Panggilan itu masuk pada hari Selasa sore dan pada awalnya terdengar seperti semua panggilan era normal baru: paket mencurigakan, kali ini di sebuah warnet di pinggir kota, ditemukan pemiliknya di bawah meja komputer nomor tujuh. Rutin. Sampai X-ray pertama naik ke layar, dan operator yang membaca di mobil komando — bukan Arenta, karena Arenta sedang mengajar, dan itu memang disengajakan sekarang — mengangkat telepon dengan nada yang membuat Arenta turun dari kelasnya di tengah jam:
"Bu. Sebaiknya Ibu melihat ini. Device-nya... Ibu harus melihatnya sendiri."
Device itu, di atas meja barang bukti satu jam kemudian, membuat seluruh ruangan membaca dalam diam yang aneh: rangkaian kecil, muatan kecil — cukup untuk melukai, tidak cukup untuk membunuh orang di sebelahnya — dan di atasnya, ditulis dengan spidol di papan sirkuit yang masih kasar solderannya, dua titik kecil di sudut kanan bawah.
Dua titik. Di papan yang disolder dengan tangan yang bergetar, oleh seseorang yang belajar menyolder dari video, dengan komponen yang dibeli dengan uang jajan yang ditabung.
"Bukan dia," kata Surya, langsung, dengan kepastian laboratorium. "Tangannya, solderannya, komponennya — semuanya salah. Ini anak yang meniru. Dan dia meniru dengan sangat hati-hati, perhatikan: tidak ada timer sungguhan, hanya tampilan. Tidak ada pemicu yang sesungguhnya terhubung. Device ini dibangun untuk meledak kecil atau tidak meledak sama sekali — anak ini tidak tahu cara menyelesaikan pemicunya. Dia menulis surat tanpa tahu cara mengakhiri kalimatnya."
Anak itu ditemukan dalam dua hari — bukan dengan perburuan, dengan cara yang lebih sederhana: kamera warnet dan daftar pengguna, ditambah satu remaja enam belas tahun yang tidak pernah berpikir bahwa menulis dua titik di papan sirkuit adalah menandatangani namanya sendiri. Namanya tidak akan ditulis di sini — enam belas tahun, nilai bagus, ayah yang pergi, ibu yang bekerja dua pekerjaan, dan satu bulan terakhir menghabiskan malam-malamnya di forum-forum internet tempat kisah perakit surat diceritakan dengan cara yang salah: sebagai legenda, sebagai pahlawan tragis, sebagai orang yang membuat seluruh negeri mendengarkan.
Dan Arenta meminta — memperjuangkan, lebih tepatnya, di dua rapat yang berbeda — satu hal yang tidak biasa: bahwa ia yang berbicara dengan anak itu, sebelum proses hukum berjalan, satu kali, dengan pendampingan pekerja sosial, di ruangan yang bukan ruang interogasi.
"Aku bukan psikolog," katanya di rapat itu. "Dan aku tidak akan memaafkan apa pun — device itu device sungguhan, dan hukum harus berjalan. Tapi dengar aku: anak ini menulis dua titik di papannya karena dia membaca kisah itu dengan cara yang salah — dan aku adalah satu-satunya orang di dunia ini yang tahu persis bagaimana rasanya dibaca oleh kisah itu dengan cara yang salah. Rendra menulis untuk didengar. Anak ini meniru untuk didengar. Kalau yang menjawabnya hanya borgol dan berkas, dia akan belajar satu halaman yang salah: bahwa untuk didengar, kau harus meledak. Aku ingin memberinya satu halaman yang benar sebelum halaman yang salah itu mengeras."
Maka pertemuan itu terjadi — satu jam, di ruang konseling, dengan pekerja sosial di sudut dan satu remaja yang duduk dengan mata yang menantang dan tangan yang tidak berhenti bergerak.
Dan Arenta tidak membuka dengan device. Ia membuka dengan satu foto — foto gelas kopi dengan dua titik di dasarnya, dari ponselnya — dan meletakkannya di meja di antara mereka.
"Kau tahu apa ini?" tanyanya.
Anak itu memandangnya, dan menantangnya, dan menjawab: "Kode-nya. Yang dia pakai."
"Bukan," kata Arenta. "Ini gelas kopi milik seorang operator bernama Dimas — orang terbaik yang pernah kukenal, yang menggambar kode itu di gelasnya setiap pagi sebagai lelucon, karena dia tidak takut pada dua detik. Dia mati dibunuh oleh orang yang kau tiru itu — diledakkan dari jarak aman, di gang selebar bahu, saat sedang membaca device untuk menyelamatkan orang asing. Dan kau tahu apa yang kurasakan ketika melihat dua titik di papanmu? Bukan marah. Sedih. Karena kau mengambil kode dari orang yang membunuh, dan membuang kode dari orang yang membaca — padahal keduanya berdiri di dua titik yang sama, dan hanya satu yang layak ditiru."
Anak itu tidak menjawab. Tangannya berhenti bergerak untuk pertama kalinya sejak masuk.
"Kau ingin didengar," kata Arenta, lebih pelan. "Semua orang ingin didengar — itu bukan kejahatan, itu manusia. Tapi dengar satu halaman dari seseorang yang sudah membaca buku ini sampai selesai: orang yang kau tiru itu sekarang duduk di sel, dan tidak ada satu pun orang di luar sana yang mendengarkannya lagi — karena suara yang dibeli dengan bom selalu habis sebelum bukunya selesai. Suara yang dibeli dengan kerja — dengan tangan, dengan membaca, dengan bertahun-tahun menjadi orang yang berguna — suara itu tidak pernah habis. Kau enam belas, dan tanganmu sudah bisa menyolder. Itu bukan kutukan, itu modal. Terserah kau mau membangun apa dengan modal itu. Tapi jangan bangun surat — bangun sesuatu yang tetap berdiri setelah kau selesai membacanya."
Hukum berjalan, sebagaimana hukum harus berjalan — dengan tuntutan yang disesuaikan umurnya, dengan pembinaan, dengan syarat-syarat yang akan mengawasinya bertahun-tahun. Dan di antara syarat-syarat itu, atas rekomendasi tertulis dari satu kepala pelatihan: kelas elektronik, dengan mentor, dengan tangan yang disibukkan oleh hal-hal yang benar untuk disolder.
Dan malam itu, di buku kerjanya, Arenta menulis: satu peniru, enam belas tahun, dua titik di papan yang kasar. surat tidak boleh dijawab dengan surat — surat harus dijawab dengan pembaca yang lebih baik, bahkan ketika surat itu ditulis anak kecil yang tidak tahu cara mengakhiri kalimatnya. dan di bawahnya: kisah kami akan diceritakan dengan salah oleh orang-orang yang tidak membacanya. itu tidak bisa kami cegah. yang bisa kami cegah adalah anak-anak berikutnya hanya membaca versi yang salah — dan itu pekerjaan yang tidak pernah selesai, seperti membaca itu sendiri.