"Ya." Jawab Aaron.
Beberapa menit kemudian lift kembali menyala dan akhirnya mereka bisa keluar dari sana.
Mereka kembali ke apartemen dengan kendaraan masing-masing.
Sampai di apartemen Cika langsung istirahat, rasanya tubuhnya sangat pegal sekali dan besok ia harus tetap bekerja.
Saat ia mulai terlelap ia mendengar suara ketukan pintu. Dengan malas ia membukanya dan melihat Icha dedepannya.
"Aku dan Putra akan kawin lari. " Ucap Icha.
Cika terkejut dengan pernyataan adiknya.
"Jangan gila kamu Cha, pasti ayah akan marah. " Ucap Cika.
"Biarkan saja, dari pada aku harus menunggumu menikah lebih dulu dan itu entah kapan Cika. Aku lelah Cika, kau tak ada usahanya sama sekali. " Ucap Icha.
Cika menelan salivanya menelan pahitnya ucapan Icha. Matanya berair karena sangat perih sekali ucapan yang Icha lontarkan.
Setelah Icha kembali ke kamarnya, Cika menyambar katalog yang ada di meja ruang tamu dan langsung keluar dari unitnya.
Ia ke lantai tempat unit Aaron berada. Cika menekan bel beberapa kali sampai Aaron membukakan ia pintu.
"Boleh aku masuk? " Tanya Cika.
Aaron menutup pintu setelah Cika masuk tanpa mereka tahu ada orang yang melihatnya.
"Aku ingin benar-benar bertemu pacarmu, aku ingin merubah diriku untuk menjadi cantik. " Ucap Cika.
Cika menunjukkan foto Luna yang ada di katalog. "Aku mohon aku ingin bertemu dengan kekasihmu, aku mohon. " Cika memohon agar Aaron menuruti permintaannya.
Aaron menggaruk keningnya yang tak gatal dan tiba-tiba Luna masuk dengan sebotol minuman yang ada ditangannya.
Berjalannya sempoyongan karena ia sudah dipengaruhi alkohol. "Sayaaang aku daaa.... Kalian sedang apa? Kau bukankah gadis cupu yang waktu itu kan? Hei kau sedang apa? " Tanya Luna.
"Luna aku.... "
Cika hendak menjelaskan tapi Luna mengangkat tangannya. Senyum Luna sumbing dan terlihat merendahkan Cika.
"Penampilannya saja sok alim tapi ternyata... "
"Luna aku hanya... "
"Hallah." Luna mendorong Cika hingga Cika terjatuh ke lantai. Aaron segera membantu Cika bangun dan itu membuat Luna semakin marah.
"Dia datang hanya ingin bertemu denganmu. " Ucap Aaron.
"Hallah bulsyit. Ternyata kau begini dibelakangku ya. Kau bermain dengan si cupu ini dan aku tahu seleramu ternyata rendahan." Racau Luna.
Aaron nampak menahan emosi sambil menggenggam tangannya sendiri.
"Tidak tidak Luna, aku hanya ingin bertemu denganmu. "
Tak terima dengan penjelasan Cika, Luna melempar botol minumannya dan mengenai kaca yang ada dibelakang Aaron.
Pecahan beling itu mengoyak baju Aaron dan beberapa tertancap dipunggungnya.
"Mulai sekarang kita putus. " Luna tanpa merasa bersalah ia langsung pergi.
"Cepat kejar, ayo kejar." Ucap Cika.
Aaron tak mempedulikan Luna sama sekali bahkan ia senang jika akhirnya Luna memutuskannya.
"Astaga darah. Kau terluka, kita harus ke rumah sakit. " Ucap Cika.
"Haaaaaa. Astaga, ini luka apa? Apa gigitan buaya? " Saat Aaron melepas bajunya Cika melihat goresan panjang bekas sabetan samurai.
Aaron diam saja, bahkan Cika mencari kotak P3Pun Aaron tak menunjukkan keberadaannya.
"Astaga, sebentar. " Ucap Cika.
Cika berlari kembali ke unitnya untuk mengambil peralatan kesehatan lalu kembali lagi ke unit Aaron.
Tanpa ia sadari dua orang telah melihatnya.
Cika duduk dibelakang Aaron untuk mengobati luka Aaron, memang tak cukup dalam dan tak harus dijahit.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Aaron.
