Rabu. Bukan lompatan. Hanya malam yang habis. Mandi. Air di bahu tidak mencuci enam belas menit. Sepatu datar. Dapur hidup. Mama nasi, teh, radar. “Balas?” “Tidak ngebut.” “Search?” “Tidak.” “Packing?” “Tidak.” “Ukur?” “Kalau Mama mau ukur celana kerja, oke. Kalau Mama mau ukur calon, tidak. Tahun ini tidak.” “Bagus. Mama cabut pita kalau jari gatal altar. Mama cabut wifi kalau jari gatal pesawat. Mama cabut katalog kalau jari gatal sepi. Mama tanya perut, bukan lingkar. Mama hampir buka kotak jahit tadi subuh. Mama tutup. Mama nunggu kamu di meja dulu.”
Papa koran, kacamata, tidak menoleh dulu. “Rabu. File. Kasur. Kerja. Jangan kabur. Jangan stasiun. Papa dengar pita. Papa tidak dengar calon. Kalau rindu, omong. Kalau Mama nanya ukur, jawab dari meja. Papa capek orang yang diukur lalu packing. Papa capek pita yang dikira cincin. Papa tidak capek hidup. Kalimat sama. Oke warung. Bukan oke ukur. Tahun ini makan. Bukan gedung. Bukan aula. Bukan tol.”
“Siap, Pa. Siap, Ma.” Gue suap, telur, acar. Hangat. Bukan roti gosong. Ojek. Panas. Lobby. Satpam, “Selamat pagi, Nona.” Lift. Rekan plot, yogurt, “Serial? Ukur, gaun, tahun depan, tiket, salon?” “Tidak. Deadline. Celana kerja. Bukan calon. Jangan gaun. Jangan salon.” File. Kopi pahit. Jam sembilan, chat Inara: “Ibu gue gatal pita. Gue cabut. Lo jangan diukur jadi pengantin. Kalimat sama. Oke warung. Jangan oke ukur. Aldo charger. Nat tidur.” Gue ketik di meja, bukan di toilet novel: “Di rumah. Celana kerja boleh. Calon, tidak. Bukan stasiun. Bukan bandara. Bukan salon. Rindu, omong. Packing, tidak.” Jam sepuluh: “Udah makan?” Pantry lima suap, enam. “Udah. File. Kalau Mama pita, saya di meja. Jangan telepon dulu. Jangan packing. Kalimat sama.” “Siap. Audit. Malam. Saya nggak jemput. Saya nggak bawa meteran. Kalau diukur, kamu omong. Saya nengok. Bukan nyuruh ukur. Jenuh, omong. Saya belum. Kalimat sama. Bukan tol. Oke warung. Bukan oke ukur.” Papa angguk dari jauh. Siang file. Setiap ingin search gaun, gue cek tanggal dua kali, tanggal file, bukan tanggal ukur. Setiap ingin buka lemari gaun, gue tutup laci meja. Kantor Rabu tidak boleh jadi salon kedua. Kolom. Rumus. Kopi kedua, masih pahit. Rekan gagal mengintip pita di kepala gue. Tidak ada. Ada angka.
Sore pulang wajar. Ojek. Samping kosong, tidak sakit. Rumah, cuci tangan, Mama perut, piring. Di meja, kotak jahit terbuka, pita kuning, bukan katalog. Mama sudah menutupnya setengah. “Makan. Mama tidak tanya lingkar. Mama tanya perut. Kalau piring kosong, Mama kira kamu packing ke salon, atau ke stasiun, atau ke altar.” Nasi. Hangat. Bukan roti gosong. Papa, “Kasur. Pita. Jangan ngebut jadi orang yang diukur sampai lupa anak yang pulang. Jawab. Packing jangan. Ukur calon jangan. Kalimat sama. Kamu di meja. Celana longgar, boleh. Gaun, tidak. Cukup. Oke warung.”
