Senin. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci kursi. Sepatu datar. Nasi. Dapur hidup. Mama radar. “Makan. Kantor jangan jadi lari. Jangan packing file di kepala sampai perut kosong. Mama cabut wifi kalau jari gatal stasiun. Mama cabut nasi kotak kalau kamu kira skip makan itu prestasi. Papa bilang ada kue di pantry. Bukan oven Osaka. Bukan tiket. Makan sepotong kalau perut mau. Jangan packing. Jangan search tiket. Jangan kira cokelat itu altar.” Papa koran, “File. Siang angka. Bukan sidang kawin. Makan dulu. Baru duduk. Jangan skip. Jangan stasiun. Jangan muka liburan. Jangan muka tahun depan. Jangan muka kue jadi tiket. Papa di lantai yang sama. Kalimat sama. Jenuh, omong. Oke warung. Bukan oke oven.”
“Siap, Pa. Siap, Ma. Kue pantry, perut. Bukan packing. Nasi dulu.” Gue suap, telur, acar. Hangat. Ojek. Panas. Lobby, satpam, “Selamat pagi, Nona. Ada kue di lantai, hati-hati gula.” Lift. Meja administrasi, bukan pewaris, bukan cuti, bukan menantu.
Rekan sudah siap yogurt dan plot. “Senin, serial? Kue, Osaka, packing, tahun depan, oven?” Gue letakkan tas. “Kerja. Makan. Deadline. Jangan serial. Jangan skip. Jangan pewaris. Kue orang. Bukan altar. Tahun ini makan. Bukan gedung. Bukan tol. Kalimat sama. Jenuh, omong. Belum. Oke warung. Bukan oke oven.”
Jam sembilan file. Kepala kurang, bukan kosong. Kopi pantry pahit, di samping kotak kue cokelat yang tidak gue kenal namanya, lilin sudah padam, kartu “selamat” tanpa undangan. Setiap ingin ketik jemput, gue ketik rumus. Setiap ingin search Kavin, gue cek tanggal dua kali. Setiap ingin search tiket Osaka karena bau mentega, gue buka kotak Mama. Laci meja: pulpen, karet, permen keras. Cukup. Bukan cincin. Kantor tidak boleh jadi bandara kedua. Kantor tidak boleh jadi toko kue kedua.
Jam sepuluh: “Udah makan?” Gue di pantry, lima suap nasi kotak, enam, lalu sepotong kecil cokelat, bukan melon, bukan gosong. Rekan, “Satu lagi. Bos kira sakit, aku kira lo mau packing oven.” “Udah. File. Kue sepotong. Saya makan dulu. Jangan telepon. Jangan serial. Jangan packing.” “Siap. Audit. Saya molor, saya omong. Saya nggak jemput. Kue kamu, perut kamu. Saya nanya perut. Aturan. Kalimat sama. Jenuh, omong. Saya belum. Bukan tol. Oke warung. Bukan oke oven.” Lunas sebagian. Papa dari jauh angguk.
Siang angka, air putih, map, pena, kursi yang tidak goyang, bukan altar, bukan aula. Tamu tidak gue namai di kepala. Gue baca pelan, bukan pidato, bukan CV menantu. Kepala mau ngebut: kelihatan pintar, skip makan, packing kue jadi tiket, tahun depan ke map. Aturan: makan dulu sudah. Pantry sudah. Sepotong sudah. Sekarang angka. Bukan oven. Kalimat sama. Oke warung.
Papa lewat partisi, “Muka utuh. Kue, perut. Bukan packing. Jangan ngebut jadi orang yang ingin dipuji rindu sampai lupa pulang wajar. Angka. Kasur. Kerja. Tamu ini tidak perlu tahu Osaka. Tamu ini perlu angka. Pulang setelah, omong ke rumah. Jangan diam. Kalimat sama. Oke warung. Bukan oke oven.”
“Siap, Pa. Saya nggak skip. Saya nggak packing kue jadi serial.” Gue ketik ke Mas Rillo: “Kue pantry. Sepotong. Bukan packing. Makan dulu. Sore file sisa. Warung jangan nunggu. Pagar malam kalau Mama izinin, tiga puluh menit. Kalau nggak, video. Saya nggak skip. Saya nggak ke stasiun. Saya nggak search tiket. Jenuh, omong. Saya belum. Kalimat sama. Bukan tol. Oke warung. Bukan oke oven.”
