Persidangan Rendra Pakpahan dibuka pada musim hujan, di pengadilan negeri kota itu, dengan ruang sidang yang penuh setiap harinya — karena negeri itu sudah membaca beritanya selama setahun, dan sekarang negeri itu ingin mendengar bukunya dibacakan keras-keras, di depan dunia, oleh orang-orang yang menulisnya dari dua sisi yang berbeda.
Arenta bersaksi pada hari kelima — dan kesaksiannya memakan waktu satu hari penuh, dari pagi sampai sore, dengan ruangan yang tidak pernah kehilangan satu suara pun. Ia datang dengan map kerjanya dan buku catatannya dan dua puluh tahun di tangannya, dan menjawab setiap pertanyaan dengan cara yang sudah menjadi caranya: datar, lengkap, tanpa satu kata pun yang tidak bisa dibuktikannya.
Jaksa membawanya melalui seluruh buku: Pulogadung, Kapuk, sekolah di Cengkareng, gudang amunisi, rumah masa kecil, kantor satuan lama, rumah sakit, akademi, pasar malam dengan paku, dan malam tanggal itu — device demi device, surat demi surat, potongan demi potongan. Dan Arenta membacakannya seperti membacanya di lapangan: dengan urutan yang benar, tanpa melewatkan satu jalur pun.
Dan di kursi terdakwa, dengan dua pengacara di sisinya yang sudah lama berhenti mencoba mengendalikan kliennya, Rendra Pakpahan mendengarkan — dengan mata yang tidak pernah beranjak dari saksi, dengan sesuatu di wajahnya yang oleh para wartawan di barisan belakang ditulis dengan seribu cara berbeda dan tidak pernah benar di satu pun: bukan penyesalan, bukan tantangan, bukan dingin. Perhatian. Perhatian seorang pembaca kepada pembaca yang sedang membaca bukunya — dan kepuasan kecil yang tidak bisa disembunyikannya setiap kali pembaca itu membaca dengan benar, yang akan ditafsirkan dunia selama bertahun-tahun dan hanya dimengerti oleh dua orang di ruangan itu.
Puncaknya datang ketika jaksa membacakan satu bagian dari pengakuan tertulisnya — bagian tentang malam di Pasar Kapuk, satu setengah tahun yang lalu, bagian yang ditulisnya dengan tangannya sendiri tanpa diminta: bahwa device pertama memiliki pemicu radio cadangan; bahwa ia berada cukup dekat untuk melihat; bahwa operator yang turun ke gang itu membaca rangkaiannya dengan benar dan hampir menyelesaikannya; dan bahwa ia menekan tombol itu di detik terakhir, dengan sengaja, karena egonya tidak menerima bahwa seorang pembaca menang.
Ruangan itu membaca keheningan setelah bagian itu seperti membaca ledakan yang tidak terdengar. Dan di barisan pengunjung, di kursi yang sudah disediakan untuknya sejak hari pertama, Nita duduk dengan punggung tegak dan mata yang kering — karena ia sudah lama melewati takut, dan kini, di ruang sidang ini, ia sedang melewati sesuatu yang lebih besar: ia sedang mendengar nama kakaknya dibacakan dengan benar, di depan dunia, seperti yang dijanjikan di kedai kopi kecil dua tahun yang lalu.
Dan Arenta, di kursi saksi, menambahkan satu kalimat yang tidak diminta jaksa — kalimat yang akan dikutip semua koran keesokan harinya:
"Saya ingin mencatat untuk sidang yang mulia: operator Dimas tidak kalah di malam itu. Tidak ada yang kalah dari rangkaian itu — rangkaian itu dibaca dengan benar sampai detik terakhir oleh tangan yang tidak pernah salah. Yang terjadi di malam itu bukan kekalahan operator. Yang terjadi adalah pembunuhan — satu tombol, dari jarak aman, oleh satu orang yang menonton. Dan saya meminta sidang mencatatnya dengan kata-kata itu, karena kata-kata itu adalah satu-satunya cara membacanya dengan benar."
Hakim ketua memandangnya lama, dan mengetuk satu kali, dan berkata: "Dicatat."
Dan di kursi terdakwa, Rendra Pakpahan menunduk — satu kali, pelan, gerakan yang tidak diperintahkan pengacaranya dan tidak akan pernah diakuinya — gerakan yang oleh dua orang di ruangan itu dibaca dengan benar: seorang pembaca memberi hormat kepada pembacaan yang benar.
Putusan jatuh dua minggu kemudian: penjara seumur hidup, dengan seluruh rangkaian dakwaan terbukti, dengan serpihan logam di bahu kanan dibacakan sebagai penanda, dengan diagram bertanggal dari dinding terowongan terpampang di layar ruang sidang sebagai bukti perencanaan. Tidak ada banding yang diajukan — pengacaranya mengumumkan itu dengan wajah orang yang sudah tahu sejak awal, dan kliennya mengangguk kepada wartawan dengan satu kalimat yang menjadi tajuk besok paginya: "Buku yang benar tidak mengajukan banding. Buku yang benar berdiri dengan apa yang tertulis."
Dan tiga minggu setelah putusan, satu surat tiba di markas — ditujukan kepada Arenta, melalui prosedur pemeriksaan surat tahanan, distempel tiga kali sebelum sampai ke tangannya. Satu lembar. Dan di dalamnya tidak ada kata-kata — hanya dua titik kecil, digambar dengan pensil, di tengah kertas yang bersih.
Arenta memandangnya lama, di mejanya, di sore itu. Dan kemudian ia melipatnya, dan memasukkannya ke dalam map berlabel arsip — bukan dibuang, bukan dijawab: diarsipkan, seperti semua surat yang sudah selesai dibaca, di tempat surat-surat selesai berdiri.
Dan malam itu, di buku kerjanya, ia menulis: sidang selesai. seumur hidup. nama Dimas dibacakan dengan benar di depan dunia, dan Nita berdiri tegak di barisan pengunjung dengan mata yang kering. dan di bawahnya: surat terakhirnya tiba hari ini — dua titik, tanpa kata-kata. kali ini aku yang tidak menjawab. bukan karena dendam; karena pembaca yang benar tahu kapan sebuah buku selesai — dan buku ini selesai di ruang sidang, dengan kata dicatat, dengan punggung yang menunduk satu kali. halaman-halaman setelah itu bukan milikku lagi. halaman-halaman setelah itu milik orang-orang yang kujarkan membaca — dan mereka sudah menulisnya, satu per satu, di lapangan, di kelas, di malam-malam yang tidak masuk berita.