Sabtu. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci teh Jumat. Sepatu rumah. Mama sudah di dapur sebelum gue turun, seolah Jumat belum cukup. Nasi. Teh. Radar. “Hari ini kamu tidak packing. Tidak gedung. Tidak aula. Tidak blokir karena dua puluh menit. Tidak skip karena file. Nasi. Bayi. Jalan kalau perlu, bukan toko. Mama cabut wifi kalau jari gatal stasiun. Mama cabut katalog kalau jari gatal altar. Mama tanya perut, bukan grup, bukan etalase, bukan siapa yang lebih dulu jenuh.”
Gue duduk, nasi, hampir tertawa, lalu tidak. “Ma, saya hidup. Talenan. Jumat teh. Selasa dua puluh menit, omong. Senin undangan, tidak buka. Minggu jenuh, belum. Saya nggak stasiun. Saya nggak packing. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Kalimat sama.”
“Bagus. Mama dengar dulu, Mama percaya belakangan. Makan. Mama tidak tanya Kavin. Mama tanya perut. Kalau piring kosong, Mama kira kamu packing ke rumah Nat sampai malam, atau ke mall cari yang kemarin tidak dibeli, atau diam karena dua puluh menit.” Papa koran, tanpa menoleh, “Sabtu. Rumah. Sakit boleh. Kantor jangan. Kasur. Hidup. Jangan kabur. Jangan ngebut jadi bibi bayi sampai lupa anak yang pulang. Papa dengar dua meja. Papa tidak dengar cincin. Papa dengar hampir. Papa tidak dengar buka. Papa dengar aturan diam. Lanjutkan yang itu. Kalimat sama.” Gue bantu talenan, wortel, bawang, plester cadangan tidak terpakai, air mata sah. Mama tidak tertipu, tidak mengungkit gaun, tidak mengungkit Saka sebagai altar. Chat: “Udah makan. Siang rumah Nat. Buah. Bukan pidato. Jangan jemput pagi.” “Siap. Saya izin. Saya datang. Udah makan juga. Macet, saya omong. Kalau HP diem, saya omong begitu nyala. Jenuh, omong. Saya belum.” Cukup. Nyata. Bukan lari. Bukan tol.
Siang rumah Nat, kecil, Saka, Nat lebih manusia, Fikar lebih bodoh bahagia, kursi sama, TV kecil, bukan pesta, bukan aula. Bergiliran. Gue ganti kain, buang sampah, dengar makian sayang, isi botol, cuci tangan, bukan packing. Orangtua Nat angguk dari kursi, tidak sidang, tidak list. Mas Rillo datang siang, izin, buah, duduk di ambang, hormat, hadir, tidak menyerbu. Bagas, “Plot gue dibuang.” “Nasi.” Khalil lempar tisu. Alan rekam tiga detik, dihentikan Windy. Marsya plastik. Inara, “Nyariin siapa?” “Udah di sini.” “Bagus. Jangan bohong. Jangan ngebut jadi bibi sampai lupa perut. Jangan bawa muka search. Jangan bawa dua puluh menit jadi drama.” Gue tertawa dari perut. Tidak mencari parkiran. Tidak mencari lobi apotek. Tidak mencari denyut di grup. Orang itu sudah di ambang, jeruk, jari basah, nyata. “Udah makan?” bisiknya. “Udah. Nasi Mama. Roti tas nanti.” Nat, “Lo makan. Gue yang di rumah. Saka pendek. Fikar bodoh. Hidup. Jangan WO. Tahun ini lo makan. Jenuh lo omong.” Gue makan roti tas. Fikar, “Saka. Pendek. Gue bahagia. Jangan pidato. Jangan WO.” Hidup orang. Lebih baik daripada gedung gue. Lebih baik daripada stasiun.
Sore Kavin kirim ke grup besar, bukan ke gue: foto Saka yang sama, dua gelas di meja jauh, Mayang di pinggir bingkai, senyum yang tidak gue cari. Gue menunggu denyut, mencari sakit, mencari cemburu, mencari alasan buka laci marah, mencari alasan search yang tidak gue izinkan, mencari alasan bilang jenuh yang belum. Tidak ada. Jari diam. Kepala diam. “Selamat. Makan.” Satu kata cukup. Nengok samping: Mas Rillo mengupas jeruk, jari basah, nyata. Berdenyut di situ. Mayang bukan musuh. Kavin bukan hantu. Hafalan punya tempat. Bukan laci marah. Bukan IGD. Bukan stasiun. Bukan search. Inara tepuk bahu. “Nyariin siapa?” “Nggak ada. Udah di sini. Jeruk. Bukan parkiran. Bukan layar. Bukan aula.” Gue tidak bohong. Cukup. Nyata. Bukan tol. Bukan packing. Bukan altar.