“Siap. File saya. Saya makan jam enam. Pagar jam delapan. Macet, saya omong. Kalau HP diem, saya omong begitu nyala. Siapa di mobil: saya. Kue kamu, perut kamu. Tahun ini makan. Kalimat sama. Bukan oven. Bukan aula. Saya bawa buah, bukan kue. Jangan nunggu lapar.”
Sore lobby, tidak ada yang jemput. Ojek. Samping kosong, tidak sakit. Rumah, cuci tangan, Mama perut, piring. “Makan. Mama tidak tanya kue. Mama tanya perut. Kalau piring kosong, Mama kira kamu skip sampai malam, atau packing jadi orang yang rindu oven sampai lupa nasi.” Nasi. Hangat. Papa pulang, angguk dari foyer. “Beres. Muka utuh. Kue, perut. Bukan packing. Bagus. Kasur. Jangan ngebut jadi istri. Jadi orang yang makan dulu. Kalimat sama.” Chat Inara: “Mas gue makan sendiri. Lo jangan injek. Lo jangan skip. Aldo charger. Nat tidur. Kue lo jangan jadi WO. Osaka lo jangan jadi tiket.” Gue: “Nasi. Sepotong. Pagar malam. Pelan. Bukan paket. Bukan oven.” Mama, “Pergi nanti. Sekarang piring.” Cukup. Nyata.
***
Jam delapan bel. Ia basah keringat, muka lelah, tangan buah, bukan bunga, bukan kotak, bukan kue. “Maaf. File. Saya omong. Saya makan jam enam. Saya nggak nunggu kamu lapar. Saya nggak turun diam-diam. Terima kasih udah makan dulu. Kue, Ina cerita. Sepotong. Bukan packing. Siapa di mobil: saya. Jenuh, omong. Saya belum. Kalimat sama. Bukan tol. Oke warung. Bukan oke oven.” Papa persilakan duduk tiga puluh menit. Kopi, gula terpisah, bukan sidang. Tidak CV. Mama dari dapur, telinga nyala, tidak menyerbu.
“Hari ini kue. Besok angka. Jangan ngebut file sampai lupa orang di mobil,” kata Papa pelan. “Makan dulu, baru kolom. Nengok yang telat lebih baik daripada nunggu yang diem. Papa capek altar. Papa capek kue yang dikira tiket. Papa tidak capek hidup. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Kalimat sama. Jangan sombong. Lulus satu potong bukan lulus kawin. Oke warung. Bukan oke oven.”
“Siap, Pak. Saya dengar. Saya omong. Saya makan dulu. Saya nggak skip. Tahun ini bukan gedung. Kue perut, bukan tiket. Bukan tol.”
Mama tupperware. “Malam. Dua-duanya. Jangan telat makan. Kue bukan altar. Buah cukup.” Di pagar, angin, anjing, kelingking konyol. “Ini kue. Kita omong. Bukan IGD. Bukan stasiun. Bukan skip. Bukan packing.” “Bukan IGD. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, omong. Kalimat sama. Jenuh, omong. Saya belum. Bukan tol. Oke warung. Bukan oke oven.” Gue tutup pagar. Dada penuh. Bukan sesak. Lulus Senin yang sepotong. Bukan lulus kawin.
Kamar. Gaun tertutup. Laci tertutup. Tas kerja. Diary: Senin. Kue pantry. Sepotong. Bukan packing. Makan dulu. Pagar malam. Omong. Tahun ini makan. Kalimat sama. Jenuh, belum. Oke warung. Foto Saka. Pesan: “Selamat malam. Udah makan. Janji, bukan tagihan. Jangan skip. Jangan search. Siapa di mobil: saya. Kue, perut. Bukan tiket.” Gue miring. Tidur sebelum kue jadi oven, sebelum file jadi lari, sebelum dua kalender jadi dusta. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Senin lunas angka dan nasi. Dada belum sombong. Anjing. Kulkas. Syukur. Tidur. Kasur. Pulang.