Rabu sama, bukan lompatan, hanya malam yang habis. Mandi. Nasi. Mama perut. Papa file. Ojek. Angka. Siang warung dua puluh menit dekat kantornya, bukan kencan majalah, es teh, meja kecil, cerita audit pelan, tidak pidato, tidak cium. Ia molor lima menit, omong di chat dulu, gue makan kerupuk, bukan nunggu lapar jadi korban. “Udah makan?” “Kerupuk. Nasi bareng. Jangan maaf panjang. Dua puluh menit kemarin sudah. Hari ini angka. Kalau HP diem, omong begitu nyala. Aturan.” Ia duduk, maaf pendek, nasi, nengok. Tidak list. Tidak foto. Mereka sebut aturan baru pelan, bukan rundown: kalau diam lebih dari lima belas menit tanpa kabar, yang di rumah makan dulu, yang di luar omong begitu bisa, jangan stasiun, jangan blokir, jangan search. Pulang masing-masing, aturan. Malam Tasyi video call, Om Iyoo di layar, Tante Git di samping, jepit wortel, lagu salah lirik tiga kali. Mbak Nares dari belakang: “Jangan ngebut. Belajarnya kelihatan. Lanjutin. Jangan search. Jangan skip. Jangan stasiun. Diam kecil, omong. Kalimat sama.” Dhafin angguk. Cukup. Nyata. Chat: “Udah makan. Selamat malam. Siapa di mobil?” “Saya. Kalau berubah, omong. Kalau HP diem, saya omong begitu nyala.” Tidur.
Kamis Papa angguk di koridor. “Muka utuh. Pulang wajar. Jangan ngebut file. Jangan muka liburan. Papa dengar warung. Papa tidak dengar search. Papa dengar aturan diam. Bagus. Jangan sombong. Lulus satu aturan bukan lulus kawin. Jumat teh atau rumah. Bukan sidang. Kalimat sama.” Inara: “Malam Jumat ke sini. Ibu masak. Bukan sidang. Mas gue disuruh diem. Lo jangan kabur. Aldo charger. Jangan injek. Jangan bawa muka undangan. Jangan bawa muka dua puluh menit jadi drama.” Gue: “Nasi. Omong. Bukan drama. Bukan paket. Kamis dulu. Jumat belakangan. Aturan diam: makan dulu, omong belakangan. Jenuh, belum.” Tidak gedung. Ada aturan. Kepala gue sudah hafal: makan dulu, jangan stasiun, jangan search, jangan skip, jangan blokir di menit kedua puluh. Siang file. Sore pulang wajar. Rumah, Mama perut. Chat: “Udah makan. Selamat malam. Besok teh Ibu. Bukan pidato. Aturan diam. Kalimat sama.” “Siap. Saya diem kalau mau pidato. Ina ancam. Siapa di mobil: saya. Kalau HP diem, saya omong begitu nyala.” Tidur.
***
Jumat. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci kerupuk Rabu. Sepatu datar. Nasi. Mama radar. “Balas?” “Belum ngebut.” “Search?” “Tidak.” “Packing?” “Tidak.” “Iya altar?” “Tidak.” “Jenuh?” “Belum.” “Bagus. File. Pulang wajar. Malam teh atau rumah. Jangan altar. Mama jaga mata. Kau jaga kolom. Mama cabut wifi kalau jari gatal stasiun. Mama cabut katalog kalau jari gatal teh jadi tunangan. Aturan diam: kamu makan. Dia omong. Cukup.” Papa, “Jumat. File bersih. Kasur. Kerja. Jangan kabur. Jangan stasiun. Papa dengar teh. Papa tidak dengar cincin. Papa dengar dua puluh menit. Papa tidak dengar perang. Kalimat sama.”
