Dua device mati di atas dua meja, dan satu yang hidup berdetak di bawah lantai — dan di antara Arenta dan device yang hidup itu berdiri satu garis kapur putih dan satu pendulum yang membaca getaran seperti mata membaca cahaya.
Situasi itu, dibaca dingin, adalah sebuah persamaan dengan satu variabel yang tersisa: sirkuit ketiga harus mati, tetapi tidak ada yang boleh mendekatinya. Bukan karena rumit — dari laporan Rendi, papan kecil itu justru sederhana, sengaja dibuat sederhana — melainkan karena jarak. Empat meter garis kapur, satu sakelar getar, dan satu kabel yang menghilang ke bawah ubin menuju sesuatu yang tidak diketahui siapa pun kecuali satu orang yang sedang mendengarkan lewat pengeras suara.
"Baik," kata Arenta akhirnya, dan suaranya masuk ke mode yang dikenali Rendi dari seratus sore di gudang: mode kerja, datar, tanpa ruang untuk apa pun yang bukan langkah berikutnya. "Kita kerjakan ini seperti mengerjakan semuanya: dengan apa yang kita punya. Yang kita punya adalah: satu papan sederhana, satu pasang mata yang sudah belajar membaca, dan satu pasang tangan yang berdiri tepat di sampingnya. Rend. Mulai sekarang, tanganmu adalah tanganku. Aku tidak bisa lewat ke sana — tapi mataku bisa, lewat matamu, dan tanganku bisa, lewat tanganmu. Ini yang akan kita kerjakan, dan kita akan mengerjakannya dengan bahasa kita."
Bahasa isyarat itu — bahasa yang dibangun enam minggu dari nol di gudang yang berbau timah tua — akhirnya turun ke medan. Bukan untuk kecepatan: untuk ketepatan. Telapak terbuka berarti berhenti. Dua jari ke bawah berarti turun perlahan. Kepalan di dada berarti tunggu napasku. Dan satu isyarat yang mereka buat di minggu kelima dan tidak pernah diberi nama resmi, isyarat yang berarti baca lagi, kau melewatkan sesuatu.
"Turunkan kamera tubuhmu ke bawah meja," kata Arenta. "Pelan. Aku mau melihat papannya persis dari matamu."
Rendi berlutut — pelan, dengan berat badan yang dipindahkan seperti memindahkan cairan dalam gelas penuh — dan kamera di dadanya turun ke bawah meja, dan di layar kecil di pergelangan tangan Arenta, papan ketiga itu muncul: dua telapak tangan, komponen-komponen sedikit, pendulum di satu sudut dengan bandulnya yang menggantung diam seperti hukuman yang sedang tidur.
Dan Arenta membaca papan kecil itu — dan hampir tertawa, dengan cara yang tidak lucu sama sekali.
"Itu Gerbang," katanya. "Gerbang pertama. Bukan yang tahun kedua — yang tahun pertama, yang paling dasar, yang dipakai untuk mengajar anak-anak baru bahwa rangkaian punya urutan. Dua saklar pengaman berseri, buka dengan urutan yang benar atau sirkuit menutup. Dia meletakkan soal pertama yang pernah diajarkan kepada kami berdua di bawah mejamu — sebagai ejekan terakhirnya. Ujian akhir, katanya. Dan soal pamungkasnya adalah PR dari tahun pertama."
"Aku tidak pernah mengerjakan Gerbang tahun pertama, Bu," kata Rendi, pelan. "Itu sudah keluar dari silabus sebelum angkatanku."
"Maka aku yang menjadi bukumu," kata Arenta. "Dan kau yang menjadi tanganku. Kita berdua adalah satu operator malam ini, Rend — dan satu operator itu akan menyelesaikan PR ini dengan nilai yang tidak bisa dinilai pensil merah mana pun. Sekarang dengarkan, dan kerjakan persis, dan kalau aku berhenti bicara di tengah kalimat, tanganmu berhenti di tengah gerakan — kalimatku dan tanganmu adalah satu benda."
Pekerjaan itu berjalan seperti doa yang dibisikkan melalui dua orang: suara Arenta yang datar mengalir dari seberang garis kapur, dan tangan Rendi yang bergerak di bawah meja, milimeter demi milimeter. Pengaman pertama ditemukan di tempat Gerbang pertama selalu meletakkannya — kiri bawah — dan Arenta menghentikan tangan Rendi sebelum menyentuhnya, dan membacanya lewat kamera selama satu menit penuh, karena tidak ada yang namanya selalu di rumah seorang perakit yang membaca ingatan orang.
"Ada tambahan di pengaman pertama. Lihat kabel ketiganya — yang paling bawah, yang warnanya hampir sama. Itu bukan bagian dari Gerbang. Itu umpan untuk orang yang bekerja dari ingatan. Lewati dia. Pengaman aslinya yang di tengah. Buka perlahan — dan ketika kau merasakan perlawanan berubah, berhenti, dan beri tahu aku apa yang berubah."
Tangan Rendi bergerak. Berhenti. "Perlawanannya turun, Bu. Seperti sesuatu yang lepas di dalam."
"Itu pengaman yang benar. Lanjutkan sampai terbuka penuh, lalu tangan keluar dari papan, dan kita berdua bernapas satu kali sebelum pengaman kedua."
Pengaman kedua — kanan atas, sebagaimana Gerbang pertama meletakkannya — dibaca dua kali, dibuka sekali, dan menutup sirkuit kecilnya dengan bunyi klik yang pelan dan benar. Dan kemudian, di atas papan kecil itu, satu lampu kecil menyala hijau — hijau yang sopan, hijau yang berkata urutan benar — dan bandul pendulum itu, yang sedari tadi menggantung diam seperti hukuman yang tidur, terkunci di tempatnya dengan bunyi klik kedua.
Sirkuit ketiga mati. PR tahun pertama selesai dikerjakan — oleh dua tangan yang berdiri di dua sisi garis yang tidak boleh dilintasi, oleh satu operator yang terbuat dari dua orang.
Dan Arenta bersandar ke dinding di sisinya, di dalam suit yang basah oleh keringat dua jam, dan berkata ke radio satu arah dengan suara yang akhirnya boleh menurun satu derajat:
"Semua device mati. Tiga dari tiga. Gedung ini bersih — ulangi, gedung ini bersih. Tim dokumentasi bersiap, tapi jangan ada yang masuk sampai kami keluar dan perimeter menyapu: masih ada kabel dari papan ketiga ke bawah lantai, dan kami belum tahu apa yang duduk di ujungnya."
Dan dari pengeras suara di atas meja, suara Rendra datang untuk yang terakhir kalinya malam itu — dan kali ini tidak ada penilaian di dalamnya, tidak ada nilai, tidak ada pensil merah. Yang ada hanya satu kalimat, diucapkan dengan suara orang yang sedang menutup buku:
"Dua tangan, satu operator. Dua belas tahun aku menunggu seseorang menjawab soalku seperti itu — dan ketika jawabannya datang, dia datang dari tangan yang tidak kukenal." Jeda panjang. "Kita belum selesai, Arenta. Surat terakhir belum kutulis. Tapi malam ini — malam ini milik kalian berdua. Dan aku perakit yang adil: aku tidak pernah mengingkari nilai yang sudah kuberikan."
Dan lampu hijau di pengeras suara itu padam.