Paket keempat ditemukan di gudang amunisi tua di pinggir kota, sebuah kompleks yang dulu jadi pos penjagaan Arenta sebagai junior, kini setengah terbengkalai dan dipakai menyimpan barang sitaan. Polanya tepat—paku berikutnya di peta riwayatnya. Dan di tempat ini, untuk pertama kalinya sejak semua dimulai, prosedur yang seharusnya menyelamatkan justru gagal.
Robot EOD masuk tanpa kesulitan; lorong gudang lebar. X-ray bersih. Rangkaiannya rumit tapi terbaca, dan tim memutuskan menggunakan disruptor air—senjata paling aman, paling jauh, paling tidak melibatkan tangan manusia. Rendi yang memposisikan tripod disruptor lewat kendali jarak jauh, moncongnya diarahkan ke titik pemicu yang sudah ditandai Arenta dari pembacaan X-ray.
"Posisi bagus," kata Arenta dari pos komando, menatap layar. "Titik tembak benar. Tembak kalau siap."
Disruptor menyalak—dentuman tajam udara dan air bertekanan ekstrem, secepat kilat, dirancang merobek rangkaian sebelum sinyal listrik sempat merambat. Pada device mana pun yang pernah Arenta tangani, itu mengakhiri cerita.
Device ini tidak mati.
Layar menunjukkan asap, serpihan—dan di tengahnya, rangkaian yang masih utuh di bagian intinya, masih hidup, timernya kini berdetak lebih cepat, terpicu oleh gangguan. Seseorang di pos komando mengumpat. Arenta berdiri begitu cepat kursinya terjengkang.
"Dia anti-disruptor," Surya berkata, suaranya tipis, menatap data. "Pemicunya dilapis—dikemas dalam bantalan penyerap, ditaruh di posisi yang air nggak bisa jangkau dari sudut mana pun. Semburan kena kemasan luar, inti utuh. Dia tahu kita akan pakai disruptor. Dia rancang buat menertawakannya."
Dan timer kini berlari. Empat menit.
Rendi, yang memegang kendali robot, mencoba manipulator untuk menjangkau inti—tapi serpihan dari disruptor sendiri sudah membuat puing yang menghalangi lengan robot, dan setiap gerakan kasar manipulator menggetarkan rangkaian yang sekarang dalam kondisi tak stabil. Arenta melihat di layar tangan Rendi gemetar di kontrol, melihat anak itu mendorong lengan robot terlalu jauh dalam panik, melihat rangkaian bergeser.
"Rendi, tarik mundur," katanya tajam. "Tarik robotnya mundur sekarang. Kamu malah mantik kalau terus."
"Saya bisa, Bu, satu jepitan lagi—"
"TARIK MUNDUR."
Rendi menarik mundur. Lengan robot lepas dari device, dan rangkaian yang sudah goyah itu diam sejenak, tapi timernya tidak. Tiga menit. Robot tak bisa lagi mendekat tanpa memantik; disruptor sudah gagal; tak ada sudut tembak kedua. Setiap kotak prosedur dicentang dan kosong, lagi, dan kali ini lebih buruk karena prosedur tidak cuma gagal—prosedur memperburuk.
Arenta sudah mengenakan suit sebelum Hutahaean sempat bicara. "Robot mantik, disruptor gagal, timer di bawah tiga menit," katanya, menyebut alasannya keras-keras supaya tercatat, supaya tak ada yang mengira ini drama. "Manual satu-satunya jalan. Rendi, kamu jadi mataku. Pak Mayor—"
"Jalan," kata Hutahaean, wajahnya abu-abu. "Jalan, Renta."
Lorong gudang panjang dan ia berlari secepat suit mengizinkan, napas memenuhi helm, pelat berdebam. Device menunggu di tengah lantai, terkupas oleh disruptor, isinya terbuka—dan kacau. Inti rangkaian terpapar tapi terjepit puing kemasan, kabel-kabel tertekuk dalam posisi yang tak ada di X-ray mana pun karena disruptor mengubah segalanya. Tidak ada lagi rangkaian rapi yang bisa dibaca seperti tulisan tangan. Ada kekacauan, dan dua menit.
Ini adalah situasi yang ia takuti lebih dari device sempurna mana pun: device yang sudah dirusak setengah, yang logikanya tak lagi murni, di mana ia harus membaca bukan niat perakit tapi kerusakan acak di atasnya. Tangannya, di dalam sarung suit, untuk pertama kalinya gemetar saat menjangkau—getaran halus yang ia paksa berhenti dengan menahan napas.
Ia menelusuri. Detonator masih tersambung ke sumber lewat satu jalur utuh; sisanya rusak, mati, atau ambigu. Logika berkata putus jalur utuh itu. Tapi ia melihat sesuatu—di bawah puing, jalur kedua, hampir tertutup, yang jika ia putus jalur utama tanpa mengisolasi ini lebih dulu, akan mengalihkan arus dan tetap menutup sirkuit. Disruptor merusak banyak hal tapi tidak merusak jebakan inti. Ia harus memutus dua jalur, dalam urutan, dengan tangan, di bawah satu menit, di posisi yang puingnya menghalangi pandangan.
Ia memotong yang tersembunyi dulu. Lalu yang utama. Timer—ia tak melihat timer; ia tak punya waktu untuk melihat; ia tahu dari pengalaman bahwa melihat timer membunuhmu karena ia mencuri sepersekian detik dari tanganmu. Ia memotong, dan menunggu ledakan yang tidak datang.
Hening.
Device mati di bawah tangannya yang gemetar. Ia duduk di lantai gudang, helm masih terpasang, dan untuk pertama kalinya menyadari betapa dekat—bukan dekat yang dramatis, tapi dekat yang nyata, yang dingin, yang membuatnya tahu bahwa kali ini ia menang bukan karena keahlian murni melainkan karena keahlian ditambah keberuntungan, dan keberuntungan bukan keterampilan yang bisa diandalkan.
Ketika ia mengangkat puing untuk mengamankan inti, ia menemukan tanda tangan baru. Bukan kertas kali ini. Diukir ke pelat logam pemicu, dalam, sengaja, agar bertahan bahkan jika disruptor menghantamnya: dua huruf. Inisial.
A. P.
Inisialnya sendiri. Arenta Pasaribu. Tapi ditulis dengan cara tertentu—huruf P dengan ekor yang melengkung ke dalam, gaya tulisan yang bukan miliknya, gaya yang ia kenal dari tempat yang sangat tua dan sangat dalam, dari ruang latih akademi tempat dulu seseorang menulis namanya di papan dengan cara persis seperti itu, mengejeknya, menantangnya, sebelum semuanya terjadi.
Arenta menatap dua huruf itu lama di dalam helmnya, di gudang tempat ia dulu junior, dan untuk pertama kalinya merasa dirinya bukan hanya membaca surat dari orang asing.
Ia membaca surat dari seseorang yang ia kenal.