Tanganku gemetar. Aku tidak berani membuka mata, hanya bisa berteriak dan menangis. Jelas kulihat dengan mata kepala ku sendiri bahwa apa yang kulihat benar-benar sebuah kepala berambut tanpa tubuh. Seperti bola yang menggelinding yang ditutupi rambut. Wajahnya menghitam seperti dipenuhi luka bakar. Aku bahkan masih mengingatnya dengan jelas. Itu benar-benar mengerikan. Semuanya tak lepas dari ingatan.
“Aya naon, Gis?”
Tiba-tiba, kurasakan seseorang memeluk tubuhku. Aku menangis makin menjadi, rupanya itu Teh Ima, orang yang menyuruhku untuk mengambil tampah di kolong bale tadi.
“Aya naon?”
Ia terdengar panik, sementara aku masih menutup mata. Sambil terpatah-patah aku bicara, “Itu, kepala, Teh. Ada kepala.” Mencoba untuk memberi tahu pada Teh Ima tentang apa yang kulihat baru saja.