Beberapa bulan berlalu. Rumah ini memang sudah lama tidak lagi terdengar tangisan seperti malam itu. Hanya saja, muram masih terlihat di wajah wajah mereka. Setelah kepergian Kang Enjang yang secara tiba-tiba di Kebon Tembang membuatku bertanya-tanya tentang apa yang terjadi malam itu, Nyai semakin terlihat bungkam. Sekarang-sekarang ini Abah juga sering kali keluar rumah untuk mengunjungi kuncen makam Bagja seperti biasanya. Sementara itu A Entis, anak kedua Nyai yang pertama kali datang menjemputku dengan mobil di stasiun, lebih sering datang ke rumah Nyai untuk menghibur setelah beberapa bulan lamanya ia jarang pulang karena tinggal di luar kota yang juga bersama istrinya. Teh Ima, yang merupakan istri dari A Entis sering kali ikut ke rumah Nyai. Memasak lauk untuk kami makan, membantu