"Sssttt diamlah. "
"Kau pulang saja. " Ucap Aaron.
Tapi Cika tak mau dan ia terus mengobati luka Aaron.
Saat akan selesai tiba-tiba bel unit Aaron berbunyi.
Cika tak berfikir apapun ia buka dan ternyata kedua orang tuanyalah yang datang dan saat ini ada dihadapannya.
Karena lama terdiam Aaron melihat siapa yang datang ke unitnya dengan keadaan yang masih bertelanjang d**a.
"Ayah, Cika hanya... "
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi Cika sampai kaca mata Cika terjatuh ke lantai.
Pipi Cika terasa sangat panas dan kebas, apalagi ini tamparan pertama baginya.
Aaron ingin membantu tapi ia tahu pasti akan membuat masalah semakin runyam.
Dada Andre nampak naik turun menahan emosi yang ada.
"Malam ini kita pulang, siapkan pernikahan Icha dan anggap anak sulungku sudah tiada. " Ucap Andre.
"Ayah, Cika hanya. ... "
Andre berlalu tanpa mempedulikan Cika.
"Bu Cika hanya mengobati lukanya bu. "
"Raaatiiih." Pekik Andre agar Ratih segera menyusulnya.
Cika menangis terisak, ia tak bisa melawan ayahnya. Tapi sekedar menjelaskan pun ia juga tak bisa.
Cika menatap Aaron lalu ia segera menyusul kedua orang tuanya. Andre dan Ratih sudah membereskan semua barang-barangnya, malam ini mereka benar-benar akan kembali ke desa.
"Ayah Cika hanya menolongnya punggungnya terluka ayah. " Penjelasan Cika tak diperulikan.
"Cepat Icha! " Pekik Andre.
Cika mencoba menahan Andre tapi justru ia dihempaskan sampai terjatuh.
"Cika menangis melihat kepergian keluarganya.
" Mas tunggu mas, kita dengarkan penjelasannya dulu." Mohon Ratih tapi Ratih pun tak bisa melawan suaminya, ia sangat patuh kepada Andre.
Cika ke kamarnya dan sedikit menyesal, seandainya ia tak datang ke unit Aaron pasti semua itu tak akan terjadi.
Cika menangis sampai pagi, saat ia bangun matanya nampak sembab. Ia segera bersiap untuk brangkat kerja .
Tanpa sarapan dan bahkan wajahnya saja masih sangat sendu.
Ia menyempatkan waktu untuk mampir ke unit Aaron. Semalam ada dua kejadian sekaligus karena kecerobohannya.
"Aku meminta maaf, gara-gara aku kau diputuskan oleh Luna. " Ucap Cika.
"Hem tak masalah. Kau mau berangkat bekerja? " Tanya Aaron.
Cika menganggukkan kepalanya. Wajahnya masih sendu dan sedih. Bagaimana bisa ayahnya akan memaafkannya nanti.
"Ini hoodiemu, sudah ku cuci. " Ucap Cika.
Cika segera berangkat ke kantor, wajahnya yang sendu berhasil menarik perhatian Tony.
"Aku hanya sedih saja karena ayah dan ibu kembali ke desa. " Ucap Cika.
"Oke baiklah. Selamat bekerja. " Ucap Tony.
Cika tetap profesional bekerja meski hatinya sedang kalut. Semua pekerjaannya selesai dalam waktu yang tepat.
Hingga ia sudah waktunya pulang, Cika segera membereskan barang-barangnya.
Cika melihat Aaron sedang berdiri didepan kantor.
Aaron yang juga melihat Cikapun mengibaskan tangannya agar Cika segera mendekat padanya.
"Kau disini? " Tanya Cika.
Aaron menganggukkan kepalanya. "Apa ayahmu masih marah? " Tanya Aaron.
Cika mengangguk. "Dia tak menjawab telvonku. " Jawab Cika.
"Cika, aku kebetulan mau lewat apartemenmu apa kau mau pulang bersamaku? " Tanya Tony.
"Tidak, kalian duluan saja. " Ucap Cika.
Tony mengamati Aaron dengan penampilan yang begajulan.
"Ayolah Tony sepertinya ia mau berkencan. " Ucap teman kerja Cika yang juga merupakan bawahan Tony.