Gudang barang bukti peledak terletak di sayap belakang markas, bangunan rendah berdinding tebal yang dirancang supaya jika isinya kalap, ledakannya naik ke atas, bukan ke samping ke gedung lain. Arenta menandatangani buku akses pukul tujuh pagi. Petugas jaga menatapnya agak heran—instruktur teori jarang masuk ke sini—tapi tidak bertanya.
Device dari loker 14 ada di meja kerja berlapis baja, sudah sepenuhnya inert, komponennya dipisah dan diberi label oleh tim forensik. Baterai dilepas. Detonator diamankan terpisah dalam wadah pasir. Yang tersisa di meja hanya papan rangkaian, kabel-kabel terputus, dan kotak plastiknya. Aman untuk disentuh. Arenta memakai sarung tangan nitril, menyalakan lampu lensa pembesar, dan duduk.
Ia tidak terburu-buru. Ia tidak pernah terburu-buru; itu yang membuatnya hidup selama ini. Ia membaca papan itu jalur demi jalur, seperti membaca paragraf. Dan semakin ia membaca, semakin terang sesuatu yang membuat perutnya dingin.
Rangkaian ini bukan sekadar rapi. Rangkaian ini sopan. Perakitnya menyisakan ruang—jeda yang sengaja—di tempat-tempat di mana seorang operator akan menjepit dan memotong. Seolah ia membayangkan tangan yang akan datang dan memberinya tempat untuk bekerja. Tata letak pemicunya pun memakai konvensi lama: positif di kiri, jalur pengaman di kanan, persis seperti yang dulu diajarkan di unit Arenta sebelum standar nasional diseragamkan. Tak ada amatir yang tahu konvensi itu. Tak ada teroris asing yang peduli. Ini ditulis oleh seseorang yang dilatih di tempat yang sama dengannya, dengan tangan yang sama, dengan guru yang mungkin sama.
Dan di sudut, dua titik. Ia menyentuhnya lewat sarung tangan. Diukir setelah papan selesai, dengan ujung pisau halus, tekanan tetap.
"Kamu nemu sesuatu."
Arenta tidak mengangkat kepala. Ia mengenali langkah itu sejak pintu. Mayor Hutahaean berdiri di sisi meja, secangkir kopi di tangan, seragam lapangan tanpa atribut lengkap—pertanda ia juga belum tidur.
"Goresan," kata Arenta. "Dua titik."
"Forensik sudah laporkan ke saya semalam. Mereka pikir cacat manufaktur." Hutahaean meletakkan kopinya. "Tapi kamu nggak ke sini jam tujuh pagi untuk cacat manufaktur, Renta."
Ia satu-satunya yang masih memanggilnya Renta. Arenta menarik napas dan, untuk pertama kalinya, mengatakannya dengan suara. "Dua titik itu kode unit kita. Dulu. Jarak dua detik. Cuma dipakai di latihan internal, dan orang yang masih ingat itu bisa dihitung jari. Pak Mayor. Sebagian dari mereka sudah pensiun. Sebagian sudah meninggal."
Hutahaean diam lama. Ia bukan orang yang melompat ke kesimpulan; itu sebabnya ia komandan. "Kamu bilang perakit ini menulis ke kamu."
"Saya bilang perakit ini menulis dalam bahasa yang cuma kita berdua, dan beberapa hantu, yang bisa baca." Arenta mematikan lampu pembesar. Bayangan kembali ke wajahnya. "Dia tahu tata letak unit kita. Dia tahu kode kita. Dia menyisakan ruang untuk tangan operator di rangkaiannya, seolah membayangkan saya datang. Ini bukan teror, Pak. Ini surat. Dan saya alamatnya."
Mayor menatap papan itu, lalu menatap Arenta. "Kamu sadar apa yang kamu minta saya simpulkan."
"Saya nggak minta apa-apa."
"Kamu minta saya percaya ada orang dalam, atau bekas orang dalam, yang merakit bom dan menyapamu lewat papan sirkuit." Hutahaean menghela napas berat. "Dan kalau itu benar, akan ada paket kedua. Karena surat tunggal nggak butuh tanda tangan yang serahasia ini. Orang ini mau dialog."
Arenta tidak menjawab. Ia tahu Mayor benar, dan ia membenci betapa benarnya.
Hutahaean menarik kursi dan duduk menghadapnya. Ketika ia bicara lagi, nadanya berubah—bukan lagi komandan ke komandan, tapi sesuatu yang lebih tua dan lebih lelah. "Renta. Saya nggak akan bohong ke kamu. Kalau betul ada perakit yang ngerti SOP kita, yang nyusun rangkaian yang dirancang buat tangan kita sendiri, maka anak-anak muda itu—Bara, Rendi—mereka turun ke device yang ditulis untuk mengelabui orang yang dilatih persis seperti mereka. Mereka akan mati membaca buku panduan yang sudah dia bajak."
"Saya instruktur," kata Arenta, terlalu cepat.
"Saya tahu apa kamu." Hutahaean tidak menaikkan suara. "Saya juga tahu siapa kamu. Saya nggak akan seret kamu ke meja, Renta. Saya nggak punya hak itu setelah Kapuk. Tapi saya minta satu hal, dan cuma ini: jadi mata kami. Baca surat-suratnya. Jangan sentuh device hidup kalau kamu nggak mau—saya larang malah, kecuali nggak ada cara lain. Tapi biarkan kepalamu yang bekerja, supaya tangan anak-anak itu nggak salah baca."
Arenta menatap dua titik di sudut papan. Jarak dua detik. Ia memikirkan Dimas, yang menggambar tanda itu di gelas kopi pagi terakhirnya, sumbang menyanyi, kopinya terlalu manis. Ia memikirkan adik Dimas yang tidak lagi mengangkat teleponnya.
"Saya baca," katanya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Cuma baca."
Hutahaean mengangguk, bangkit, mengambil kopinya yang sudah dingin. Di pintu ia berhenti. "Kalau dia memang nulis ke kamu," katanya tanpa berbalik, "berarti dia juga baca kamu. Hati-hati apa yang kamu tunjukkan, Renta. Surat itu dua arah."
Pintu baja tertutup. Arenta tinggal sendiri dengan papan itu, dengan dua titik kecil yang seseorang ukir untuk satu-satunya orang yang akan mengerti, dan untuk pertama kalinya dalam empat belas bulan, tangan kanannya—tangan yang tak pernah salah—gemetar pelan di atas meja baja.