dijawab pak....
Hei pak...
Kami hanya menanyakan itu....
Apa perasaan anda saat pertama kali masuk kerja setelah kehilangan orang yang paling penting dalam hidup anda ?
Sekarang tambah banyak wanita yang menginginkan anda, apalagi setelah kepergian ibu Hafi ,karena anda dianggap sebagai DUREN yang mapan, apa perasaan anda?
PAK STEVEN !
PAK !
PAK !
PAK !
Itulah segelintir pertanyaan para wartawan itu. Steven sama sekali tidak menghiraukannya.
Dia lebih memilih untuk menghindari mereka dengan bantuan security dan bodyguard yang sangat banyak.
" Usir mereka, dan bilang JANGAN PERNAH TANYAI SAYA LAGI ! " perintahnya kepada security sembari memasuki kantor.
" MAAF KALIAN TIDAK BISA MENGGANGGU BAPAK STEVEN, DIA BILANG JANGAN PERNAH MENANYAINYA LAGI ! " teriak kepala satpam kepada para anggota pers tersebut.
Akhirnya mereka bubar dengan segala umpatan.
Anjir...
Nanya doang ngak boleh !
Ganteng ganteng tapi kasar !
Dia gila !
Setelah kehilangan istrinya, dia sudah tidak lagi waras !
Manusia terkutuk !
uuu sombong lu !
umpat para wartawan itu.
»»»»»
Steven berjalan menuju ruangannya dengan sangat lesu, jas tadinya rapi, kini sangatlah lusuh karena ditarik tarik kerumuan orang.
Rambutnya yang awalnya stylish, berubah acak acakan. Serta tangan yang awalnya tidak ada bekas apapun, kini menjadi surganya bekas luka genggaman.
"Emang susah banget jadi orang ganteng menduda " Steven mulai memuji diri sendiri sembari membuka pintu ruangannya.
Ketika ruangan itu dibuka ia mencium aroma yang sangat khas dan wangi. Aroma itu berasal dari pengharum ruangan yang dipasang Hafi sehari sebelum Steven cuti bersamanya.
Karena itu, Steven langsung ingat kata kata Hafi " Aku pasang pengharum ruangan ini karena ,.biarpun tempat ini kosong.... tetapi masih ada keharuman yang mengisinya, sampai pada akhirnya ruangan itu terisi kembali ".
Steven mengelilingi sudut demi sudut ruangan kerjanya yang amat luas itu.
Di dinding berjejer foto mereka yang selalu bersama. Tanpa sadar bulir telah mengalir deras di pipinya.
Steven tak sanggup kehilangan, dia benar benar sudah tiada arti, semangatnya pun sudah menghilang .
" Hafi.... aku harap ada suatu keajaiban datang , lalu membawamu ke pelukanku kembali " Steven menghapus air matanya.