Dengan susah payah dan nafas tersengal sengal, dua orang paruh baya itu membawa Hafi yang tak sadarkan diri ke rumah.
Mereka langsung membaringkan Hafi diatas dipan sederhana yang terbuat dari bambu.
Hafi benar benar sangat tidak berdaya sekarang. Luka di sekujur tubuhnya sangat memprihatinkan, terutama di bagian kepala yang mengeluarkan cairan merah tanpa henti.
Kakek Hisuk dan nenek Rumi menatap Hafi dengan penuh iba. Mereka tidak menyangka bahwa seorang wanita cantik dengan pakaian dokter mengalami nasib se tragis itu, dihanyutkan sungai dan terpisah dari orang orang paling disayang adalah beban terbesar.
"Kasihan sekali dia" gumam nenek Rumi. Mengusap kepala Hafi dengan penuh kasih sayang.
"Mungkin keluarganya sedang sibuk mencarinya sekarang " imbuh kakek Hisuk disertai raut wajah prihatin.
"Dia mungkin seorang dokter yang tinggal di kota " duga nenek Rumi setelah memandangi dengan seksama pakaian yang dikenakan Hafi.
"Kalau dilihat dari pakaiannya dia memang seorang gadis yang terlahir dari keluarga berada " timpal kakek Hisuk seraya mengangguk setuju dengan sang istri.
"Mmm daripada kita berpikir terus seperti ini, mending aku kebelakang untuk mengambil obatnya " nenek Rumi langsung menuju kebelakang mengambil obat obatan herbal.
Mencari persediaan yang ada di dapur. Namun sayangnya apa yang ia butuhkan sekarang sudah tak ada. Semuanya telah habis.
"Bagaimana ini ? seluruh persediaan obat sudah habis ! sementara anak itu harus segera mendapatkan pertolongan, kalau tidak.... nyawanya tak akan mungkin bisa diselamatkan lagi!" Kening nenek Rumi berkerut penuh kekhawatiran, wanita paruh baya itu segera berlari ke kamar untuk memberitahu kakek Hisuk secepatnya.
"Suamiku...!"
"Suamiku....!" Panggil nenek Rumi dengan nafas tersengal.
"Ada apa istriku ada apa ? tolong jangan berteriak gaduh seperti itu, tenangkanlah dirimu omel kakek Hisuk.
"Ada berita buruk ! obat obatan kita sudah habis suamiku.... aku sudah tak tau lagi harus berbuat apa, anak ini perlu diberikan pertolongan secepatnya" desak nenek Rumi.
Kakek Hisuk cukup terkejut dengan penuturan nenek Rumi barusan, ini benar benar bencana.
"Apa ?!".
"Iya suamiku... kita harus segera mengobati anak ini! kasihan dia... ayo lakukanlah sesuatu..." bulir bulir pun tak bisa dihentikan untuk tetap keluar dari sudut mata keriput milik wanita tua itu.
Kakek Hisuk menepuk nepuk pundak nenek Rumi, berusaha menenangkannya agar bisa lebih tenang.
"Tenanglah... aku akan mencari obat obatan yang diperlukan ke hutan, tolong jaga dia baik baik ya... aku akan segera kembali" ucap kakek Hisuk.
"Kamu hati hati ya..." lirih nenek Rumi.
Kakek Hisuk tersenyum seraya mengambil tasnya, berjalan keluar kamar lalu memandang ke belakang.
"Jangan khawatir... aku akan segera kembali" kata kakek Hisuk.
Nenek Rumi mengangguk, melambaikan tangannya lalu mengusap air matanya lembut. Memandangi Hafi dengan penuh kasih sayang lalu duduk di tepian ranjang.
Menggusar rambutnya yang basah, kemudahan kembali berdiri untuk mengambil pakaian di sebuah lemari sederhana milik cucunya.
Karena semua pakaian Hafi basah, nenek Rumi menukarnya dengan baju mendiang cucunya yang meninggal 1 bulan lalu karena penyakit langka.
