Kabel dari papan ketiga itu masih menghilang ke bawah ubin — dan selama kabel itu belum ditelusuri sampai ke ujungnya, aula latih lama itu belum selesai dibaca, dan tidak ada satu pun di dalamnya yang berpura-pura sebaliknya.
Arenta dan Rendi menelusurinya berdua — sekarang sudah boleh, karena pendulum sudah terkunci dan garis kapur sudah kehilangan taringnya — dengan lampu kepala dan ubin yang diangkat satu per satu dengan kehati-hatian arkeolog. Kabel itu berjalan ke timur, di bawah lantai, sepanjang delapan ubin, dan berakhir di satu titik di dekat dinding: di sebuah kotak kecil yang tertanam di antara fondasi, terbungkus plastik kedap yang rapi.
Dan di dalam kotak itu, dibaca oleh dua pasang mata dan kemudian oleh seluruh tim forensik yang akhirnya diizinkan masuk, bukan muatan penghancur — bukan bahan peledak tinggi seperti di device-device utama. Isinya adalah muatan cahaya dan asap: satu alat pengalih perhatian, dibangun untuk meledak dengan kilat yang membutakan dan asap yang menutupi, cukup keras untuk membuat seluruh aula menjadi putih dan seluruh kampus menjadi panik selama beberapa menit.
"Bukan untuk membunuh kita," kata Rendi, memandang kotak itu dengan dahi yang berkerut. "Muatan asap di bawah lantai, di ruangan yang sama dengan kita — kilat sebesar itu di ruang tertutup akan merusak mata, Bu, tapi tidak membunuh. Untuk apa dia menaruh ini di bawah kita?"
"Bukan di bawah kita," kata Arenta, pelan, dan kepingan-kepingan itu sedang jatuh di kepalanya dengan bunyi klik-klik kecil yang sudah dikenalnya. "Di bawah dirinya sendiri. Papan ketiga itu tidak pernah dirancang untuk meledak saat kita gagal — pendulum itu terkunci hijau ketika kita menang, ingat? Urutan yang benar mematikan hukumannya. Tidak — kotak ini dirancang untuk diledakkan ketika dia memilih, dari jarak jauh, di momen yang dia pilih." Ia berdiri, dan memandang aula itu — dua meja, dua device mati, garis kapur, pengeras suara yang sudah gelap. "Ini pintu keluar panggungnya, Rend. Ini adalah bagaimana seorang sutradara menurunkan tirainya: kilat, asap, panik — dan di dalam tiga menit buta itu, dia berjalan keluar. Kita tidak menemukan bom di bawah lantai ini. Kita menemukan pintu belakangnya."
Dan seolah aula itu sendiri mendengarkan kalimat itu — dari kejauhan, dari utara, dari arah gerbang utama kampus, satu ledakan menggelegar membelah malam.
Bukan ledakan besar — Arenta mengukurnya dengan telinganya yang sudah dua puluh tahun: muatan kecil, posisi terbuka, dirancang untuk suara dan cahaya, bukan untuk kerusakan. Tetapi di malam yang penuh pasukan tersembunyi, satu ledakan adalah satu perintah yang tidak bisa diabaikan: radio meledak dengan suara-suara, tim utara menjawab, dan perimeter yang sudah tiga hari diam seperti debu itu bergerak — ke utara, ke suara, ke asap yang naik dari arah gerbang.
"Perimeter ke utara," kata suara Bara di radio. "Ledakan di pagar utama, tidak ada korban, saya ulangi tidak ada korban — ini pengalihan. Semua tim tahan posisi—"
Tetapi Arenta sudah bergerak — bukan ke utara, ke selatan, ke arah yang berlawanan dari suara, dengan Rendi di belakangnya dan satu kepastian yang menyala di dadanya seperti lampu: bukan di sini. bukan di aula. kotak asap di bawah lantai ini untuk satu panggung — tapi ledakan di utara itu untuk panggung yang lebih besar. dia tidak menurunkan satu tirai. dia menurunkan seluruh teater.
"Dia keluar malam ini," katanya ke radio, berlari di lorong sayap timur dengan suit yang sudah dilepas setengahnya. "Bukan dari aula — dia tidak pernah ada di aula; pengeras suara itu dikendalikan dari jarak dekat, tapi jarak dekat bisa berarti dua gedung. Dia menonton kita bekerja dari suatu tempat di kampus ini, dan ledakan utara itu menarik semua mata ke pagar yang salah. Selatan, Bara — tutup sisi selatan, dia keluar lewat selatan, terowongan utilitas tua, itu satu-satunya jalan yang tidak kita kuasai penuh—"
Dan di malam itu, di kampus yang dipenuhi kilat dan asap dan suara, perburuan itu berubah bentuk: dari membaca surat menjadi mengejar penulisnya — dan seluruh satuan bergerak seperti satu tubuh ke selatan, ke terowongan-terowongan tua yang petanya tidak lengkap, ke bawah tanah yang sudah dua belas tahun tidak dilewati siapa pun kecuali satu orang yang menghafalnya seperti menghafal jalan pulang.
Di belakang mereka, aula latih lama itu diserahkan kepada tim dokumentasi — dua meja, dua device mati, garis kapur yang sudah kehilangan taringnya, dan satu pengeras suara kecil dengan lampu hijau yang sudah padam, yang oleh Surya dikantongi dengan tangan yang hampir hormat: barang bukti, tetapi juga artefak dari malam yang akan diceritakan korps ini bertahun-tahun. Rendi berlari di samping Arenta dengan napas yang belum pulih dari dua puluh menit di atas mejanya, dan di tengah lorong, di tengah asap yang menipis, anak muda itu berkata satu kalimat yang akan diingat Arenta: Bu — kita menang di dalam sana. Dua tangan, satu operator, seratus persen. Dan Arenta menjawab tanpa memperlambat langkahnya: kita tidak menang sampai buku ini selesai, Rend. Tapi malam ini kita membuktikan satu hal kepada pembaca paling teliti di dunia — halaman yang belum pernah dibacanya sudah belajar menulis. Sekarang lari. Pintu belakangnya menunggu di selatan.