Panggilan itu masuk pada hari Rabu pagi yang cerah — paket mencurigakan di loker sebuah stasiun, dilaporkan petugas yang waspada, dengan deskripsi yang sudah didengar korps itu ribuan kali: tas tanpa pemilik, tergeletak lebih dari satu jam, tidak ada yang mengaku.
Tim lapangan bergerak dengan prosedur yang sudah menjadi tulang punggungnya — dan di kursi mata di mobil komando, dengan kopi dari termos dan buku catatan kecil di pangkuannya, duduk kepala pelatihan yang hari itu kebetulan menemani sebagai pengamat rutin, karena kepala pelatihan yang baik membaca kerja murid-muridnya seperti murid-muridnya membaca device: teratur, tanpa mengganggu, dengan mata yang jujur.
Rendi memimpin dari layar. Robot masuk dulu — lengan manipulatornya bergerak melalui lobi stasiun yang sudah kosong, di antara loker-loker yang berdiri seperti barisan soal latihan. X-ray portabel ditembakkan dari sudut menyerong, dua kali, dan gambarnya naik ke layar: isi tas itu terbaca seketika, jelas seperti bacaan yang paling mudah — buku-buku, satu sweater, satu botol minum, satu kotak makan. Tidak ada rangkaian. Tidak ada komponen. Tidak ada apa pun yang berdetak.
"Verifikasi kedua," kata Rendi, tanpa nada apa pun, karena operator tidak pernah memotong pembacaan dengan kelegaan — pembacaan selesai ketika prosedur selesai, tidak sedetik pun sebelumnya. Robot itu mendekat, mengangkat tas itu dengan dua jari bajanya, membawanya keluar ke area terbuka, dan membukanya di bawah mata kamera dengan kesabaran mekanis yang dingin.
Di dalam mobil komando, tidak ada yang berbicara selama robot itu bekerja — bukan karena tegang, melainkan karena inilah bentuk kerja yang paling mereka cintai: kerja yang tenang, dengan prosedur yang berjalan seperti air, dengan setiap orang di tempatnya melakukan bagiannya tanpa perlu disuruh dua kali. Ketenangan seperti ini tidak dibeli dengan apa-apa selain latihan bertahun-tahun dan malam-malam yang sudah lewat.
Buku-buku pelajaran. Sweater yang dilipat tergesa. Botol minum setengah penuh. Kotak makan dengan nasi yang sudah basi — ditinggalkan, seperti yang kemudian ditemukan dalam satu jam, oleh seorang mahasiswa yang terlambat keretanya dan memilih mengejar kereta daripada tasnya, dan yang menelepon kehilangannya ke stasiun dengan suara yang penuh harap sampai diberi tahu bahwa tasnya sudah dibuka oleh tim penjinak bahan peledak.
Semua orang di mobil komando itu tertawa — tawa yang lepas, tawa yang pendek, tawa yang hanya bisa dilakukan orang-orang yang pekerjaannya adalah kemungkinan terburuk dan hari ini kemungkinan itu tidak datang. Dan Rendi menutup laporan di tabletnya dengan satu baris standar yang paling disukai semua orang di korps itu: tidak ditemukan bahan peledak, tas dikembalikan ke keamanan stasiun, lokasi dinyatakan aman, tim kembali ke markas.
Dan Arenta, di kursi matanya, menulis satu baris kecil di buku catatannya — dan Rendi, yang meliriknya ketika lewat, bertanya dengan nada yang setengah bercanda: "Mencatat apa, Bu? Tidak ada apa-apa hari ini."
"Justru itu yang kucatat," kata Arenta, tanpa mengangkat matanya. "Tidak ada apa-apa hari ini. Robot bekerja, X-ray bekerja, disruptor tidak perlu bekerja, dan tidak ada satu pun tangan yang turun. Tidak ada nama di atas paket itu, Rend. Tidak ada dua titik, tidak ada surat, tidak ada yang menonton dari kejauhan menilai kita dengan pensil merah. Hanya satu mahasiswa yang terlambat kereta dan satu tim yang bekerja dengan benar. Ini hari terbaik dalam pekerjaan ini — hari yang tidak akan pernah masuk cerita, hari yang tidak akan pernah dibaca siapa pun, hari yang isinya hanya orang-orang yang pulang tepat waktu untuk makan siang." Ia menutup buku catatannya. "Dan aku mencatatnya supaya kalian semua ingat: inilah yang kita perjuangkan. Bukan malam-malam yang besar. Hari-hari yang tidak ada apa-apanya. Sebanyak mungkin. Selamanya."
Dalam perjalanan pulang ke markas, mobil komando itu melintasi kota yang bergerak di siang hari — pasar-pasar yang penuh, stasiun yang berdenyut, sekolah-sekolah yang baru saja istirahat, jalan-jalan yang berkedip dengan lampu-lampu lalu lintas yang menata jutaan orang yang tidak tahu apa-apa. Dan Arenta memandanginya dari jendela, dan berpikir tentang jarak dua detik — jarak yang sudah menjadi nama dari segala yang ditakutinya selama dua puluh tahun, jarak antara sirkuit yang menutup dan muatan yang menyala, jarak yang sudah diseberanginya lebih sering dari yang bisa dihitungnya.
Jarak itu masih ada. Jarak itu akan selalu ada — di setiap device yang belum ditemukan, di setiap surat yang belum ditulis, di setiap gang selebar bahu di kota-kota yang tidak dikenalnya. Jarak itu tidak pernah hilang, sebagaimana bahaya tidak pernah pensiun.
Tetapi sekarang ia tahu apa yang tinggal di dalam jarak itu — dan pengetahuan itu dibelinya dengan dua puluh tahun, dengan satu gelas kopi bertitik dua, dengan satu perpustakaan di terowongan, dengan satu malam di gang dan satu potongan di dua detik: yang tinggal di dalam jarak dua detik itu bukan takut. Yang tinggal di dalamnya adalah tangan. Tangan yang membaca, tangan yang bekerja, tangan yang berpindah ke tangan yang lebih muda dan terus berpindah selama masih ada yang hilang untuk dicari dan ada yang pulang untuk dijemput.
Dan tangan itu — tangan kanan yang berdiri tenang di atas buku catatannya di siang hari yang cerah itu, di dalam mobil yang berjalan pulang ke markas, di antara suara murid-muridnya yang bercanda di kursi-kursi belakang — tangan itu tidak pernah salah membaca.
Tidak dua puluh tahun yang lalu. Tidak malam ini. Tidak pernah.