Paket kedua datang sembilan hari kemudian, dan tempatnya dipilih dengan kekejaman yang tenang: Pasar Kapuk. Pasar tempat Dimas mati.
Arenta tahu maknanya sebelum truk berhenti. Ia ikut hari itu—sebagai mata, ia terus mengulang pada dirinya, sebagai mata, bukan tangan—duduk di kursi belakang dengan baju lapangan tanpa suit, mendengarkan radio berderak. Lettu Bara komandan lapangan. Rendi operator. Tim sudah mengevakuasi blok, tapi pasar Kapuk bukan terminal; gang-gangnya sempit, kiosnya rapat, dan di tengah kerumunan yang didorong mundur, selalu ada yang menolak pergi—pemilik kios yang takut dagangannya dijarah, orang tua yang tak dengar, anak yang terpisah.
Device ada di celah antara dua kios permanen, di lorong selebar bahu. Robot EOD beroda dikerahkan lebih dulu, selalu lebih dulu, dan macet enam meter dari sasaran: roda tak bisa melewati selokan terbuka dan tumpukan palet yang menyumbat gang. Operator mencoba lengan teleskopik; tak sampai. Mereka mencoba jalur lain; buntu oleh dinding. X-ray portabel ditembakkan dari ujung gang dengan sudut menyerong, dan gambarnya buram tapi cukup untuk membuat Bara mengumpat pelan: rangkaian itu kembar dengan yang di loker, plus sesuatu yang baru di dekat pemicu—sebuah elemen yang Bara tak kenali.
"Disruptor?" Rendi bertanya, suaranya sudah tipis.
"Nggak bisa diposisikan," Bara menjawab lewat radio. "Gangnya terlalu sempit buat tripod, sudut tembaknya kehalang palet. Kalau kita tembak dari sudut yang ada, semburannya kena dinding dulu, tenaganya hilang. Bisa malah mantik."
Arenta menutup mata di mobil. Ia tahu apa artinya rangkaian kalimat itu. Robot tak bisa. Disruptor tak bisa. Tinggal satu pilihan, pilihan yang seharusnya tak pernah jadi pilihan kecuali semua yang lain habis.
Lalu suara Rendi lagi di radio, lebih pelan: "Ada warga, Lettu. Di kios paling ujung. Nenek-nenek, nggak mau keluar, ngotot jaga warungnya. Kalau kita tunggu evakuasi paksa, makan waktu. Kalau device-nya bertimer..."
Dan di situlah Arenta keluar dari mobil.
Ia tidak memutuskan. Tubuhnya yang memutuskan, sebelum kepalanya sempat protes. Ia berjalan ke truk perlengkapan dan membuka peti suit. Hutahaean ada di pos komando, dan ketika ia melihat Arenta mengangkat helm bantalan itu, wajahnya mengeras.
"Renta."
"Robot macet. Disruptor nggak bisa diposisikan. Ada warga terkurung di radius. Rendi belum cukup jam terbang buat rangkaian yang dirancang ngelawan dia." Arenta sudah memasukkan kaki ke celana suit, suaranya datar seperti membaca daftar. "Saya nggak turun karena drama, Pak. Saya turun karena hari ini saya satu-satunya variabel yang bisa bikin nenek itu pulang. Tahan saya kalau ada alasan teknis lain. Kalau nggak ada, biarkan saya kerja."
Hutahaean menatapnya lama. Sebagai komandan ia tahu Arenta benar; semua kotak prosedur sudah dicentang dan kosong. Sebagai temannya, ia ingin menyeretnya kembali ke mobil. Ia memilih jadi komandan. "Komunikasi terbuka penuh," katanya parau. "Rendi jadi matamu di ujung gang. Kamu bicara setiap gerakan. Kamu ragu sekali aja, kamu mundur. Itu perintah, bukan saran."
Suit penjinak berat—lebih dari tiga puluh kilogram pelat dan bantalan, dirancang bukan untuk menyelamatkan operator dari ledakan penuh, melainkan memberi peluang bertahan dari pecahan kecil, agar tubuh tidak hancur seketika. Tak ada suit yang menyelamatkanmu dari muatan utama sejarak ini. Arenta tahu itu. Setiap operator tahu itu. Suit bukan baju zirah; suit adalah surat penyerahan diri yang sopan.
Ia berjalan menyusuri gang sendirian. Tiap langkah berbunyi pelan oleh gesekan pelat. Kerumunan jauh di belakangnya, suaranya teredam, hanya hujan gerimis dan napasnya sendiri di dalam helm. Empat belas bulan ia tidak melakukan ini. Tangannya, di dalam sarung suit, tetap kering.
Device itu menunggu di celah, terbungkus kantong kanvas. Ia berlutut. Rendi membacakan apa yang ia lihat dari X-ray lewat radio, kalimat per kalimat, sementara Arenta membuka kanvas dengan gerakan paling lambat yang bisa ia lakukan. Di dalam, rangkaian itu menatapnya balik—rapi, sopan, dengan ruang yang sengaja disisakan untuk tangan operator. Untuk tangannya.
Elemen baru yang membuat Bara takut ternyata bukan jebakan; itu sakelar anti-getar palsu, ditaruh untuk menakuti, dengan jalurnya sengaja dibuat buntu—gertakan. Perakit ini menguji apakah pembacanya panik melihat hal yang menakutkan, atau cukup tenang untuk menelusuri jalurnya sampai habis dan melihat bahwa ia mati. Arenta menelusurinya sampai habis. Lalu ia menemukan jalur penentu, menjepit, dan—untuk pertama kalinya sejak Dimas—memotong sebuah kabel hidup.
Tidak ada apa-apa. Hening. Rangkaian mati di bawah tangannya.
Ia duduk di gang sempit itu, dengan helm masih terpasang, dan untuk beberapa detik tidak bergerak sama sekali. Bukan kelegaan. Sesuatu yang lebih sunyi.
Saat ia mengangkat papan untuk diamankan, sehelai kertas terselip di bawahnya—dilaminasi tipis, tahan air, ditaruh sengaja agar ditemukan oleh tangan, bukan kamera. Tulisan tangan kecil, rapi, huruf yang akan ia kenali di mana saja kalau saja ia bisa mengingatnya:
Kamu masih ingat caranya.
Arenta menatap kalimat itu lama di dalam helmnya, di gang tempat rekannya mati, sementara di radio Rendi memanggil-manggil namanya, bertanya apakah ia baik-baik saja, dan ia tidak menemukan suara untuk menjawab.