Device peniru kedua muncul dua bulan kemudian — dan kali ini, ketika panggilan itu masuk, Arenta tidak turun dari kelasnya. Ia menyelesaikan jam pelajarannya sampai selesai, mengumpulkan kertas-kertasnya, dan berjalan ke mobil dengan tenang — karena device ini bukan untuknya. Device ini untuk operator lapangan yang baru, dan operator lapangan yang baru sudah tiba di lokasi dua puluh menit sebelumnya, dan sudah mulai membaca.
Panggungnya sebuah kampus negeri — tas ransel di lobi fakultas teknik, ditemukan satpam, dengan satu kabel yang menjuntai dan satu catatan tertempel di resletingnya: untuk yang masih ingat caranya. Peniru yang lebih berbahaya dari yang pertama: lebih tua, lebih terlatih, lebih berani — mahasiswa teknik yang memutuskan bahwa membaca berita adalah sama dengan membaca buku.
Arenta tiba ketika evakuasi sudah selesai dan X-ray pertama sudah di layar — dan masuk ke mobil komando, dan duduk di kursi yang sekarang menjadi kursinya: kursi mata. Kursi yang dulu didudukinya untuk Rendi, di lobi kelurahan, di hari pertama seorang operator baru membaca device pertamanya dengan benar.
"Laporan, operator," katanya, dengan nada resmi. Supaya tercatat.
"Device di lobi, terbuka, tidak ada kerumunan dalam radius seratus meter," kata Rendi, tanpa berbalik dari layarnya — dan suaranya, Arenta mencatat dengan sesuatu yang hangat di dadanya, sudah menjadi suara operator lapangan: datar, berurutan, tanpa lemak. "X-ray menunjukkan rangkaian yang meniru konvensi lama — positif di kiri, pengaman di kanan — tapi dibaca dengan teliti: ini dekorasi. Kabel-kabelnya ditata menyerupai konvensi tanpa memahami fungsinya. Timer digital berjalan, sisa lima puluh menit. Satu jalur yang terlihat seperti jebakan fotolistrik — tapi selnya tidak terhubung ke apa-apa; dia menempelnya karena pernah membaca tentang fotolistrik, bukan karena tahu cara memakainya. Analisis saya: tiruan dari tiruan. Tangan yang berbahaya dengan pengetahuan yang setengah. Dan setengah itu, Bu, adalah kondisi paling berbahaya dari semuanya — karena orang yang tahu setengah tidak tahu bagian mana yang dia tidak tahu."
Arenta memandang layar itu, memandang analisis itu, dan tidak menemukan satu pun yang salah. "Lanjutkan."
"Hierarki penuh. Robot dulu, disruptor dari sudut menyerong, tidak ada intervensi manual — tidak ada justifikasi untuknya, dan saya tidak akan menulis justifikasi yang tidak ada supaya tangan saya bisa ikut bermain." Dan untuk pertama kalinya, suara itu sedikit berubah — sedikit, di ujungnya, dengan sesuatu yang hampir senyum. "Seorang guru pernah berkata kepada saya: kita tidak pernah menang, kita hanya tidak terlambat. Dan tidak terlambat dimulai dengan tidak turun tangan tanpa alasan."
Robot itu bergerak masuk ke lobi kampus — dan Rendi mengendalikannya dengan tangan yang sudah menjadi tangannya, dengan jeda-jeda di titik yang benar, dengan kesabaran yang dibelinya di gudang yang berbau timah tua. Disruptor ditembakkan dari sudut yang dipilihnya dengan perhitungan di papan mobil komando, dan semburan air bertekanan itu merobek tas ransel itu menjadi komponen-komponen yang tergeletak mati di lantai lobi — timer berhenti, jalur terputus, device tiruan itu selesai tanpa satu tangan manusia pun menyentuhnya.
Render-safe. Bersih. Dengan buku. Dan Arenta, di kursi matanya, tidak mengatakan apa-apa sampai semuanya selesai dan device itu dikantongi forensik — dan kemudian berdiri, dan meletakkan tangannya satu kali di pundak operator lapangan itu, dan berkata satu kalimat saja, karena kalimat-kalimat terbaik adalah kalimat yang pendek:
"Sempurna. Tidak ada yang perlu dicatat di gudang minggu ini — pulanglah, dan tidur, kau sudah membaca dengan benar."
Mahasiswa itu tertangkap empat hari kemudian, di kamarnya sendiri, dengan dua diagram setengah jadi di laptopnya dan satu forum terbuka di layarnya — dan kasusnya menjadi satu baris kecil di berita yang tidak bertahan dua hari, karena dunia sudah lupa cara membaca surat-surat kecil, dan itu adalah hal yang baik, dan itu adalah hal yang harus dijaga.
Tetapi di gudang barang bukti, sore berikutnya, device tiruan itu berdiri di atas meja di antara dua pembaca — dan mereka membacanya berdua seperti membaca buku pelajaran, dengan kopi di siku mereka, dengan dua tahun pekerjaan yang berdiri di sekelilingnya.
"Lihat solderan ini," kata Rendi, menunjuk satu titik dengan ujung pena. "Dia mengerjakannya tiga kali — dan masih salah. Dan dia tetap memasangnya. Itu yang paling kutakutkan dari peniru-peniru ini, Bu: bukan keahliannya. Keputusannya. Dia tahu solderannya jelek dan tetap memasangnya — karena bagi dia, device ini bukan pekerjaan, melainkan foto. Sesuatu untuk diposting, bukan untuk dibaca."
"Dan itu pelajaran untuk buku kecilmu nanti," kata Arenta. "Tulis ini di suatu tempat: perakit yang sesungguhnya membenci device-nya sedikit — karena device adalah tanggung jawab, dan tanggung jawab itu berat. Peniru mencintai device-nya — karena bagi dia device adalah cermin. Kalau kau membaca cinta di papan yang kau baca, kau sedang membaca peniru. Kalau kau membaca beban, kau sedang membaca penulis." Ia menutup topik itu dengan menutup kopinya. "Dan sekarang pulang. Ini sore keberapa minggu ini? Empat? Istirahat adalah bagian dari membaca, Rend. Aku belajar itu terlambat dua puluh tahun — kau tidak boleh."
Dan di buku kerjanya malam itu: Rendi menjinakkan peniru keduanya dengan buku, tanpa satu tangan pun turun — dan aku menonton dari kursi mata dengan kopi, persis seperti yang dijanjikan Hutahaean dulu. pensiun yang berdiri di tribun dengan kopi. dan di bawahnya: tangannya sudah tidak membutuhkan tanganku. dan itu bukan kehilangan — itu adalah satu-satunya hadiah yang pernah kuminta dari pekerjaan ini, dan aku mendapatkannya, dan aku akan menjaganya dengan tidak pernah mengambilnya kembali.