Aku melihatnya di sana. Duduk di keramaian tapi terasa sepi. Saat aku tak sengaja menatap matanya yang terlihat kosong, jeda terasa hanya untuk kami berdua. Ia masih terdiam, tidak melakukan apapun. Mungkin saat ini telinganya terdengar bising, kepalanya terasa ramai, tapi pikirannya telah pergi entah ke mana. Begitu aku mencoba berlari menghampirinya, waktu seolah-olah berputar lebih lambat. Membuat gerakan kakiku yang cepat berubah tempo seolah sedang di slow motion dengan tepat. Sore itu, setelah apa yang menimpaku belum lekang di kepala, aku kembali menyaksikan kejadian yang menambah beban pikiran.
“Ya Allah, Ren!”
Tidak. Itu tidak keluar dari bibirku. Aku hanya bisa bungkam melihatnya seperti orang lain yang baru saja tertabrak kendaraan dan membuat kepala nya cedera. Lelaki itu me