Aaron mengajak Cika ke sebuah tempat, jelas ia mengenal banyak orang yang bisa kapan saja ia hubungi.
"Kita mau kemana? " Tanya Cika.
Aaron berhenti dan berbalik menatap Cika. "Sorry, kau harus segera menemukan lelaki idaman ayahmu, mungkin dengan ini kau bisa dimaafkan. " Ucap Aaron.
Cika mengira jika Aaron akan mengajaknya menemui Luna tapi ternyata bukan. Aaron mengajak Cika kesebuah salon yang merupakan langganan keluarganya .
"Hai Aaron. Waaaah kau bawa siapa? " Tanya pemilik Salon.
"Kau tangani dia! "
Cika dibawa masuk dan segera didudukkan didepan cermin. Meskipun sempat bingung karena Cika tak pernah perawatan ke Salon. Tasnya ia titipkan pada Aaron selama ia di make over.
Cika khawatir jika rambut panjangnya akan dipotong menjadi pendek.
"Sedikit saja. "
Cika hanya pasrah saat wajah dan rambutnya dimodivikasi.
Ia melirik Aaron yang duduk dibelakangnya.
Cika juga dipilihkan banyak model baju sesuai dengan dirinya, tak terlalu seksi tapi elegan.
"Perfect."
Kacamata Cika juga dilepas dan diganti dengan soflen yang pas untuknya.
Sekian lama menunggu akhirnya Cika selesai dengan penampilan barunya.
Tatapan Aaron menunjukkan sesuatu tapi seketika langsung berpaling.
"Bagaimana?" Tanya Cika.
Aaron hanya mengangguk, ia seakan sungkan untuk memuji.
"Eh jangan, biar aku saja. " Ucap Cika saat Aaron akan mengulurkan kartunya.
Tapi pemilik salon lebih dulu menerimanya. "Jangan khawatir, uangnya tak akan habis. " Ucapnya.
Saat mereka keluar dari salon mereka berpapasan dengan Aries. Tatapan Aaron dan Aries sama-sama tajam, meskipun tak saling bicara tapi keduanya nampak marah.
Aaron berlalu begitu saja tapi saat Cika akan mengikutinya tiba-tiba Aries bertabrakan dengan seseorang hingga dompetnya terjatuh.
"Tuan, tuan. " Teriak Cika.
Aries dan Aaron sama-sama menoleh dari arah yang berbeda.
"Dompet anda terjatuh. " Ucap Cika.
"Terimakasih." ucap Aries.
Aaron mengantar sampai ke depan unit Cika.
"Terimakasih ya, semoga setelah ini aku bisa mendapatkan kekasih dan ayah akan memaafkanku. " Ucap Cika.
Lagi-lagi Aaron hanya mengangguk.
"Oh ya, berteman. " Cika mengulurkan tangannya dan disambut oleh Aaron. Tandanya mereka sudah menjadi teman.
Aaron kembali ke unitnya, tiba-tiba ia mengeluarkan sesuatu dari dalam bajunya. Sebuah buku harian yang ia ambil dari tas milik Cika.
Ia mengambil minuman botolnya dan ia bawa duduk di sofa. Ia buka buku harian Cika entah mengapa ia sangat penasaran dengan isinya.
Jakarta, ini adalah tempat pertamaku untuk jauh dari keluarga. Dan ini dalah pertama kalinya aku jauh dari keluargaku. Aku terpaksa merantau demi cita-citaku.
Aku ingin mendirikan sekolah untuk anak-anak yang tidak mampu. Banyak anak-anak di desa mereka putus sekolah karena masalah ekonomi dan juga jarak.
Tapi saat aku sampai di sini, aku baru sadar jarak antara rumah dan sekolah bukanlah masalah yang utama.
Disini aku banyak menemukan anak-anak yang seolah tak memiliki masa depan karena tak bersekolah.
Kata ayah pendidikan adalah nomor satu. Dan dari dulu ayah terus menyemangatiku agar aku rajin belajar.
Tapi sayangnya anggapan ayahku salah, ternyata wanita pintar saja tak cukup menarik di mata laki-laki.
Tetap saja cantik adalah yang paling utama bagi mereka. Melihat perempuan cupu sepertiku pasti mereka akan langsung mengatakan tidak.