***
Malam teh, bukan sidang. Mama kue. Pita sudah di kotak. “Gaun di lemari. Nanti. Jangan dipakai karena pita. Mama senang kamu di sini, bukan di salon. Mama dengar celana. Mama tidak dengar calon. Bagus. Makan kue. Rindu bukan tiket. Pita bukan cincin. Mama hampir ukur. Mama sadar. Mama tutup. Tahun ini makan. Bukan gedung. Bukan aula.” Gue suap. Manis. Hidup. Papa angguk. “Jawab. Kasur. Pita di kotak. Kamu di meja. Cukup. Oke warung.”
Gue duduk di kursi yang sudah tidak goyang. “Ma, saya oke kalau celana kerja longgar. Saya tidak oke kalau badan saya diukur sebagai tahun depan. Tahun ini makan. Tahun depan omong. Omong bukan ukur. Kalau Mama gatal, omong. Jangan pita diam-diam. Saya belum jenuh. Kalau iya, omong. Packing, tidak. Oke warung. Bukan oke ukur. Kalimat sama.”
Mama mengangguk, radar yang lulus. “Bagus. Mama dengar. Mama percaya belakangan. Mama tidak ukur malam ini. Mama tidak ukur tahun ini. Nanti. Bukan sekarang. Makan. Kantor besok. Kasur. Mama cabut pita kalau jari gatal lagi.” Papa, “Cukup. Jangan sombong. Lulus satu pita bukan lulus kawin. Kalimat sama. Tahun ini makan. Bukan tol.”
Mas Rillo chat: “Udah makan? Ina cerita pita. Saya nggak nyuruh ukur. Saya nengok. Saya nggak bawa meteran. Kalau kamu rindu, omong. Jangan diam. Jangan koper. Siapa di mobil: saya. Kalimat sama. Oke warung. Bukan oke ukur.” Gue: “Udah. Nasi. Pita di kotak. Packing, tidak. Rindu, omong. Tahun ini makan. Bukan tol. Bukan salon.” Video sebentar, ia di kamar, nasi kotak, bukan meteran. “Udah makan?” “Udah. Mas?” “Udah. Kotak. Ada. Saya omong. Saya nggak ke salon. Saya nggak nyuruh kamu diukur. Dua rumah. Satu aturan. Omong. Kalimat sama. Jenuh, omong. Saya belum.” Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti.
Setelah itu, Inara: “Lo utuh? Jangan injek. Jangan search gaun. Jangan packing. Jangan oke ukur.” Gue: “Utuh. Nasi. Kue. Pita di kotak. Jari diam. Koper kosong. Kalimat sama. Oke warung.” Mama ambang, “Jari?” “Diam, Ma. Pita. Udah makan. Bukan cincin. Bukan packing. Saya di sini. Celana, bukan calon. Tahun ini makan.” “Bagus. Tidur. Jangan ngebut. Kantor besok. Kasur. Mama puas kamu di sini, bukan di salon. Mama dengar pita. Mama tidak dengar ukur.” Pintu.
Kamar. Gelap. AC. Gaun tertutup. Laci tertutup. Tas kerja. Koper foyer kosong. Diary: Rabu. Pita. Tidak ukur. Bukan packing. Bukan salon. Rindu, omong. Nasi Mama. Kalimat sama. Oke warung. Bukan oke ukur. Gue miring. Tidak packing. Tidak buka katalog. Tidak ke stasiun. Tidak search gaun. Gue tidur sebelum pita jadi tiket, sebelum ukur jadi altar, sebelum dua kalender jadi dusta, sebelum celana jadi alasan ngebut. Cukup. Nyata. Aus. Bukan berhenti. Rabu lunas pita yang dikembalikan. Dada belum sombong. Anjing. Kulkas. Gelap sopan. Napas. Syukur. Tidur. Kasur. Pulang. Hidup. Bukan lari. Siapa di rumah masih. Kalimat sama. Bukan tol. Bukan packing. Tahun ini makan. Bukan gedung.