Orang kedua puluh empat itu tidak ditemukan dari tanda tangan — tanda tangan bisa dipalsukan, dan Rendra tahu itu, dan Arenta tahu bahwa Rendra tahu itu. Orang kedua puluh empat ditemukan dari arah yang berlawanan: dari barangnya.
Tiga lot komponen industri yang dibeli dengan identitas kakek di pegunungan itu tidak mengangkut dirinya sendiri ke mana-mana. Seseorang mengangkutnya dari halaman gudang sitaan, delapan tahun lalu, dengan satu kendaraan — dan buku parkir mencatat nomor polisi kendaraan itu dengan tinta yang sudah pudar tetapi masih terbaca: satu pikap tua, milik sebuah usaha rongsokan elektronik di kawasan industri kecil di timur kota, dua jam dari gudang sitaan.
"Pikap itu milik perusahaan yang masih berdiri," kata Surya, meletakkan hasil pelacakan di meja Arenta. "Pemiliknya sama sejak dua puluh tahun: seorang pedagang rongsokan bernama Kohar. Dan ini bagian yang menarik — pikap itu memang dipakai untuk mengangkut lot lelang, tapi lot-nya tidak pernah masuk ke stok rongsokan itu. Aku memeriksa pembukuan mereka yang diserahkan untuk pajak: tidak ada tiga lot komponen industri itu. Barangnya lewat, tidak berhenti."
"Rongsokan itu bukan tujuan," kata Arenta. "Rongsokan itu kendaraan. Pertanyaannya: apakah Kohar ini tahu dia sedang mengangkut untuk siapa, atau dia cuma dibayar untuk mengangkut."
Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya, dan cara itu bukan surat perintah — surat perintah mengumumkan kedatangan, dan kedatangan yang diumumkan membuat orang menyiapkan jawaban. Caranya adalah sepasang mata yang tidak tercatat, satu sore yang tidak mencurigakan, dan satu perbincangan tentang barang bekas.
Arenta yang pergi — dengan pakaian sipil, dengan Rendi sebagai sopir dan mata kedua, dengan satu pelajaran yang sudah dibicarakan di mobil sepanjang dua jam perjalanan: kita bukan polisi hari ini, kita pembeli, dan pembeli tidak bertanya tentang penjual lain; pembeli bertanya tentang barang, dan mendengarkan, dan membiarkan orang bicara tentang apa pun yang ingin dibicarakannya.
Rongsokan elektronik Kohar berdiri di deretan gudang kecil yang semuanya menjual sisa-sisa dari zaman yang sama: televisi tabung yang menunggu tambangnya diambil, radio-radio tua, tumpukan papan sirkuit seperti tumpukan daun kering, dan bau — bau yang oleh hidung Arenta langsung dikenali dari dua puluh tahun pekerjaan: timah solder tua, plastik panas, dan debu komponen.
Kohar sendiri kurus, enam puluhan, dengan kacamata tambal dan tangan yang tidak berhenti memilah bahkan ketika berbicara — tangan pedagang yang sudah memilah selama empat puluh tahun dan akan memilah di dalam tidurnya.
"Cari apa, Bu? Komponen? Kabel? Saya punya semua, asal jangan cari yang baru. Yang baru mahal dan bohong. Yang tua begini yang jujur."
"Saya cari timer mekanik, Pak. Model lama, yang putarannya masih bunyi krek-krek. Buat tugas perbaikan."
Tangan Kohar berhenti memilah — hanya satu detik, hanya sekejap, tetapi Arenta sudah dua puluh tahun membaca orang membaca barang, dan satu detik itu ada di sana: pengenalan.
"Timer mekanik," ulang Kohar, dan tangannya mulai memilah lagi, sedikit lebih cepat. "Itu barang langka sekarang, Bu. Dulu banyak. Sekarang semua digital, semua bohong, semua tidak bisa dipercaya. Timer mekanik itu jujur — dia bunyi, dia berputar, dia selesai. Seperti orang." Ia memandang Arenta dari atas kacamata tambalnya. "Aneh. Bulan ini sudah dua kali ada yang mencari timer mekanik model lama."
"Memangnya siapa yang pertama, Pak?" tanya Arenta, dengan nada orang yang hanya ingin tahu, sambil mengangkat satu radio tua dan memutar-mutar tombolnya.
