Selasa. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci cokelat. Sepatu datar. Dapur sudah hidup. Mama nasi, teh, radar. “Balas?” “Tidak ngebut.” “Search?” “Tidak.” “Packing?” “Tidak.” “Skip?” “Tidak.” “Jenuh?” “Belum. Oke warung.” “Bagus. Angka. Jangan stasiun. Kalau HP diem lebih dari lima belas menit, makan dulu. Omong begitu nyala. Jangan ke lobby. Jangan ke stasiun. Mama cabut wifi kalau jari gatal nunggu. Mama cabut katalog kalau jari gatal diam jadi altar. Mama tanya perut, bukan menit.”
Papa koran, kacamata, tidak menoleh dulu. “File. Kasur. Kerja. Jangan kabur. Jangan muka diam. Diam bukan alasan stasiun. Lima belas menit, makan. Nyala, omong. Papa capek orang yang nunggu di lobby sampai lapar. Papa capek satu diam yang dikira perang. Papa tidak capek hidup. Kalimat sama. Oke warung. Bukan oke aula. Tahun ini makan. Bukan gedung. Bukan tol.”
“Siap, Pa. Siap, Ma.” Gue suap, telur, acar. Hangat. Bukan roti gosong. Ojek. Panas yang sudah biasa. Lobby, satpam. Payung di tas, berjaga, bukan novel. Lift. Rekan plot, yogurt, “Serial? Diam, menit, stasiun, tahun depan?” “Tidak. Deadline. Makan dulu. Omong. Jangan novel. Jangan stasiun.” File. Kopi pahit. Setiap ingin ketik jemput, gue ketik rumus. Setiap ingin search, gue cek tanggal dua kali. Jam sepuluh: “Udah makan?” Pantry lima suap nasi kotak Mama, enam. “Udah. File. Kalau HP diem, saya makan. Saya nggak nunggu di lobby. Lima belas menit, aturan. Jangan telepon.” “Siap. Audit. Sore lapangan. Saya omong. Kalau macet, saya omong. Kalau HP diem, saya omong begitu nyala. Jangan nunggu lapar. Jangan ke stasiun. Kalimat sama. Jenuh, omong. Saya belum. Bukan tol. Oke warung.” Papa angguk dari jauh. Siang file. Kolom.
Sore lapangan di pihaknya. Chat terakhir jam empat lewat empat puluh: “Masuk tenda. Angka. Saya omong habis.” Gue kerja. Empat lima puluh lima. Lima. Lima lewat. Lima belas menit hampir. Kepala mau ngebut: stasiun, search lokasi, lobby, perang, packing, blokir. Aturan: makan dulu. Gue ke pantry, bukan ke lift, bukan ke satpam. Nasi kotak sisa. Lima suap. Enam. Rekan, “Tunggu. Diam, serial, dasi, novel.” “Tidak. Saya makan. Saya nggak jadi orang di stasiun. Jangan plot. Enam belas menit belum saya jadikan perang. Tahun ini makan. Bukan gedung.”
Jam lima lewat satu, chat: “Macet. HP diem. Enam belas menit. Maaf. Udah makan. Saya omong, bukan diem. Saya nggak bisa warung. Pagar malam kalau jalan buka. Kalau nggak, video. Siapa di tenda: saya. Kalau berubah, omong. Kalimat sama. Tahun ini makan. Jangan ke stasiun. Jangan nunggu di lobby.”