Aku dan adikku sangat berbeda, dia sangat cantik dan mengerti fashion. Berbeda denganku yang hanya berteman dengan tumpukan buku.
.....
Cika nampak percaya diri dengan penampilan terbarunya. Rambutnya yang biasa ia kucir kini ia gerai indah. Ia poleskan bedak tipis diwajahnya dan sedikit ia beri perona wajah.
Saat ia membereskan barangnya ia tersadar jika buku hariannya tak ada.
"Kok tidak ada? Kemana? " Cika mencari ke beberapa sudut apartemennya tapi karena sudah siang ia harus segera berangkat bekerja.
Tak lupa ia mampir ke unit milik Aaron yang ada di lantai bawahnya. Beberapa kali ia menekan bel dan akhirnya Aaron keluar sambil meminum kopi.
"Hai. Bagaimana penampilanku? " Cika memutar badannya dan memperlihatkan penampilannya.
Aaron hanya memenjepkan bibirnya, padahal ingin sekali ia memuji Cika.
"Ya sudah ya. Bye. " Cika langsung berangkat ke kantor.
Sampainya di kantor ia menjadi pusat perhatian banyak orang termasuk mereka yang meremehkan Cika.
Mereka tak percaya jika Cika sudah berubah penampilannya.
"Cik, kau yakin? Ini kau? " Tanya Maudy.
Cika tersenyum sambil mengangguk. "Bagaimana penampilanku? " Tanya Cika.
"Cantin Cik, sumpah aku pangling sekali. " Ucap Maudy.
Cika sambil memeriksa laporan seperti biasanya, meskipun penampilannya yang sudah berubah tapi ia tetap tak merasa paling cantik.
Ia tetap fokus bekerja secara profesional.
"Cika, ,,, bagi nomer telfon dong. "
"Enak saja, laporan mana laporan?"
Bukannya nomer telvon Cika malah mereka mendapat omelan dari Cika.
Tak banyak yang mempunyai nomer telvonnya hanya beberapa orang yang dekat saja dengannya.
Ditengah pekerjaannya Cika teringat dengan buku hariannya. Ia khawatir jika jatuh ke tangan orang yang salah.
"Aku kemarin cuma ke salon, tasnya aku titipkan pada Aaron... Haaaaa masak iya dia yang mengambilnya. " Gumam Cika.
Sore ini setelah selesai bekerja Cika ingin mengajak Nadia nongkrong di cafe. Mereka sudah lama tak menikmati waktu setelah selesai bekerja.
"Di cafe sana saja Cik, ada menu terbaru katanya. " Ajak Maudy.
"Ayo.
Mereka menuju ke Cafe dengan berjalan kaki, jalanan yang sangat macet akan sangat lama untuk membuat mereka untuk cepat sampai.
Cika dan Maudy langsung mencari meja dan memesan menu yang mereka mau.
Ternyata disana juga ada Riswan dan teman-temannya.
Riswan melihat penampilan terbaru Cika jelas ia terpesona. Apalagi kibasan rambutnya yang sangat menarik baginya.
Ia berniat untuk mendekate Cika. Riswan memperbaiki penampilannya dan berjalan dengan aura yang menawan.
"Selamat sore. Kau pasti ingat padaku kan? " Tanya Riswan.
Tatapan Cika menunjukkan ia tak suka pada Riswan.
"Siapa? " Tanya Maudy tanpa suara.
"Ya jelas aku ingat.
Mau, dia adalah lelaki yang merendahkan keluargaku, dia menganggap ayahku yang hanya kepala desa berbeda kasta dengan keluarganya yang semua keluarganya mempunyai jabatan. Dan aku hanya gadis cupu yang sekali melihat saja pasti keluarganya akan langsung menolak. " Ucap Cika.
Riswan merubah mimik wajahnya seolah ia menyesal dengan ucapannya.
"Jadi dia pria kesepuluh yang menolakmu? Karena menganggap kau Cupu? Dan sekarang dia sok akrab mau mendekatkmu? Disini sudah jelas kasta siapa yang lebih rendah tuan, jadi lebih baik anda pergi. " Usir Maudy.
Riswan berbalik sambil menahan emosi. Saat itu mereka sedang ada di tempat umum dan akan sangat berbahaya jika dia salah langkaah.
"Kasian baru kali ini ada perempuan yang menolakmu. Dia bukan wanita main-main bro. "