Arsip akademi disimpan di lemari logam berdebu di lantai bawah tanah pusat pendidikan, dan butuh dua hari serta satu permintaan resmi sebelum Arenta diizinkan menggali angkatannya sendiri. Ia tidak memberitahu siapa pun alasannya. Ia bilang pada Hutahaean ia ingin memeriksa daftar instruktur lama. Itu setengah benar, yang berarti seluruhnya bohong.
Inisial itu—P dengan ekor melengkung ke dalam—membawanya ke satu nama, dan begitu nama itu muncul di kepalanya, ia tahu ia tidak akan bisa melepaskannya.
Rendra Pakpahan.
Mereka satu angkatan di akademi, lima belas tahun lalu. Rendra yang paling cerdas di kelas rangkaian—lebih cepat dari Arenta, lebih berani, tangannya lebih lincah. Mereka rekan latih, dipasangkan karena instruktur ingin dua yang terbaik saling mengasah. Rendra yang menulis namanya di papan dengan ekor P yang melengkung, sombong, jenius, dan punya sesuatu yang gelap di bawah kecemerlangannya—keinginan untuk membuktikan bahwa ia lebih baik, selalu, dari siapa pun.
Dan Rendra yang menghilang.
Arenta menemukan berkasnya. Diberhentikan dari pendidikan lanjutan, dua belas tahun lalu, setelah sebuah insiden di latihan render-safe lanjutan—sebuah device latih yang seharusnya inert tapi tidak, sebuah ledakan yang seharusnya tidak terjadi, seorang instruktur yang kehilangan tangan, dan penyelidikan internal yang menyalahkan Rendra karena mengganti rangkaian latih dengan rangkaian buatannya sendiri "untuk menguji apakah pengawasnya cukup teliti". Ia dipecat. Berkasnya menulis: kemampuan teknis luar biasa, ketidakstabilan psikologis, kecenderungan menganggap penjinakan bahan peledak sebagai kompetisi intelektual ketimbang penyelamatan jiwa.
Baris terakhir berkas, ditulis tangan oleh komandan pendidikan saat itu: Status setelah pemberhentian—tidak diketahui. Ada catatan dua tahun kemudian: dilaporkan meninggal dalam kecelakaan di luar negeri, tidak terverifikasi.
Tidak terverifikasi.
Arenta duduk di ruang arsip berdebu itu lama sekali. Semua cocok dengan cara yang membuatnya mual. Rendra tahu SOP karena ia dilatih dengan SOP yang sama—bukan psikologi gaib, bukan kemampuan membaca pikiran, melainkan kenyataan sederhana dan mengerikan bahwa ia dan Arenta dibentuk oleh tangan yang sama, guru yang sama, buku yang sama. Ia tahu kode dua titik karena mereka memakainya bersama di latihan. Ia tahu riwayat penugasan Arenta tidak karena ajaib, tapi karena—Arenta menyadari ini dengan dingin yang merata—sebagian besar tempat itu juga ada di berkas akademi mereka, atau bisa dilacak siapa pun yang tahu di mana mencari, oleh seseorang yang punya waktu bertahun-tahun untuk mencari.
Dan ia tahu cara Arenta berpikir karena dulu mereka saling membaca, dua anak muda yang dipaksa jadi cermin satu sama lain di ruang latih, masing-masing belajar mengantisipasi tangan yang lain.
Tapi—dan inilah yang Arenta pegang erat, yang membuat teori ini tetap di bumi—Rendra bukan mahatahu. Ia salah membaca Arenta di sekolah; ia mengira Arenta akan memilih satu korban, dan Arenta memilih jalan ketiga, dan Rendra harus menulis kertas mengakui ia terkejut. Ia tidak tahu lokasi warga terkurung; ia hanya tahu pasar Kapuk pasti ramai, sekolah pasti penuh anak—tebakan, bukan pengetahuan ilahi. Ia membangun jebakan berdasarkan SOP yang ia hafal, bukan berdasarkan kemampuan melihat masa depan. Ia manusia. Ia bisa salah. Ia sudah salah.
Dan itu, anehnya, lebih menakutkan—karena manusia yang bisa salah dan tetap memilih jalan ini, yang dianggap mati selama dua belas tahun dan diam-diam menyolder dendam menjadi rangkaian, jauh lebih nyata daripada hantu mahatahu.
Arenta menutup berkas. Tangannya, ia perhatikan, kembali tenang—tenang dengan cara yang menakutkan, tenang seperti permukaan air sebelum sesuatu di bawahnya bergerak.
Ia tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Bawa nama ini ke Hutahaean. Buka penyelidikan. Cari Rendra Pakpahan, hidup atau tidak, lewat catatan imigrasi, lewat keluarga, lewat setiap jalur resmi.
Ia tidak melakukannya.
Ia duduk di mobilnya di parkiran pusat pendidikan sampai gelap, memegang fotokopi berkas, dan menimbang. Jika ia salah—jika ekor P itu kebetulan, jika Rendra benar-benar mati, jika ada penjelasan lain—maka menyebut nama itu akan menghancurkan reputasi seorang mati dan, lebih buruk, mengarahkan seluruh satuan ke jalan buntu sementara perakit sungguhan bekerja bebas. Curiga adalah senjata perakit; ia tidak ingin menambah pelurunya.
Tapi ia tahu, jauh di bawah alasan-alasan rapi itu, ada alasan yang lebih jujur dan lebih buruk. Jika perakit ini Rendra, maka percakapan yang sedang berlangsung lewat papan-papan sirkuit itu bukan antara satuan dan teroris. Itu antara Arenta dan satu-satunya orang yang pernah benar-benar mengerti apa yang ia lakukan dengan tangannya. Dan sebagian dari dirinya—bagian yang ia benci, bagian insomnia, bagian yang tidak pernah pulang dari Kapuk—ingin menyelesaikan percakapan itu sendiri.
Ia menyimpan berkas di laci mobil, terkunci, dan menyetir pulang dalam diam.
Di apartemennya, di meja, ada amplop. Tak ada perangko, tak ada nama pengirim, diselipkan di bawah pintu entah kapan. Di dalamnya selembar kertas, tulisan tangan yang sama, ekor P melengkung di huruf yang ada.
Surat berikutnya akan jadi ujian akhir. Tidak ada jalan ketiga. Datang sendiri, atau jangan datang sama sekali—tapi kamu akan datang, karena kamu selalu datang. Kamu masih ingat caranya.
Dan di sudut bawah, dua titik. Jarak dua detik.
Arenta meletakkan surat itu di meja. Ia tidak tidur malam itu, tapi untuk pertama kalinya dalam empat belas bulan, bukan karena ia tidak bisa. Karena ia memilih untuk tidak. Ia duduk menghadap jendela, kota berkedip di bawahnya, dan menunggu surat yang ia tahu akan datang, di tempat yang ia takut sudah ia ketahui.