Mereka membagi posisi itu dalam tiga puluh detik, dengan satu percakapan yang pendek dan satu pandangan yang panjang — karena pembagian itu sudah selesai dibicarakan berminggu-minggu lalu, di atas peta, di depan semua orang, dan sekarang hanya tinggal dijalankan seperti menjalankan prosedur.
"Kanal untukku," kata Rendi. "Aku yang paling kecil dari kita berdua — kanal itu sempit, dan aku sudah berlatih di ruang-ruang sempit sejak gudang barang bukti. Dan device kanal adalah device tanpa timer — device yang dibaca pelan-pelan, device yang menunggu. Itu device untuk pembaca yang sabar. Dan aku sudah belajar sabar dari guru terbaik di korps ini."
"Atap untukku," kata Arenta. "Timer yang berjalan, vertikal, terbuka — device untuk tangan yang sudah dua puluh tahun membaca di bawah tekanan. Tapi dengar aturannya, Rend, dan ini tidak bisa ditawar: device kanalmu tanpa timer bukan berarti aman. Dia meletakkannya di tempat Dimas jatuh untuk satu alasan — supaya orang yang turun ke sana membaca dengan hantu di pundaknya. Jangan bawa hantu ke dalam kanal. Hantu tidak bisa membaca kabel. Turun sebagai operator, atau tidak turun sama sekali."
"Aku turun sebagai operator, Bu," kata Rendi. Dan kemudian, dengan sesuatu yang kecil di sudut suaranya yang hampir tidak terdengar: "Dan kalau hantu itu datang juga — aku akan berkata kepadanya bahwa aku datang untuk menutup bukunya dengan benar. Itu satu-satunya hantu yang layak berdiri di kanal itu."
Justifikasi diucapkan keras-keras, supaya tercatat: dua device bertumpuk, timer berjalan, robot tidak bisa menjangkau atap rangka dan tidak bisa masuk kanal sempit, disruptor mustahil di dua posisi sekaligus. Dan mereka turun — Rendi ke mulut kanal dengan tim penyokong di permukaan, Arenta ke tangga atap dengan suit yang sudah menjadi bagian dari tubuhnya — pada jam yang sama, dengan satu radio terbuka di antara mereka dan satu pasar yang tidur di sekelilingnya tanpa tahu apa-apa.
Arenta naik ke atap itu dengan kaki yang mengenali setiap pijakan — atap kios seng yang berderit pelan, rangka kayu tua, dan di tengahnya, terbungkus terpal yang disingkap dengan dua jari: device kedua. Panel angka itu berjalan di angka tiga puluh satu menit ketika ia berlutut di sampingnya, dan papan itu terbuka di depan matanya seperti halaman yang ditulis dalam bahasa ibunya.
Dan ia membacanya — dan untuk pertama kalinya sejak malam itu, lima belas bulan yang lalu, tenggorokannya mengencang di dalam helm.
Karena papan itu adalah papan yang sama. Bukan serupa — sama. Konvensi lama, tata letak yang sama, keluarga komponen yang sama, dan di sudutnya, ruang yang disisakan untuk tangan operator dengan ukuran yang sama persis dengan yang ditinggalkannya untuk Dimas di gang selebar bahu lima belas bulan lalu. Device ini adalah saudara kembar dari device yang membunuh Dimas — dibangun dari diagram yang sama, diagram yang difoto Surya dari dinding terowongan, diagram bertanggal tiga minggu sebelum Kapuk.
Dia membangunnya dua kali. Satu untuk Dimas, lima belas bulan lalu. Satu untukku, malam ini. Dari diagram yang sama, dengan tangan yang sama, untuk dua pembaca yang berbeda.
"Bu." Suara Rendi di radio, dari bawah tanah, tenang dan teknis. "Laporan dari kanal: device di sini adalah belahan dari device Ibu. Aku melihat kabel yang keluar dari papan ini dan naik ke atas — menembus lantai kios, menuju atap. Device kita dihubungkan, Bu. Dua papan, satu rangkaian — seperti malam itu. Yang ini tidak bisa mati tanpa yang itu, dan yang itu tidak bisa mati tanpa yang ini."
Dan Arenta menutup matanya satu detik — di dalam panas, di dalam suit, di dalam lima belas bulan — dan membaca seluruh panggung itu sekaligus:
Dua device kembar yang dihubungkan, sama seperti malam itu. Tetapi malam itu, hubungannya tersembunyi — Dimas tidak tahu, dia tidak tahu, tidak ada yang tahu sampai semuanya terlambat. Malam ini, hubungannya terlihat, diumumkan, dipajang seperti syarat ujian: dua pembaca, dua device, satu rangkaian — dan hanya satu cara untuk mematikannya.
"Rendi. Aku sudah membaca papan atapku, dan sekarang aku membaca suratnya: ini device kembar yang sesungguhnya, desain asli dari malam itu — dan aku sudah tahu apa yang dituntutnya, karena aku sudah membaca diagram ini di dinding terowonganmu." Ia membuka matanya, dan memandang panel yang berjalan di angka dua puluh delapan menit. "Dua device ini harus dipotong serentak. Bersamaan, dalam detik yang sama — kalau satu dipotong lebih dulu, jalur silangnya menutup dan yang satunya menjawab. Itu desainnya dari awal. Itu yang dihadapi Dimas tanpa tahu — dan itu yang akan kita hadapi malam ini dengan tahu. Itu bedanya. Itu satu-satunya bedanya — dan itu seluruh bedanya."
"Siap, Bu," kata suara dari kanal itu, dari bawah tanah, dari posisi Dimas. "Aku sudah membaca titik potongku. Laporkan titik potong Ibu, dan kita susun hitungannya."
Dan di atas atap kios itu, di atas pasar yang tidur, di bawah langit malam yang tidak berbintang, Arenta mulai membaca titik potongnya — dengan tangan yang tidak gemetar, dengan hantu yang berdiri di luar helm, dengan satu kalimat yang berputar di kepalanya seperti dua titik yang mencari garisnya:
Malam ini, di tempat yang sama, kita kerjakan ulang — dan kali ini kita kerjakan dengan benar.