Desain asli device kembar itu, dibaca utuh untuk pertama kalinya dari dua posisi sekaligus, adalah desain yang membuat bahkan Surya — yang mendengarkannya dari pos komando melalui saluran terbuka — menarik napas panjang di ujung yang lain.
Karena desain itu sederhana dan kejam dengan cara yang hanya bisa lahir dari satu tangan: dua papan, masing-masing dengan satu kabel penentu — kabel yang oleh perakit disebut, di catatan pinggir diagramnya yang sudah dibaca mereka semua dari foto terowongan, jantung. Setiap jantung memompa sinyal hidup ke papan pasangannya melalui jalur silang: selama sinyal dari papan seberang terus datang, papan ini tetap tidur. Potong jantung di satu papan tanpa memotong jantung di papan satunya dalam detik yang sama — dan papan yang kehilangan sinyal itu membaca keheningan sebagai perintah terakhirnya, dan menutup jalur silangnya, dan menjawab.
Dua tangan. Dua kabel. Satu detik. Itu seluruh soalnya — dan seluruh kejamnya: karena antara dua tangan itu berdiri tiga puluh meter vertikal, satu lantai kios, satu atap seng, dan satu radio yang membawa suara melalui udara malam dengan jeda yang tidak bisa diukur dengan pasti.
"Jeda radio adalah masalahnya," kata Bara dari pos komando, dengan suara yang berpikir keras. "Hitungan lewat radio punya latensi — sepersekian detik, kadang lebih kalau udara penuh. Dan serentak di sini berarti serentak — bukan hampir serentak. Kalau kita menghitung mundur lewat radio dan memotong di angka nol, jeda itu bisa berdiri di antara dua potongan."
"Maka kita tidak menghitung mundur," kata Arenta dari atap, dengan mata yang tidak beranjak dari papannya. "Kita menghitung dari titik tetap. Rend — kita berdua punya jam dengan detak yang bisa kita lihat. Kita samakan jam kita sekarang, ke detiknya, lewat radio — dan kita potong di satu menit penuh yang disepakati, oleh jam masing-masing, bukan oleh hitungan siapa pun. Radio hanya untuk menyepakati menitnya. Setelah itu, radio diam, dan dua tangan bekerja dengan dua jam yang sama."
"Empat menit," kata suara Rendi dari kanal. "Aku butuh dua untuk menyiapkan posisi potong, satu untuk verifikasi terakhir, satu untuk napas. Potong di menit keempat dari sekarang — jamku menunjukkan nol-tujuh dan empat puluh detik. Samakan."
"Nol-tujuh dan empat puluh satu. Samakan di empat puluh lima." Jeda satu detik. "Empat puluh lima. Sekarang."
"Sinkron."
Dan di pos komando, Surya mencatat waktu sinkronisasi itu di papan dengan spidol yang dipegangnya seperti memegang sesuatu yang hidup: dua jam, satu detik, nol radio sesudahnya. Partitur sudah ditulis. Sekarang tinggal dua orang yang memainkannya.
Maka dua tangan itu menyiapkan diri — satu di atap seng di bawah langit, satu di kanal basah di bawah tanah, tiga puluh meter dan lima belas bulan dari satu sama lain.
Arenta menyiapkan titik potongnya dengan ritual yang sudah menjadi tulang di tubuhnya: penjepit diperiksa dua kali, posisi tangan diatur, jalur di sekitar titik potong diverifikasi untuk terakhir kalinya — karena di detik-detik terakhir, mata hanya boleh membaca satu hal, dan satu hal itu adalah kabel di depannya. Jantung di papan atap: satu kabel berisolasi biru tua, di antara tiga yang serupa, yang sudah ditelusurinya dari terminal ke terminal sampai tidak ada keraguan yang tersisa.
Dan di bawah tanah, di kanal yang sempit itu, di posisi Dimas, Rendi menyiapkan titik potongnya dengan tangan yang — ia akan menceritakannya kemudian, bertahun-tahun kemudian, di kelas-kelasnya sendiri — tidak gemetar satu kali pun, karena di kanal itu, di tempat itu, gemetar sudah tidak punya kursi sejak ia turun dengan nama seorang operator yang tidak pernah dikenalnya tetapi yang tangannya berdiri di semua latihannya.
"Tiga menit," kata Arenta di radio. "Laporan keadaan."
"Posisi siap. Verifikasi selesai. Titik potong terkonfirmasi — jantungnya, bukan umpannya: ada dua kabel kembar di sini juga, Bu, seperti di rumah masa kecil Ibu. Satu menarik sedikit lebih kencang ke dinding kanal." Dan untuk pertama kalinya malam itu, di suara anak muda itu, ada sesuatu yang hampir seperti senyum. "Aku membaca ketegangan pangkalnya dengan ujung jari telanjang, Bu. Seperti yang Ibu ajarkan. Yang ini jantungnya. Yang satunya bohong."
Dan Arenta, di atas atap itu, membiarkan satu detik untuk menjadi bangga — satu detik penuh, tidak kurang — dan kemudian kembali ke kabelnya.
"Dua menit. Setelah potongan, laporkan dengan kata yang sama di saat yang sama: potong. Kalau satu kata masuk dan kata yang lain tidak — yang mendengar keheningan menjatuhkan diri dari device-nya, apa pun yang terjadi. Itu aturannya. Ulangi aturannya."
"Yang mendengar keheningan menjatuhkan diri dari device-nya, apa pun yang terjadi," ulang Rendi. "Bu."
"Ya, Rend."
"Dimas akan bangga dengan malam ini."
Dan Arenta tidak menjawab itu — karena ada kalimat-kalimat yang kalau dijawab akan merusak tangan — dan hanya berkata, dengan suara yang datar dan penuh sekaligus: "Satu menit. Radio diam setelah ini. Sampai di kata potong, Rend. Sampai di kata potong."
Radio itu diam. Dan malam itu menjadi dua jam yang berjalan menuju satu menit penuh — dua tangan, dua kabel, satu detik yang disepakati, dan satu pasar yang tidur di antara keduanya tanpa pernah tahu bahwa di atas dan di bawahnya, surat untuk Dimas sedang dijawab.