“Siap, Pa. Siap, Ma.” Ojek. Lobby. Satpam. Lift. Rekan serial gagal. File. Kopi pahit. Setiap ingin search gedung, gue cek tanggal dua kali. Setiap ingin ketik jemput, gue ketik rumus. Pantry lima suap, enam. “Udah makan?” “Udah. File. Malam teh Ibu. Bukan pidato. Aturan diam. Kalimat sama.” “Siap. Saya diem kalau mau pidato. Ina ancam. Saya nunggu di rumah, bukan di stasiun. Kalau HP diem, saya omong begitu nyala.” Papa angguk dari jauh. Lunas hampir. Sore pulang wajar. Mama perut, piring. “Makan. Mama tidak tanya teh. Mama tanya perut. Kalau piring kosong, Mama kira kamu packing jadi menantu di meja orang.” Inara: “Malam ke sini. Ibu masak. Bukan sidang. Mas gue disuruh diem. Lo jangan kabur. Aldo charger. Jangan injek. Jangan pidato. Jangan bawa dua puluh menit jadi sidang.”
Gue, “Nasi dulu. Datang. Pelan. Bukan paket. Bukan pidato. Aturan diam, bukan rundown.” Papa, “Teh boleh. Pidato jangan. Kasur. Jangan ngebut jadi menantu di meja makan orang. Pulang. Jangan stasiun. Jangan bawa muka search.” Ganti baju rumah rapi, muka foyer, tas kecil, kue tidak, izin Mama, izin Papa. Ojek. Panas. Pagar Inara yang hafal. Napas. Bel. Jantung, bukan tiket. Teh. Teh butuh kursi, bukan altar. Masuk. Duduk. Cukup. Nyata. Bukan lari.
***
Malam rumah Inara. Bukan sidang. Bukan altar. Foyer yang hafal, sepatu ditanggalkan, tas kecil di kursi. Ibu teh, masakan, senyum yang dulu di Yogya, tidak katalog, tidak list undangan. Bapak koran, lalu turun, kacamata, muka yang tidak CV. Aldo sofa, charger, hi pendek. Mas Rillo berdiri terlalu lama di dekat meja, duduk waktu Ibu ketuk meja dua kali. “Duduk. Jangan jadi patung. Egita. Jumat. Bagus. Rillo cerita dua puluh menit. Dia omong. Kamu makan. Ibu seneng. Ibu nggak minta gedung. Ibu minta kalian jangan diem yang salah. Kantor jauh kadang. HP diem kadang. Jangan stasiun. Jangan IGD yang salah. Ibu capek orang yang nunggu dari jauh. Aturan diam: makan dulu, omong belakangan. Cukup. Kalimat sama.”
Gue duduk. Teh panas. Nasi. Lauk yang tidak ditimbang seperti Mama, tapi ditimbang dengan cara lain: perut ada isi, muka utuh, tidak packing, tidak ngebut, tidak list. Jari diam. Kepala diam. “Iya, Bu. Aturan. Omong. Tahun ini makan. Bukan cincin. Saya jawab di Osaka, bukan karena kesepian. Saya datang ke sini, bukan karena kosong. Saya pulang ke rumah Mama dulu. Saya hampir search. Saya tidak. Dua puluh menit, saya makan. Saya omong. Saya belum jenuh. Kalau iya, omong. Kalimat sama.”
Ibu mengangguk, menuang teh lagi. “Bagus. Ibu dengar Osaka. Ibu dengar warung. Ibu dengar mall. Ibu dengar hampir. Ibu dengar dua puluh menit. Ibu tidak dengar packing. Ibu tidak dengar gedung. Lanjutkan yang itu. Jangan ngebut jadi menantu di meja Ibu. Jadi orang yang makan. Jadi orang yang omong. Cukup. Nyata. Bukan altar. Bukan stasiun. Bukan packing. Bukan IGD. Bukan gedung. Bukan aula.”
Bapak menurunkan koran. “Cabut telinga, jangan cabut orang. Rillo, kamu dengar. Ina, jangan jadi WO. Aldo, charger jangan di meja makan. Egita, kamu dengar juga: kalau dia diem, kamu makan dulu. Kalau layar lewat, jangan jadi korban di toilet. Kalau dua puluh menit, jangan jadi perang. Bapak capek altar. Bapak tidak capek hidup. Kalimat sama.”