Goresan senyuman pun tergores indah di wajah keriputnya yang masih cantik. Kini, wanita di depannya itu sudah mengenakkan pakaian cucunya yang bernama Ryu.
Nenek Rumi meneteskan air matanya setelah melihat betapa cantiknya Hafi dengan pakaian itu. Sangat mirip dengan Ryu yang kebetulan seumuran dengannya.
Semasa hidupnya,Ryu dikenal sebagai kembang desa yang sangat rendah hati, suka menolong, dan tidak sombong. Semua orang sayang padanya, sangat banyak pemuda pemuda desa yang menginginkannya, bahkan seluruh penjuru negri pun datang melamarnya.
Namun dia hatinya hanya memilih seseorang pria tampan yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil. Waktu itu, mereka akan menikah sekitar 1 Minggu lagi.
Namun, ketika hari pernikahan hanya tinggal 3 hari lagi, Ryu jatuh sakit. Wajahnya pucat, hidungnya berdarah dan ia juga tak mau makan.
Sampai akhirnya 3 hari itu berjalan begitu cepat. Kini saatnya untuk dirinya melakukan upacara pernikahan dengan sang kekasih. Sayangnya Ryu menghembuskan nafas terakhir hari itu juga.
Semua orang di desa menangisi kepergian sosok Ryu. Mereka tak menyangka bahwa gadis sebaik itu akan pergi secepat ini.
Kekasihnya adalah orang yang paling tersakiti di sini. Sampai sekarang pun pria itu masih belum bisa melupakan sosok cinta pertama dan terakhirnya. Hubungannya dengan kakek Hisuk dan nenek Rumi tetap berjalan dengan baik hingga kini.
"Andai kamu masih hidup Ryu, akan nenek kenalkan kamu dengan dia" lirih nenek Rumi dengan suara parau. Membayangkan alangkah bahagianya ia bisa mempertemukan kedua wanita cantik itu.
Drett....
Pintu kamar yang sudah buruk itu berdecit. Kakek Hisuk membukanya dan tanpa sengaja ia mendapati nenek Rumi yang tengah menerawang entah kemana.
"Hei !" panggil kakek Hisuk.
Hening. Tak ada respon apapun dari nenek Rumi.
"HEI !" kali ini nada bicara kakek Hisuk naik 1 oktaf.
"HEIII!" teriakan kakek Hisuk barusan telah berhasil mengejutkan nenek Rumi dari lamunannya.
"Kenapa kamu menangis sambil menerawang tidak jelas seperti itu" tanya kakek Hisuk dengan penuh rasa penasaran.
"Ahh tidak ada" nenek Rumi memalingkan wajahnya, menghapus air matanya secara diam diam.
Kakek Hisuk tersenyum teduh. Pria itu juga ikut duduk di pinggiran ranjang, memegangi tangan nenek Rumi lalu menatap matanya dengan penuh kasih sayang.
"Jangan berbohong,aku ini suamimu.... sudah puluhan tahun kita bersama, aku telah paham siapa dirimu, isi hatimu bahkan isi otakmu, jangan pernah berbohong padaku karena itu tak akan pernah berhasil!".
Nenek Rumi tertawa lepas.
"Kamu memang tidak pernah salah suamiku. Jujur, aku sekarang sedang memikirkan mendiang cucu kita, bukankah dia seumuran dengan anak ini ? aku ingin menangis saja setelah melihat dia memakai pakaian milik Ryu, tampak sangat cantik dan anggun... andai saja Ryu ada disini sekarang, mungkin dia akan sangat bahagia mendapatkan seorang teman" lirih nenek Rumi dengan suara bergetar.
Kakek Hisuk tak mampu membendung air matanya yang terus berusaha meloloskan diri dari kelopak matanya itu. Bibirnya bergetar, bayang bayang Ryu kini mengitari kepalanya.