***
Malam rumah, nasi, Papa ajak duduk di ruang tamu, bukan sidang, koran sudah turun, kacamata di meja. “Minggu jenuh belum. Senin undangan. Selasa dua puluh menit. Jumat teh. Sabtu bayi. Papa dengar muka. Bagus. Kantor Senin. Jangan ngebut jadi istri. Jadi orang yang nengok. Papa capek altar. Papa tidak capek hidup. Papa dengar jeruk. Papa dengar grup. Papa tidak dengar perang. Papa dengar aturan diam. Papa tidak dengar blokir. Lanjutkan yang itu. Mall jalan. Bukan toko. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Bukan aula. Kalimat sama.”
Mama kue, teh, piring kedua. “Gaun di lemari. Nanti. Jangan dijual marah. Jangan dipakai ngebut. Mama senang kamu pulang ke sini, bukan ke apartemen lama yang sepi. Mama senang perut ada isi. Mama dengar warung. Mama dengar dua meja. Mama dengar hampir. Mama dengar dua puluh menit. Bagus. Makan kue. Mama cabut katalog kalau jari gatal. Mama cabut wifi kalau jari gatal stasiun.” Gue suap. Manis. Bukan roti gosong. Papa angguk. Hidup. Bukan altar. Bukan tol. Bukan packing.
Bel pagar. Jantung naik, bukan tiket. Tiga puluh menit, teh, bukan pidato, tangan kosong, bukan bunga, bukan roti, bukan kotak. “Udah makan?” “Udah. Nasi. Jeruk. Grup. Nggak berdenyut. Satu kata: makan. Undangan tidak saya buka. Dua puluh menit lulus. Jenuh, belum. Kalimat sama.” “Bagus. Ina ngejek. Saya kalahin pelan. Saya nggak pidato. Saya nengok. Saya belum jenuh. Kalau iya, omong.” Papa angguk dari kursi, tidak pidato. Mama isi teh, gula terpisah. Saka disebut pelan, bukan sebagai alasan kawin, bukan sebagai altar. Tasyi disebut pelan, jepit wortel, bukan paket. Mall disebut pelan, bukan toko. Dua puluh menit disebut pelan, bukan perang. Cukup. Nyata.
Di pagar, angin, anjing tetangga, lampu rumah. “Kalau macet minggu depan, omong. Jangan IGD. Jangan stasiun. Jangan Yogya diam-diam. Jangan mall diam-diam jadi toko. Jangan laci diam-diam jadi cincin. Jangan aula diam-diam jadi tahun ini. Jangan chat maaf doang. Jangan skip. Jangan search. Kalau HP diem, omong begitu nyala. Makan dulu. Nyusul belakangan. Aturan. Kalimat sama. Jenuh, omong.”
“Siap. Kalau kamu jenuh, omong. Jangan Osaka diam-diam. Jangan packing. Saya nanya udah makan. Kamu nanya saya masih di mobil atau nggak. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Bukan cincin. Bukan list. Bukan aula. Mall jalan. Bukan tiket. Saya belum jenuh. Kalau iya, omong.”
“Siap. Minggu nasi. Senin angka. Jangan ngebut. Termasuk Sabtu ini. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, omong. Bukan tahun ini. Kalimat sama. Saya belum. Kalau iya, omong.” Kelingking. Konyol. Aturan. Tidak cium lama. Izin Mama lewat gue. Ia pergi sebelum ngebut.
Kamar. Gelap. AC. Gaun tertutup. Laci tertutup. Tas kerja di sudut. Kue Ibu sudah habis. Pesan: “Selamat malam, Git. Besok saya nanya lagi. Janji, bukan tagihan. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, saya omong. Kalau HP diem, saya omong begitu nyala. Tidur. Jangan ngebut. Minggu nasi. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Bukan aula. Jenuh, omong. Saya belum. Kalimat sama.” Gue miring ke dinding. Tidak bersembunyi. Tidak ngebut. Tidak minta jalan tol. Tidak buka katalog. Tidak buka laci. Gue tidur sebelum tahun depan jadi altar, sebelum Saka jadi alasan, sebelum dua puluh menit jadi luka ditutup paksa, sebelum jenuh jadi tiket, sebelum dua kalender jadi dusta, sebelum jeruk jadi tiket. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Siapa di mobil sudah ditanya. Masih. Sabtu lunas bayi dan nasi. Dada belum sombong. Gue ulang: tahun ini makan, tahun depan omong, omong kalau macet, nengok, bukan nunggu dari jauh, jangan skip, jangan search, jangan upgrade, jangan aula, diam kecil omong, jenuh belum. Anjing. Kulkas. Gelap sopan. Napas. Syukur. Tidur. Hidup. Pulang. Kasur. Bukan lari. Bukan tol. Bukan packing. Besok nasi. Besok nanya sudah makan. Janji, bukan tagihan. Siapa di mobil masih. Bukan tahun ini. Kalimat sama.