Analisis pasca-kejadian berlangsung tiga hari, dan apa yang ditemukan tim membuat ruang rapat menjadi sangat sunyi.
Forensik membongkar device Kapuk komponen demi komponen, lalu memodelkan ulang rangkaiannya di papan tulis besar. Yang muncul bukan sekadar bom rapi. Yang muncul adalah sebuah jebakan yang menargetkan prosedur, bukan operator.
"Lihat di sini," kata kepala forensik, Pelda Surya, menunjuk simulasi. "Pemicu utamanya pasif. Kalau kalian ikuti SOP standar nasional—isolasi sumber daya dari sisi positif dulu, baru putus jalur—maka langkah pertama SOP itu sendiri yang menutup sirkuit sekunder. Prosedur yang benar justru memantik device."
Bara mengusap wajahnya. "Jadi kalau Bu Arenta ikut buku, dia mati."
"Kalau siapa pun ikut buku, dia mati," Surya membenarkan. "Perakit ini tahu SOP kita kata per kata. Dia membangun rangkaian supaya cara kita dilatih untuk selamat justru jadi cara kita celaka. Bu Arenta selamat karena dia nggak ikut buku—dia baca rangkaiannya sendiri dan putus dari sisi yang nggak diajarkan."
Semua mata berpaling ke Arenta, yang duduk di ujung meja, menatap simulasi tanpa berkedip.
"Dia nggak nyuruh saya melanggar SOP," kata Arenta pelan. "Dia nanya apakah saya mau. Itu beda." Ia berdiri dan mendekati papan. "Rangkaian ini bukan dirancang buat membunuh siapa pun yang datang. Ada gertakan—sakelar palsu, jalur buntu—yang fungsinya cuma menakuti. Kalau dia mau membunuh, dia nggak akan kasih gertakan; dia akan kasih jebakan diam. Dia kasih saya teka-teki yang punya jawaban. Dia ingin saya menjawab benar."
"Kenapa?" Rendi bertanya, suaranya kecil di antara para senior.
Arenta tidak menjawab langsung. Karena jawaban yang jujur—dia ingin tahu apakah aku masih sehebat dulu, dia ingin melanjutkan percakapan yang putus di Kapuk empat belas bulan lalu—adalah jawaban yang tidak ingin ia ucapkan di ruangan ini.
Hutahaean memerintahkan dua jalur penyelidikan paralel. Pertama, forensik komponen: melacak asal baterai, papan, solder, jenis bahan peledak. Setiap komponen punya jejak—nomor batch, pola pembelian, gaya pengerjaan. Surya yakin perakit membeli komponennya secara terpisah dan sah, persis seperti orang yang tahu bagaimana cara pembelian dilacak. "Dia bersih," kata Surya. "Terlalu bersih. Cuma orang yang pernah jadi pemburu yang tahu cara nggak meninggalkan jejak buat pemburu lain."
Kedua, profil operasional: siapa yang punya akses ke SOP internal sedetail ini. Daftar itu pendek dan tidak nyaman—anggota aktif, pensiunan, dan beberapa nama yang berhenti dengan tidak baik. Hutahaean menyimpan daftar itu di laci, belum membagikannya. Kepercayaan adalah komoditas yang tiba-tiba langka di markas.
Malam-malam Arenta semakin tak bisa dilewati. Insomnianya, yang sudah lama jadi teman, berubah jadi sesuatu yang lebih kejam. Ia menutup mata dan melihat dua titik di papan, lalu wajah Dimas, lalu gang Kapuk dengan dirinya sendiri di dalamnya bertahun lalu, di posisi yang seharusnya. Ia bangun pukul tiga dan duduk di lantai apartemennya menggambar rangkaian device Kapuk dari ingatan, mencari di mana ia bisa salah, sampai matahari naik.
Pada hari kelima, ia melakukan sesuatu yang ia hindari berbulan-bulan. Ia menelepon Nita.
Nita adik Dimas, dua puluh tujuh tahun, perawat di rumah sakit umum. Dulu mereka dekat; Nita memanggilnya Kak Renta dan ikut acara satuan. Setelah Kapuk, semuanya runtuh. Telepon itu diangkat di dering keenam, dan keheningan di seberang lebih panjang dari sapaan apa pun.
"Nita."
"Kenapa nelepon, Kak." Bukan pertanyaan. Suara Nita rata, capek.
Arenta sudah menyiapkan banyak kalimat dan tak satu pun terasa benar. "Aku... cuma mau tahu kabarmu."
"Tiga hari lalu ada di berita. Pasar Kapuk. Bom lagi. Ada operator perempuan yang turun." Hening. "Itu Kakak, kan."
Arenta tidak bisa berbohong padanya. "Iya."
"Kakak balik ke lapangan." Suara Nita tidak meledak; itu yang lebih menyakitkan—ia terlalu lelah untuk marah keras. "Empat belas bulan Kakak bilang nggak akan nyentuh meja lagi. Mas Dimas nggak segera Kakak bawa pulang, tapi Kakak balik ke gang yang sama. Buat apa, Kak? Biar adil? Biar Kakak juga mati di sana?"
"Nita—"
"Mas Dimas turun karena Kakak nyuruh dia, atau dia yang nawarin, aku nggak akan pernah tahu, karena Kakak nggak pernah cerita versi lengkapnya. Sekarang Kakak turun lagi." Napas Nita bergetar. "Aku nggak benci Kakak. Aku cuma nggak ngerti kenapa orang kayak Kakak terus balik ke tempat yang udah ngambil semuanya."
Sambungan terputus. Arenta duduk lama dengan ponsel menempel di telinga, mendengar nada sambung kosong, di apartemen yang gelap, jam tiga pagi lagi. Ia tidak menggambar rangkaian malam itu. Ia hanya duduk, dan untuk sekali, tidak mencoba memahami apa pun—bukan device, bukan perakit, bukan dirinya sendiri. Di luar jendela, kota berkedip dalam ribuan lampu, dan di salah satu titik di antaranya, seseorang sedang menyolder sebuah surat berikutnya, sopan dan rapi, dengan ruang yang disisakan untuk tangannya.