Dipeluknya erat tubuh nenek Rumi, menyalurkan segala kepedihan yang dialaminya.
"Aku sangat menyayangi cucuku, semoga saja dia tenang di alam sana, dan aku sangat bahagia dengan kehadiran anak ini. Dia membuat kerinduan kita sedikit terobati" bisik kakek Hisuk.
Nenek Rumi mengangguk. Tak lama setelah itu mereka melepas pelukan.
"Aku akan meracik ramuannya dulu, tetaplah disini menjaganya!" titah nenek Rumi.
Kakek Hisuk mengangguk, menyodorkan tasnya ke arah nenek Rumi. Wanita tua itu segera menyambarnya dan berlalu menuju dapur.
Tuk
Tuk
Tuk
Tuk
Suara alu dengan lumpang terdengar sangat estetic, nenek Rumi sekarang sedang menumbuk obat obatannya.
Setelah itu dia memasukkan beberapa helai ke dalam air mendidih. merebusnya sekitar 20 menit, lalu menuangkannya ke cangkir yang terbuat dari bambu.
Setelah itu, dia juga mengeluarkan hasil tumbukan dan meletakkannya di atas sebuah mangkok. Nenek Rumi tersenyum penuh harapan kearah ramuan obat racikannya.
"Semoga obat ini bisa membuat anak itu sembuh" gumamnya sembari berjalan hati hati ke dalam kamar.
"Apakah obatnya sudah selesai ?"tanya kakek Hisuk.
Nenek Rumi mengangguk siap.
"Sudah..."
Kakek Hisuk menghela nafas lega sambil mengusap usap dadanya perlahan. Beranjak dari tepian ranjang untuk memberikan jalan bagi istrinya untuk mengobati Hafi.
Nenek Rumi pun mulai membersihkan luka luka Hafi menggunakan air hangat. Selanjutnya dia meletakkan hasil tumbukan daun obat itu di atas lukanya.
Dan yang terakhir, dia juga meminumkan obatnya untuk Hafi.
"Semoga dia lekas sembuh..." harap kakek Hisuk.
Nenek Rumi beranjak dari tepian ranjang. Ikut berdiri di dekat suaminya sambil terus memandang kearah Hafi.
"Tuhan akan selalu melindungi anak baik sepertinya".
••••
Sudah beberapa hari Hafi belum juga sadarkan diri. Kakek Hisuk dan nenek Rumi selalu teliti mengecek kesehatan Hafi. Mulai dari matanya bahkan sampai denyut nadinya.
Sejauh ini, tak ada tanda tanda kemunduran. Kondisi Hafi malah semakin membaik, namun sayang dia masih belum terbangun dari tidur panjangnya setelah cukup lama.
"Bagaimana ini.... sudah beberapa hari tapi dia masih belum sadar juga" ujar nenek Rumi penuh kekhawatiran, ia memandangi kakek Hisuk dengan penuh kegelisahan.
Lelaki tua itu berusaha memasang wajah setegar mungkin. Padahal di dalam hati dia sangat sangat gaduh. Walaupun Hafi bukanlah cucu mereka, itu bukan berarti dia tidak mendapatkan kasih sayang layaknya cucu mereka sendiri.
"Mungkin dia belum sadar karena kehilangan banyak darah jauh jauh hari, aku yakin, dia adalah wanita yang kuat, kamu lihat saja, kondisinya terus membaik kan ? oleh karena itu, kamu tidak perlu khawatir" kakek Hisuk menenangkan.
Nenek Rumi mengangguk pasrah. Bagaimana pun dia harus percaya dengan keagungan Tuhan.
"Kalau begitu, ayo kita keluar untuk meracik obat untuknya lagi" ajak kakek Hisuk. Merangkul nenek Rumi keluar dari kamar itu.
Beberapa menit setelah kedua sejoli itu keluar dari kamar, keajaiban pun datang. Jemari jemari mungil milik Hafi pun bergerak lamban.
