Panggilan itu datang pada hari Selasa siang dan tidak ada hubungannya dengan Rendra Pakpahan — dan justru karena itulah panggilan itu penting, seperti yang akan dijelaskan Arenta kemudian kepada Rendi: dunia tidak berhenti mengirim bom hanya karena satu perakit sedang menulis buku besarnya; dunia terus mengirim bom-bom kecil dari tangan-tangan kecil, dan bom-bom kecil itu harus dibaca oleh operator-operator baru, karena begitulah korps ini bertahan hidup.
Paket mencurigakan di sebuah kantor kelurahan — kotak sepatu, tanpa alamat, dengan kabel yang terlihat menjuntai dari tutupnya, ditemukan petugas kebersihan di lobi. Kantor sudah dievakuasi radius seratus meter. Tim Bara sedang di panggilan lain di ujung kota. Tim yang tersedia: tim dua, dengan operator lapangan yang sedang cuti, dan satu Briptu Rendi dengan setahun masa kerja dan dua sore seminggu di gudang barang bukti bersama seorang instruktur yang tangannya tidak pernah salah.
"Kau yang turun," kata Arenta di mobil, dalam perjalanan ke lokasi. "Aku jadi matamu. Sama seperti kau dulu jadi mataku — sekarang dibalik. Kau yang memegang, aku yang menonton, dan aku tidak akan menyentuh apa pun kecuali kau memintanya atau kau salah langkah ke arah kematian. Ini device-mu, Rend. Baca dia."
Rendi menelan ludah. "Bu. Ini device pertamaku yang sungguhan."
"Semua device pertamamu yang sungguhan akan selalu menjadi device pertamamu yang sungguhan," kata Arenta. "Tidak ada latihan untuk bagian itu. Yang ada adalah ini: robot dulu, X-ray dulu, disruptor kalau bisa, dan tangan hanya kalau semuanya habis. Mulai dari buku. Buku adalah temanmu sampai buku tidak cukup — dan kau akan tahu kapan buku tidak cukup, karena buku akan berhenti menjawab pertanyaanmu. Sekarang kerjakan."
Di lokasi, prosedur berjalan seperti prosedur selalu berjalan: robot masuk dulu, dengan lengan manipulatornya yang pelan dan mata kameranya yang dingin. Rendi mengendalikannya dari mobil komando dengan tangan yang — Arenta perhatikan, dan catat dalam hati dengan sesuatu seperti kebanggaan yang tidak diucapkan — tidak gemetar. X-ray portabel ditembakkan dari sudut menyerong, dua kali, dan gambarnya naik ke layar.
Dan Arenta, yang duduk di sebelah Rendi dengan tangan di pangkuan dan mulut yang tertutup, memandang gambar itu dan langsung membaca apa adanya: rangkaian amatir. Kasar. Kabel yang terlalu panjang, sambungan yang terlalu banyak, timer digital murah, dan muatan yang cukup untuk merusak satu lobi tetapi tidak cukup untuk meruntuhkan bangunan — device dari tangan yang belajar dari internet, bukan dari buku, apalagi dari seorang jenius. Device bodoh yang berbahaya, seperti kebanyakan device di dunia.
Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Ini device Rendi.
"Analisis, operator," katanya, dengan nada resmi. Supaya tercatat. Supaya Rendi mendengar dirinya sendiri berpikir dengan suara keras.
"Rangkaian kasar, Bu," kata Rendi, matanya menempel ke layar. "Sumber daya dari baterai sembilan volt di pojok kanan. Timer digital sebagai pemicu waktu — angkanya berjalan, sisa empat puluh menit lebih, jadi tidak ada tekanan langsung. Jalur dari timer ke detonator terlihat jelas, tidak ada cabang yang mencurigakan — tapi ini kabelnya terlalu panjang semua, tidak rapi, jadi pembacanya bukan perakit rapi, ini amatir. Dan amatir berarti—" ia berhenti, dan Arenta melihatnya mengingat, melihat sore-sore di gudang itu bekerja, "—amatir berarti bahayanya bukan di jebakan pintar. Bahayanya di kesalahan. Solder dingin. Isolasi yang mengelupas. Sambungan yang bisa tersentuh kalau device ini diganggu kasar. Jadi disruptor dari dekat terlalu berisiko — getarannya bisa menyatukan apa yang seharusnya terpisah. Rekomendasi saya: disruptor jarak jauh, sudut menyerong, atau intervensi manual dengan tangan yang sangat pelan."
Arenta memandang layar itu, memandang analisis itu, dan tidak menemukan satu pun yang salah. "Lanjutkan."
"Disruptor dulu, Bu. Sesuai hierarki. Kalau disruptor berhasil, selesai. Kalau gagal—" Rendi menarik napas, "—baru saya turun."
Disruptor air ditembakkan dari jarak dan sudut yang dipilih Rendi sendiri, dengan perhitungan yang ditulisnya di papan mobil komando. Semburan air bertekanan ekstrem itu merobek kotak sepatu itu lebih cepat dari sinyal listrik mana pun — dan gambar dari robot memperlihatkan hasilnya: device itu terbelah, timer mati, baterai terlempar, jalan raya kecil dari plastik dan kabel berserakan di lobi kelurahan seperti mainan yang dibongkar anak kecil.
Render-safe. Device pertama Briptu Rendi, tanpa satu tangan manusia pun menyentuhnya, dengan buku, dengan hierarki, dengan benar.
Di perjalanan pulang, Rendi menyetir dengan wajah yang berusaha tetap datar dan gagal total — senyum itu keluar dari mana-mana, dari sudut matanya, dari tangannya di kemudi, dari caranya berhenti di lampu merah.
"Bu. Saya menjinakkan bom pertamaku hari ini."
"Tidak," kata Arenta. "Kau menjinakkan bom pertamamu dengan benar hari ini. Dua hal yang berbeda, dan bedanya adalah seluruh pekerjaan ini. Banyak orang menjinakkan bom pertamanya dengan beruntung. Kau melakukannya dengan buku, dengan hierarki, dan dengan tidak menyentuh apa yang tidak perlu disentuh — dan itu berarti kau akan menjinakkan bom keduamu, dan kesepuluhmu, dan keseratusmu, dengan cara yang sama. Itu namanya operator. Yang lainnya namanya calon korban."
Rendi mengangguk, serius, mencoba menampung kalimat itu seperti menampung gelar.
"Tapi satu hal, Rend." Arenta menunggu sampai anak muda itu memandangnya. "Tadi kau membaca device itu amatir dalam waktu berapa? Dua detik? Tiga? Aku melihatmu membaca X-ray itu dan langsung tahu. Itu bukan buku. Itu matamu yang sudah mulai jadi mata operator. Jaga baik-baik mata itu. Buku bisa dipinjam. Mata itu harus kautumbuhkan sendiri — dan hari ini ia tumbuh satu senti, dan aku ada di sana dan melihatnya, dan aku menuliskannya di laporan resmi."
Malam itu, di buku kerjanya, Arenta menulis satu baris: Rendi menjinakkan device pertamanya hari ini. dengan benar. tanpa menyentuhnya. dan aku berdiri di sampingnya seperti Hutahaean dulu berdiri di sampingku, dan aku mengerti sekarang apa yang dirasakannya waktu itu: bukan bangga. bukan lega. panen. dan di bawahnya: tangan berpindah ke tangan yang lebih muda. hari ini aku melihatnya terjadi, di lobi sebuah kelurahan, di depan sebuah kotak sepatu yang tidak pernah tahu betapa penting dirinya.