Gue ketik di pantry, nasi kotak, bukan di lobby yang bisa jadi novel: “Saya makan sekarang. Bukan marah. Enam belas, omong. Aturan lulus. Saya pulang ojek. Rumah. Nasi. Kalau Mas masih bisa, pagar, izin Mama, tiga puluh menit, bukan pidato. Kalau nggak, omong. Saya nggak ke stasiun. Saya nggak blokir. Oke warung. Kalimat sama.” “Siap. Makasih nggak diem. Makasih nggak ke lobby. Ina ancam telinga kalau saya bikin novel enam belas menit. Ibu saya: jangan stasiunin orang. Makan. Pulang. Saya omong jam tujuh.” Papa lewat, “Muka. Diam. Pulang. Jangan nunggu. Kasur. Enam belas, omong. Bagus. Kerja sudah. Jangan muka ditinggal.” Ojek. Samping kosong, tidak sakit. Rumah, cuci tangan, Mama perut, piring. “Makan. Mama tidak tanya menit. Mama tanya perut. Mama dengar enam belas. Mama tidak dengar stasiun. Kalau piring kosong, Mama kira kamu packing ke lobby sampai lapar.” Nasi. Hangat. Papa, “Kasur. Video. Jangan ngebut jadi orang yang nunggu diam. Nunggu di rumah beda. Ada nasi. Ada Mama. Ada orang yang omong. Enam belas, lulus. Cukup. Kalimat sama.”
***
Jam tujuh chat: “Jalan buka. Saya ojek. Tangan kosong. Izin Mama. Tiga puluh menit. Udah makan. Kamu? Siapa di ojek: saya. Enam belas, maaf. Saya omong.” Gue: “Udah. Nasi Mama. Datang. Pelan. Saya di rumah. Bukan lobby. Enam belas, omong. Bukan perang.” Bel. Ia keringat, muka lelah, tangan kosong, bukan bunga, bukan kotak. “Maaf. Macet. HP diem. Saya omong. Saya nggak nyuruh kamu nunggu di lobby. Terima kasih udah makan. Terima kasih nggak ke stasiun. Enam belas menit. Bukan novel. Tahun ini makan. Kalimat sama. Oke warung. Bukan aula. Jenuh, omong. Saya belum. Bukan tol.” Papa persilakan, kopi, bukan sidang. Mama dari dapur, tidak menyerbu.
“Besok angka. Jangan ngebut file sampai lupa orang yang diem,” kata Papa pelan. “Nengok yang telat lebih baik daripada nunggu yang perang. Papa capek altar. Papa capek diam yang dikira putus. Papa tidak capek hidup. Tahun ini makan. Enam belas, bagus. Kalimat sama. Oke warung.”
“Siap, Pak. Saya dengar. Saya omong. Saya nggak nyuruh Git jadi orang di stasiun. Enam belas, omong. Bukan tiket. Tahun ini bukan gedung. Bukan tol.”
Mama tupperware. “Malam. Dua-duanya. Jangan telat makan. Menit bukan cincin.” Di pagar, angin, anjing, kelingking. “Ini enam belas. Kita omong. Bukan IGD. Bukan stasiun. Bukan blokir. Bukan novel. Oke warung.” “Bukan IGD. Siapa di mobil: saya. Kalau berubah, omong. Kalimat sama. Saya belum jenuh. Kalau iya, omong.” Gue tutup pagar. Dada penuh. Bukan sesak. Lulus diam yang diomongin. Bukan lulus kawin. Cukup. Nyata.
Kamar. Gaun tertutup. Laci tertutup. Tas kerja. Diary: Selasa. Enam belas menit. Makan dulu. Pagar. Omong. Bukan lobby. Bukan novel. Oke warung. Foto Saka. Chat: “Udah makan. Selamat malam. Siapa di mobil?” “Saya. Kalau berubah, omong. Janji, bukan tagihan. Tidur. Jangan ngebut. Enam belas, omong. Tahun ini makan. Kalimat sama. Jenuh, omong. Saya belum.” Gue miring. Tidur sebelum diam jadi luka, sebelum menit jadi novel, sebelum dua kalender jadi dusta. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Selasa lunas enam belas. Dada belum sombong. Anjing. Kulkas. Gelap sopan. Syukur. Tidur. Kasur. Pulang. Hidup. Bukan lari. Siapa di mobil masih. Tahun ini makan. Bukan tol.