Tak lama kemudian, matanya yang masih setia tertutup itu pun terbuka secara perlahan. Menyuguhkan sebuah pemandangan asing baginya.
Hafi melayangkan pandangannya ke sana kemari. Memandangi seluruh isi kamar itu.
"Di mana aku ?" tanya Hafi pada dirinya sendiri.
Berusaha beralih posisi menjadi duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa masih akit.
"Kenapa semuanya tampak begitu asing bagiku ?" tanya Hafi sekali lagi.
Alangkah terkejutnya nenek Rumi dan kakek Hisuk ketika memasuki kamar tersebut. Perasaan sangat bahagia menggerogoti hati mereka masing masing ketika Hafi sudah terbangun dari komanya.
" Dia sudah sadar !" sorak nenek Rumi. Berjalan mendekati Hafi dan duduk di dekatnya.
"Apa yang aku bilang, lambat laun dia pasti akan sadar juga " kakek Hisuk tersenyum sambil mengikuti langkah sang istri.
"Siapa kalian ?" tanya Hafi sambil membulatkan mata besarnya kepada kakek Hisuk dan nenek Rumi.
"Aku kakek Hisuk dan ini istriku nenek Rumi nak..." balas kakek Hisuk memperkenalkan namanya dan nama istrinya.
Hafi memegangi kepalanya, dia masih belum paham dengan situasi ini, yang jelas ia tak tau dimana dia sekarang.
"Aku dimana ?" tanya Hafi dengan nada lirih.
"Kamu di rumah kami" jawab kakek Hisuk santai.
"Nama kamu siapa nak ?" tanya nenek Rumi lembut.
Hafi memegangi kepalanya yang tiba tiba terasa pusing. Entah mengapa setiap dia mengingat namanya kepalanya ini terasa begitu sakit.
" Nama ? ohh... aku tidak ingat dengan namaku, aku juga tidak tau bagaimana saya bisa ada disini " jelas Hafi dengan pikiran yang masih kacau.
Sepasang manusia tua itu pun saling pandang seolah mengisyaratkan sesuatu.
"Apa kita katakan saja bahwa dia itu cucu kita ?"
Kakek Hisuk menggeleng.
"Jangan... sebaiknya jangan..."
Nenek Rumi memandangi suaminya dengan harapan penuh, seolah ingin sekali keinginannya itu terkabul.
Akhirnya kakek Hisuk hanya bisa mengangguk pasrah, menyerahkan semuanya pada nenek Rumi.
"Kamu cucu kami, nama kamu Tyu " spontan nenek Rumi setelah kakek Hisuk mengangguk barusan.
"T...YU ?!" Hafi mengeja nama asing yang baru kali ini didengarnya.
"Iya.... kamu pingsan tadi di ladang .......Tyu " dusta nenek Rumi agar Hafi percaya dengan segala kebohongannya.
Dia tidak berniat jahat kepada Hafi, hanya saja dia menginginkan sosok cucu di kehidupannya ini.
" Ladang ?" Hafi mengernyitkan keningnya.
Mendengar ucapan dusta dari mulut nenek Rumi, kakek Hisuk langsung menatap tajam kearah nenek.
Nenek Rumi memberikan tatapan memelas kepada kakek Hisuk agar mengakui bahwa Hafi adalah cucu mereka.
" Iya Tyu " kakek Hisuk mengangguk.
Hafi tersenyum simpul, sehingga kecantikannya bertambah dua kali lipat.
"Dia tak kalah cantik dari Ryu suamiku..." lirih nenek Rumi.
Semenjak saat itu, Hafi menganggap dirinya adalah Tyu, cucu dari nenek Rumi dan kakek Hisuk.
Hafi sangat rajin dan selalu membantu kedua orang tua itu. Sampai sampai takdir menemukannya dengan sosok yang membuatnya terjebak dalam kisah cinta yang baru nanti.