Mas Rillo, “Siap, Pak. Saya omong. Saya nggak nyuruh nunggu lapar. Saya nggak masuk toko. Saya nggak buka layar. Saya ke warung. Saya ke sini. Kalau HP diem, saya omong begitu nyala. Jenuh, omong. Saya belum. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung.” Inara galak pelan, sendok di piring, “Gue capek paket Nat. Gue seneng lo berdua di sini. Jangan nikah bulan depan. Gelang jangan dikasih balik. Jangan injek. Jangan pidato. Makan. Aturan diam, jangan jadi WO.” Aldo, “Hi. Makan. Gue setuju Ina. Jangan pidato. Charger gue, sofa.” Teh. Nasi. Tasyi layar sebentar, Om Iyoo, Tante Git, jepit wortel, lagu salah tiga kali. Mbak Nares dari belakang, “Jangan ngebut.” Dhafin angguk. Ibu selipin kue ke tas gue, bukan katalog. Satu jam. Tidak list. Tidak foto prewed. Burung. Anjing tetangga. Hidup.
Gue nengok. Dua meja. Warung dan rumah ini. Satu aturan. Omong. Jangan stasiun. Jangan IGD. Tahun ini makan. Bukan gedung. Bukan cincin. Bukan paket. Bukan list. Bukan aula. Inara ngejek pelan, “Muka lo utuh. Bagus. Jangan kabur ke ojek sebelum kue. Jangan injek. Jangan pidato. Jenuh lo omong, jangan diam.” Gue makan kue. Manis. Bukan roti gosong. Bukan nasi goreng warung. Bukan yogurt rekan. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti.
Di pagar, ojek menunggu, cium punggung tangan, kikuk, izin Ibu, izin Bapak, izin Inara yang sudah di sofa. “Udah makan?” “Udah. Nasi Ibu. Kue. Rumah nanti sedikit. Mama nunggu perut.” “Saya pulang. Audit sisa. Selamat malam. Janji, bukan tagihan. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, omong. Kalau HP diem, saya omong begitu nyala. Jenuh, omong. Saya belum. Kalimat sama.” Chat Mama: “Pulang. Udah nasi. Jangan khawatir stasiun. Ojek. Bukan packing.” “Bagus. Kasur. Jangan ngebut. Papa dengar teh. Papa tidak dengar altar. Papa dengar aturan diam.”
Kamar. Gaun tertutup. Tas kerja di kursi. Kue Ibu di meja, bukan di altar. Diary di kepala, bukan kertas: Jumat. Dua meja. Teh. Nasi Ibu. Bukan pidato. Dua keluarga, satu aturan. Omong. Jangan stasiun. Jangan IGD. Jangan search. Jangan skip. Dua puluh menit, makan dulu. Jenuh, belum. Kavin tidak chat. Foto Saka di grup, laci hati, tidak altar. Mama ambang, “Jari?” “Diam, Ma. Chat malam. Udah makan. Kue Ibu. Bukan cincin. Bukan packing.” “Bagus. Tidur. Jangan ngebut. Kantor Senin. Kasur. Mama puas kamu pulang, bukan packing. Mama dengar dua meja. Mama tidak dengar gedung. Mama dengar perut. Mama dengar aturan diam.” Pintu. Gue miring. Ponsel terbalik. File ditutup. Ojek pulang. Ibu selipin kue. Bapak cabut telinga, jangan cabut orang. Inara cabut ancaman gelang. Aldo hi. Mas Rillo izin pagar. Papa kasur. Gue tidak packing. Gue tidak ngebut. Gue tidak minta jalan tol. Gue tidak buka katalog. Tidur sebelum teh jadi tunangan, sebelum kue Ibu jadi altar, sebelum dua kalender jadi dusta, sebelum Jumat jadi rundown, sebelum dua puluh menit jadi perang. Cukup. Kasur. Aus. Bukan berhenti. Jumat lunas dua meja dan aturan diam. Dada belum sombong. Anjing. Kulkas. Gelap sopan. Napas. Syukur. Tidur. Nyata. Cukup. Hidup. Pulang. Bukan lari. Kalimat sama.