Rabu. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci kue Ibu. Sepatu datar. Dapur hidup. Mama nasi, teh, radar. “Balas?” “Tidak ngebut.” “Search?” “Tidak.” “Packing?” “Tidak. Bukan saya yang pergi.” “Osaka?” “Toko Mbak Nares. Saya di sini. Kalau rindu, video. Jangan koper.” “Bagus. Kalau rindu oven, kamu tetap di sini. Nasi. File. Video. Jangan stasiun. Jangan bandara. Mama cabut wifi kalau jari gatal tiket. Mama cabut katalog kalau jari gatal sepi. Mama cabut koper kalau jari gatal nyusul diam-diam. Mama tanya perut, bukan pesawat.”
Papa koran, “Rabu. File. Kasur. Kerja. Jangan kabur. Jangan stasiun. Papa dengar Osaka. Papa tidak dengar packing. Kalau rindu, omong. Kamu makan. Kalimat sama. Cukup. Tahun ini makan. Bukan gedung. Bukan tol. Papa capek orang yang rindu lalu packing. Papa tidak capek hidup.”
“Siap, Pa. Siap, Ma.” Gue suap, telur, acar. Hangat. Ojek. Panas. Lobby. Satpam. Lift. Rekan plot, “Serial? Osaka, packing, tahun depan?” “Tidak. Deadline. Video. Bukan koper. Jangan tiket.” File. Kopi pahit. Jam sembilan, chat Inara: “Nares video malam. Toko. Lo jangan packing. Lo jangan nawarin diri ke oven. Lo di rumah. Kalimat sama.” Gue ketik di meja, bukan di toilet novel: “Di rumah. Video. Bukan koper. Bukan stasiun. Bukan bandara. Rindu, omong. Packing, tidak.” Jam sepuluh: “Udah makan?” Pantry lima suap, enam. “Udah. File. Malam video Mbak Nares. Saya di rumah. Jangan telepon. Jangan packing. Kalimat sama.” “Siap. Audit. Malam. Saya nggak jemput. Saya nggak bawa koper. Kalau kamu rindu, omong. Saya nengok. Bukan nyuruh packing. Jenuh, omong. Saya belum. Kalimat sama. Bukan tol.” Papa angguk dari jauh. Siang file. Setiap ingin search tiket, gue cek tanggal dua kali, tanggal file, bukan tanggal pesawat. Setiap ingin buka koper foyer, gue tutup laci meja. Kantor Rabu tidak boleh jadi bandara kedua. Kolom. Rumus. Kopi kedua, masih pahit.
Sore pulang wajar. Ojek. Samping kosong, tidak sakit. Rumah, cuci tangan, Mama perut, piring. “Makan. Mama tidak tanya Osaka. Mama tanya perut. Kalau piring kosong, Mama kira kamu packing ke bandara, atau ke stasiun, atau ke oven.” Nasi. Hangat. Bukan roti gosong. Papa, “Kasur. Video. Jangan ngebut jadi orang yang rindu oven sampai lupa anak yang pulang. Rindu boleh. Packing jangan. Kalimat sama. Kamu di meja. Toko jalan. Cukup.”
***
Malam teh, bukan sidang. Ruang tamu, koran sudah turun, kacamata di meja, anjing tetangga sekali. Mama kue, piring kedua, teh terlalu manis. “Gaun di lemari. Nanti. Jangan dipakai karena rindu. Mama senang kamu di sini, bukan di bandara. Mama dengar toko. Mama tidak dengar packing. Bagus. Makan kue. Rindu bukan tiket. Rindu bukan alasan koper. Mama cabut katalog kalau jari gatal karena sepi. Sepi bukan tiket.” Gue suap. Manis. Bukan roti gosong. Papa angguk, tidak pidato. “Video. Kasur. Jangan ngebut. Toko jalan. Kamu di meja. Cukup. Rindu boleh. Packing jangan. Kalimat sama.” Hidup. Bukan altar. Bukan tol. Bukan bandara. Bukan aula.
Jam delapan video. Mbak Nares di toko, celemek, Tasyi jepit wortel, Dhafin angguk, salju tidak, musim lain, lampu etalase yang dulu gue kunci sendiri. “Jangan ngebut. Toko jalan. Roti melon kadang masih gosong. Belajarnya kelihatan. Lo di rumah, bagus. Jangan packing. Jangan nawarin oven. Jarak besar dulu, lulus. Jarak kecil, omong. Kalimat sama. Tahun ini makan. Bukan gedung. Bukan tol. Lanjutin. Rindu boleh. Koper jangan.” Tasyi, “Tante Git. Om Iyoo.” Lagu salah tiga kali. Gue di kamar, AC, gaun tertutup, laci tertutup, koper foyer kosong. Dada naik, bukan tiket. “Saya di rumah. Udah makan. Nasi Mama. Kue. Saya nggak packing. Saya rindu oven. Saya omong. Saya nggak ke stasiun. Saya nggak ke bandara. Saya nggak search tiket. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Bukan aula. Bukan tol. Kalimat sama. Jenuh, belum. Kalau iya, omong.”
Mas Rillo nyusul di layar Inara sebentar, Om Iyoo, muka lelah, nasi kotak, lampu kuning. “Udah makan?” “Udah. Nasi Mama. Kue. Mas?” “Udah. Kotak. Tidak enak. Ada. Saya omong: saya nggak nyuruh kamu packing. Saya nggak nyuruh ke Osaka. Saya nengok di sini. Kalau kamu rindu, omong. Jangan diam. Jangan koper. Siapa di rumah: kamu. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, omong. Kalimat sama. Tahun ini makan. Bukan tol.”
“Siap. Rindu, omong. Packing, tidak. Bandara, tidak. Tahun ini makan. Bukan gedung. Bukan tol.” Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti.
Setelah video, Inara chat: “Lo utuh? Jangan injek. Jangan search tiket. Jangan search Mayang. Jangan packing. Jangan bandara.” Gue: “Utuh. Nasi. Kue. Video. Jari diam. Koper kosong. Kalimat sama. Rindu, omong. Packing, tidak.” Kavin tidak chat. Foto Saka di grup, laci hati, tidak altar. Mama ambang, “Jari?” “Diam, Ma. Video. Udah makan. Bukan cincin. Bukan packing. Osaka, toko jalan. Saya di sini. Rindu, omong.” “Bagus. Tidur. Jangan ngebut. Kantor besok. Kasur. Mama puas kamu di sini, bukan di bandara. Mama dengar oven. Mama tidak dengar tiket.” Pintu.
Kamar. Gelap. AC. Gaun tertutup. Laci tertutup. Tas kerja. Koper foyer kosong. Diary kepala: Rabu. Osaka. Video. Bukan packing. Bukan bandara. Rindu, omong. Nasi Mama. Kalimat sama. Jenuh, belum. Gue miring ke dinding. Tidak packing. Tidak buka katalog. Tidak ke stasiun. Tidak search tiket. Gue tidur sebelum rindu jadi tiket, sebelum oven jadi altar, sebelum dua kalender jadi dusta, sebelum celemek jadi alasan ngebut. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Rabu lunas rindu yang diomongin. Dada belum sombong. Anjing. Kulkas. Gelap sopan. Napas. Syukur. Tidur. Kasur. Pulang. Hidup. Bukan lari. Siapa di rumah masih. Kalimat sama. Bukan tol. Bukan packing. Bukan bandara. Rindu boleh. Koper jangan. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Bukan gedung. Bukan aula. Siapa di rumah masih. Cukup. Nyata.