Device ketiga ditemukan di sebuah sekolah dasar, dan waktunya dipilih dengan perhitungan yang membuat Arenta yakin perakit ini menonton jadwal kota seperti orang lain menonton jam: sepuluh menit sebelum bel pulang.
Laporan masuk dari satpam sekolah yang menemukan tas mencurigakan di ruang panel listrik, di sudut halaman dekat gerbang tempat ratusan anak akan tumpah keluar. Tim Gegana tiba dalam dua belas menit. Bel ditahan; anak-anak dikunci di kelas, jauh dari gerbang. Tapi sekolah itu berdesakan di permukiman padat, dan tepat di balik dinding ruang panel ada gardu listrik lingkungan yang memberi daya ke ratusan rumah.
Arenta ikut, lagi, dan kali ini Hutahaean tidak protes. Mereka berdua tahu peran sudah berubah; ia bukan instruktur lagi, betapapun ia bertahan dengan kata itu.
Robot EOD masuk lebih dulu. Kali ini gang cukup lebar; robot menjangkau, dan X-ray portabelnya mengirim gambar bersih. Apa yang muncul di layar pos komando membuat ruangan diam.
Device ini punya dua pemicu, dan keduanya nyata.
Pelda Surya menelusuri jalurnya di layar dengan suara yang menua sepuluh tahun dalam semenit. "Pemicu A mengontrol detonator utama device. Putus jalur ini, device aman. Pemicu B..." Ia diam. "Pemicu B nyambung ke rangkaian yang nempel ke kabel daya gardu. Kalau kita putus pemicu A duluan, lonjakan baliknya menutup pemicu B—dan pemicu B nggak meledakkan bomnya. Pemicu B membuka muatan kecil di gardu. Membakar trafo. Di permukiman sepadat itu, kebakaran trafo jam segini, anak-anak baru keluar..."
"Berapa lama buat baca urutan yang benar?" Hutahaean memotong.
Surya menatap layar. "Itu masalahnya, Pak. Ada timer. Aktif. Mundur dari sebelas menit waktu ditemukan. Sekarang sisa enam."
Di sinilah teka-teki itu sebenarnya. Dua jalur, dua pemicu, dan urutan memutusnya menentukan apakah device mati bersih, atau device mati tapi gardu terbakar, atau—jika salah total—device meledak. Robot bisa menjangkau, tapi memutus kabel dalam urutan yang benar dengan manipulator kasar di bawah tekanan enam menit adalah judi. Arenta tahu, sebelum siapa pun bilang, bahwa ada satu hal yang bisa dilakukan tangan manusia dan tidak bisa dilakukan robot: membaca beban tarik kabel, merasakan ketegangan jalur, melihat dari jarak sentuh apakah sebuah jalur palsu atau hidup. Tapi kali ini ia tidak perlu turun. Gang cukup lebar. Robot bisa.
Keputusannya bukan apakah turun. Keputusannya urutan mana yang benar.
"Saya butuh kamera robot di papan, perbesaran penuh," kata Arenta, menggeser dirinya ke kursi operator robot di samping Rendi. "Rendi, kamu kendalikan lengannya. Aku yang baca. Kita kerja sama."
Ia membaca rangkaian itu di layar seperti membaca takdir. Pemicu A mengontrol device. Pemicu B mengontrol gardu. Logika SOP berkata: amankan ancaman terbesar dulu—device, yang bisa membunuh operator dan menghancurkan sekolah. Putus A. Tapi memutus A memicu B; trafo terbakar, permukiman terancam, mungkin korban. Logika alternatif: putus B dulu—lepaskan ancaman gardu—lalu A. Tapi memutus B dulu, jika perakit memasang umpan balik, bisa menutup A.
Arenta menelusuri jalur grounding di layar, milimeter demi milimeter, sementara timer di sudut layar mengetuk turun. Lima menit. Empat.
Dan ia melihatnya. Jalur grounding pemicu B menyatu ke titik yang sama dengan pengaman pemicu A—berarti memutus B dulu tidak menutup A, karena keduanya berbagi tanah; melepas B justru mengisolasi A sehingga aman dimatikan setelahnya. Perakit menyisakan jalan keluar, lagi, untuk pembaca yang cukup teliti melihat di mana dua jalur bertemu. Urutan yang benar adalah yang berlawanan dengan naluri SOP: selamatkan gardu dulu, baru device.
"Rendi," kata Arenta, suaranya turun ke nada yang sangat tenang, nada yang ia simpan untuk saat segala sesuatu bisa salah. "Jepit pemicu B. Yang nyambung ke kabel oranye. Bukan yang di device. Yang ke gardu. Tahan. Tunggu aba-abaku. Potong."
Lengan robot bergerak. Manipulator menjepit. Tiga menit di layar. Dua.
"Potong."
Manipulator menutup. Kabel oranye putus. Tidak ada apa-apa—itu pertanda baik, bukan ledakan. Lalu Arenta mengarahkan Rendi ke pemicu A, kini terisolasi, dan kabel kedua diputus. Timer di layar membeku di satu menit empat puluh detik. Device mati. Gardu utuh. Sekolah penuh anak yang tak pernah tahu seberapa dekat.
Ruang pos komando menghela napas serempak. Rendi bersandar, gemetar, tertawa pelan oleh adrenalin yang tak ada saluran lain. Arenta tidak tertawa. Ia menatap layar, dan sesuatu yang dingin mengendap di dadanya.
Karena ia baru saja menyadari apa yang terjadi. Perakit memberinya dua pilihan dengan konsekuensi nyata—device atau gardu—dan satu jalan keluar tersembunyi yang menyelamatkan keduanya. Dan ia memilih, dengan cara yang akan diingat: ia mengutamakan menyelamatkan keduanya lewat membaca, bukan mengorbankan satu lewat naluri. Itu informasi. Itu data. Perakit sekarang tahu bahwa di bawah tekanan, Arenta akan mencari jalan ketiga, bukan memilih korban.
Dan rangkaian berikutnya akan ditulis dengan pengetahuan itu.
Ketika tim mengangkat papan untuk diamankan, Surya menemukan kertas laminasi lagi, terselip di tempat yang hanya tangan akan capai. Ia membacanya keras, lalu berhenti, lalu menyerahkannya pada Arenta tanpa kata.
Tiga baris. Tulisan tangan yang sama.
Kamu pilih jalan ketiga. Aku tahu kamu akan begitu. Lain kali jalan ketiga itu yang akan kukunci.
Arenta melipat kertas itu pelan dan memasukkannya ke saku, dan untuk waktu yang lama berdiri di halaman sekolah yang basah, mendengar bel akhirnya berbunyi dan anak-anak berhamburan ke gerbang, ribut, hidup, tak tahu apa-apa, sementara di dalam dadanya sebuah percakapan yang ia tidak pernah minta terus berlanjut, satu surat pada satu waktu.