Bulan-bulan setelah putusan itu berjalan dengan cara yang oleh orang-orang di korps itu disebut, dengan rasa yang campur antara lega dan tidak percaya, "tahun-tahun biasa" — karena setelah dua tahun dibaca oleh satu buku, kebiasaan yang paling biasa pun terasa seperti kemewahan: panggilan-panggilan rutin yang ternyata buku pelajaran, paket-paket yang ternyata belanjaan, malam-malam yang tidak ada suratnya.
Satuan itu pulih dengan cara satuan pulih: dengan kerja. Kelas-kelas baru dibuka — dan untuk pertama kalinya dalam sejarah korps itu, ada daftar tunggu: karena berita-berita setahun terakhir, dengan segala yang salah dari cara berita bekerja, juga menunjukkan kepada satu generasi anak muda bahwa ada pekerjaan yang disebut membaca, dan bahwa pekerjaan itu menyelamatkan orang. Sembilan taruna pertama Arenta lulus di musim semi — dan di hari kelulusan itu, sembilan tangan muda berdiri di barisan, dan satu taruna perempuan yang dulu bertanya bagaimana caranya tidak takut maju menerima sertifikatnya dengan tangan yang sudah berhenti mencari tempatnya di dunia, karena tempatnya sudah ditemukan: di ujung-ujung jarinya sendiri.
Hutahaean menua dengan cara yang benar — lebih banyak waktu di kebun belakang markas yang sudah lama dijanjikannya kepada dirinya, lebih sedikit malam di ruang operasi, dan satu kebiasaan baru yang membuat seluruh markas tersenyum tanpa pernah membicarakannya keras-keras: setiap Kamis sore, komandan itu duduk di kantin dengan segelas kopi dan satu buku catatan kecil, menulis memoarnya sendiri, yang katanya tidak akan pernah diterbitkannya dan yang oleh seluruh markas sudah diberi judul tidak resmi: surat itu dua arah.
Bara naik ke posisi yang sudah lama menunggunya. Rendi memimpin tim lapangannya dengan tangan yang semakin tenang setiap bulannya — dan di gudang barang bukti sayap belakang, dua sore setiap minggu, ia mulai melakukan sesuatu yang oleh orang-orang gudang dikenali dengan senyum: mengajar. Dua taruna muda, papan-papan device mati, dan satu kalimat yang sudah diwariskannya utuh: jangan lihat kabelnya. kabel itu bohong kalau kau membiarkannya. cari niatnya.
Dan Surya menutup satu babnya sendiri: empat puluh tujuh lembar dari dinding terowongan, delapan device yang sudah mati, dua peti aluminium — semuanya difoto, didaftarkan, dan dipindahkan ke gudang arsip pusat dengan nomor-nomor yang rapi, untuk dipelajari angkatan-angkatan berikutnya. Satu lembar tidak ikut ke arsip: diagram Gerbang tahun kedua, yang oleh kepala forensik itu dipasang di dinding labnya sendiri, dalam bingkai sederhana, dengan satu catatan kecil di bawahnya yang hanya dimengerti orang-orang yang membaca: baca, jangan menebak. Dan di sudut bingkai itu, dengan spidol yang sama, ditambahkannya dua titik kecil — kode yang sudah menjadi milik korps, bukan milik satu orang lagi. Di hari pemasangannya, seluruh lab berdiri menonton tanpa diperintah, karena beberapa bingkai bukan hiasan, melainkan sumpah.
Dan Arenta — Arenta menemukan, di bulan-bulan itu, sesuatu yang sudah dua puluh tahun tidak dimilikinya: malam-malam yang utuh.
Tidak sekaligus. Penyembuhan tidak pernah sekaligus; penyembuhan adalah rangkaian kecil yang dibaca pelan-pelan. Jam tiga pagi masih datang — dua puluh tahun tidak pensiun dalam dua musim. Tetapi di jam-jam tiga pagi itu, yang berubah adalah apa yang dilakukannya: tidak lagi menggambar rangkaian dari ingatan, tidak lagi memutar malam-malam lama seperti film yang rusak. Ia menyeduh kopi — terlalu manis, dari gelas bertitik dua — dan berdiri di jendela, dan membaca kota yang berkedip di bawahnya seperti membaca papan yang akhirnya selesai: titik-titik lampu yang tidak memintanya untuk apa-apa, yang hanya berdiri di sana, menyala, pulang ke rumah masing-masing.
Dan tangannya tenang.
Ia menyadarinya di satu malam yang biasa, di dapur, memegang gelas itu dengan tangan kanannya — tangan yang sudah memotong lebih banyak kabel dari yang bisa dihitungnya, tangan yang gemetar pertama kali di gudang barang bukti dua tahun lalu dan gemetar terakhir kali di atas dua kabel kembar di gang selebar bahu — dan tangan itu diam. Bukan ditahan diam. Diam. Seperti air yang sudah selesai beriak, seperti rangkaian yang sudah selesai bekerja dengan benar.
Dan ia berdiri di sana untuk waktu yang lama, memandang tangan kanannya di cahaya dapur, dan memikirkan semua yang sudah dibawa tangan itu: dua puluh tahun, delapan surat, satu gang selebar bahu, satu perpustakaan di terowongan, satu sidang, satu penjepit yang sudah berpindah ke tangan yang lebih muda. Dan kemudian ia mengangkat gelasnya sedikit, kepada tidak ada siapa-siapa, kepada semua orang, dan meminum kopi yang terlalu manis itu sampai habis, dan mencuci gelasnya, dan kembali tidur.
Di buku kerjanya — buku yang sudah hampir penuh, yang tinggal beberapa halaman, yang akan segera berganti ke buku yang baru — ia menulis malam itu: tangan kananku tenang malam ini. tidak kutahan — tenang. dua puluh tahun untuk sampai ke malam ini, dan harganya tidak pernah kuhitung, karena ada hal-hal yang tidak dihitung, ada hal-hal yang dibaca. dan di bawahnya, sebagai kalimat penutup dari buku kerja yang hampir penuh itu: pekerjaan ini tidak pernah tentang tangan yang tidak pernah salah. pekerjaan ini tentang tangan yang terus membaca bahkan setelah salah — dan tentang memastikan ada tangan yang lebih muda di sebelahnya, belajar membaca, supaya pekerjaan itu tidak pernah berhenti. tangan berpindah ke tangan yang lebih muda. itu seluruh bukunya. itu selalu seluruh bukunya.