"Ah, bukan pembeli biasa." Kohar tertawa kecil, dan tawa itu ada getarannya, sedikit, di ujungnya. "Orang itu tidak pernah membeli langsung dari saya. Dia lewat perantara — anak muda, datang dengan daftar, bayar tunai, tidak pernah menawar. Yang aneh: daftarnya itu, Bu. Saya empat puluh tahun jualan barang bekas. Saya tahu daftar orang yang menambal, daftar orang yang menimbun, daftar orang yang tidak tahu apa yang dibelinya. Daftar anak muda itu bukan tiga-tiganya. Daftar itu daftar orang yang sedang membangun sesuatu — pelan-pelan, tahun demi tahun, komponen demi komponen. Seperti orang menulis buku." Ia berhenti, dan menambahkan, dengan nada orang yang sudah lama ingin mengatakan ini kepada seseorang yang mengerti: "Saya tidak pernah tanya. Di bisnis ini, pertanyaan itu barang mahal. Tapi saya pedagang, Bu, bukan batu. Saya membaca daftar-daftar itu seperti saya membaca segalanya. Dan daftar itu membuat bulu saya berdiri."
Di dalam dadanya, di bawah wajahnya yang datar, Arenta mencatat semuanya: anak muda. Perantara. Tunai. Tahun demi tahun.
"Anak mudanya masih datang, Pak?"
"Sudah lama tidak." Kohar mengangkat bahu. "Dua tahun, mungkin. Tapi kalau dia datang lagi—" pedagang itu berhenti, dan untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, tangan itu benar-benar berhenti memilah, dan matanya memandang Arenta lurus dari balik kacamata tambal, dan pedagang tua itu berkata dengan suara yang tiba-tiba lebih tua: "Ibu bukan pembeli, ya. Ibu terlalu tenang untuk pembeli. Pembeli itu gelisah. Ibu ini seperti dia — orang yang pertama itu, delapan tahun yang lalu, yang datang melihat barang sebelum anak muda itu mulai datang. Dia juga terlalu tenang. Orang-orang yang terlalu tenang selalu datang ke tempat saya untuk sesuatu yang tidak tertulis di daftar."
Dan Arenta menaruh radio tua itu kembali ke tumpukannya, pelan, dan memandang pedagang tua yang empat puluh tahun membaca daftar orang, dan memutuskan bahwa orang ini sudah terlalu lama berdiri terlalu dekat dengan sesuatu yang berbahaya untuk dibohongi.
"Bapak benar, Pak. Saya bukan pembeli. Dan kalau anak muda itu datang lagi — atau orang yang terlalu tenang itu datang lagi — Bapak jangan menghubungi siapa pun kecuali nomor ini." Ia menuliskan satu nomor di kertas, nomor langsung ke meja operasi. "Dan Bapak tidak mengatakan kepada mereka bahwa kami ke sini. Bukan untuk kami, Pak. Untuk Bapak. Orang yang menulis buku selama delapan tahun tidak suka ada yang membaca halaman-halamannya sebelum selesai."
Kohar memandang kertas itu, dan kemudian mengangguk — satu kali, dalam — dan menyelipkannya ke saku baju dalam, di sebelah dadanya, di tempat pedagang-pedagang tua menyimpan hal-hal yang tidak untuk dijual.
Di mobil, dalam perjalanan pulang dua jam, Rendi menyetir dalam diam yang akhirnya pecah di tengah jalan: "Bu. Pedagang itu membaca daftarnya selama delapan tahun dan tidak pernah melapor."
"Tidak," kata Arenta, memandang lampu-lampu kota yang mulai berkedip di ujung jalan. "Dan itu pelajaran untukmu, Rend: orang membaca surat-surat orang lain setiap hari, dan kebanyakan memilih untuk tidak menjawab. Dia memilih diam — karena takut, karena dagang, karena hidupnya lebih penting dari buku orang lain. Itu bukan kejahatan. Itu manusia. Tugas kita bukan menghakiminya. Tugas kita adalah memastikan, mulai sekarang, kalau surat itu lewat lagi di depan matanya, dia tahu kepada siapa menjawab."
Dan di suatu tempat di kota yang didekati mobil itu, seorang perakit sedang bekerja di atas mejanya, tidak tahu — belum tahu — bahwa satu pedagang rongsokan tua di timur kota baru saja menulis satu halaman kecil dalam buku besarnya, dengan kacamata tambal dan tangan yang berhenti memilah.