Jam tiga pagi itu datang seperti jam tiga pagi selalu datang — tanpa bunyi, tanpa izin, dengan kota yang berdiri diam di luar jendela dan lampu-lampu yang berkedip jauh di bawah. Dua puluh dua tahun tubuhnya sudah bangun di jam ini; dua puluh dua tahun tidak berhenti karena satu pensiun, satu sidang, atau satu buku yang sudah ditutup.
Arenta bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke dapur — dan di tengah jalan, di kegelapan apartemen yang sudah dihafalnya dengan ujung-ujung jarinya, ia menyadari bahwa malam ini tangannya sudah bergerak mencari sesuatu yang lama: kertas. Kertas dan pensil, di meja kerja kecil di sudut, tempat bertahun-tahun ia menggambar rangkaian dari ingatan di jam-jam tiga pagi yang tidak pernah bertanya apakah ia ingin menggambar.
Maka ia duduk di meja kecil itu, dan mengambil pensilnya, dan menggambar — karena ada kebiasaan-kebiasaan yang tidak dilawan dengan menolaknya, melainkan dengan membacanya sampai selesai, seperti semua hal lain dalam hidupnya.
Dan yang digambar tangannya malam itu, dari ingatan, pelan-pelan, garis demi garis, adalah satu rangkaian yang dikenalnya lebih baik dari rangkaian mana pun di dunia: Gerbang. Rangkaian latihan tahun kedua, modul keenam — dua saklar pengaman berseri, jalur yang berputar di sudut yang sama, ruang yang disisakan untuk tangan di tempat yang sama. Rangkaian yang dibacanya pertama kali sebagai taruna dua puluh tahun lalu, yang dibaliknya di lobi kantor satuan lama, yang dibangun ulang untuknya di aula latih lama, yang menjadi surat, yang menjadi ujian, yang menjadi halaman dari buku yang sudah ditutupnya dengan potongan di dua detik.
Ia menggambarnya sampai selesai — setiap jalur, setiap terminal, setiap komponen kecil di tempatnya — dan kemudian duduk memandanginya di cahaya lampu meja yang kuning, dalam keheningan jam tiga pagi yang utuh.
Dan kemudian ia mengambil penghapusnya, dan menghapusnya — garis demi garis, dengan gerakan yang sama pelannya dengan ketika menggambar — sampai kertas itu bersih kembali, sampai Gerbang itu kembali ke tempatnya yang seharusnya: di ingatan, di mana ia bisa dikunjungi kapan pun, tanpa perlu berdiri di atas meja di jam tiga pagi.
Dan Arenta memandang kertas kosong itu, dan tersenyum — senyum yang kecil dan utuh, senyum seseorang yang baru saja membuktikan sesuatu kepada satu-satunya juri yang tersisa dalam hidupnya: dirinya sendiri. Karena inilah yang tidak pernah bisa dilakukannya selama dua puluh tahun: menggambar hantu itu dan kemudian menghapusnya. Selama dua puluh tahun, rangkaian-rangkaian itu harus berdiri di kertas, harus diselesaikan, harus dijawab — karena selama dua puluh tahun ada surat yang belum selesai dibaca. Malam ini tidak ada surat. Malam ini hanya ada satu rangkaian dari ingatan, digambar dengan sayang, dihapus dengan tenang, dan ditinggalkan pergi tanpa kehilangan apa-apa.
Ia memandang penghapus itu lama setelah meletakkannya — benda kecil yang sudah bertahun-tahun ada di meja itu, yang selama ini hanya dipakai untuk memperbaiki garis yang salah, dan yang malam ini dipakai untuk sesuatu yang lebih besar: untuk menutup satu kebiasaan dengan tangannya sendiri, dengan tenang, tanpa drama. Dua puluh dua tahun ia mengira kebiasaan itu adalah bagian dari pekerjaannya — bahwa menggambar di jam tiga pagi adalah harga dari membaca dengan benar. Malam ini ia tahu bedanya: membaca adalah pekerjaan; menggambar di jam tiga pagi adalah bekas luka. Dan bekas luka tidak perlu dihapuskan paksa dari kulit — ia hanya perlu berhenti dibuka setiap malam.
Penyembuhan diukur dengan hal-hal kecil. Dan hal kecil malam ini adalah penghapus.
Ia menyeduh kopi setelah itu — terlalu manis, dari gelas bertitik dua, seperti selalu — dan berdiri di jendela dengan gelas itu, memandang kota yang berkedip di bawahnya. Kota itu tidak tahu apa-apa tentang jam tiga paginya, tentang penghapusnya, tentang dua puluh dua tahun yang berdiri di dapur kecil ini. Kota itu hanya berkedip, menyala, hidup — dan di salah satu lampunya, sembilan taruna dari angkatan pertamanya sedang tidur sebelum apel pagi; di lampu lainnya, seorang operator lapangan muda sedang tidur dengan penjepit tua di sabuk kerjanya; di lampu lainnya lagi, satu perawat penyelia sedang menjalankan sift malamnya dengan foto kecil di pintu lokernya.
Semua orang di tempatnya. Semua tangan bekerja di pekerjaannya. Dan di satu apartemen di atas kota itu, satu tangan tua mengangkat gelasnya sedikit kepada lampu-lampu itu, dan meminum kopinya yang terlalu manis, dan kembali tidur sebelum subuh — seperti yang sudah menjadi kebiasaan barunya, seperti yang dibelinya dengan dua puluh dua tahun, seperti yang pantas didapatkannya.
Dan di buku kerjanya — yang ditaruhnya kembali di meja tanpa menulis apa-apa, karena malam ini tidak ada yang perlu dicatat — satu halaman tetap kosong dengan sengaja, halaman pertama yang dikosongkannya sejak dua puluh tahun menulis setiap malam. Bukan karena tidak ada yang dikatakan. Karena beberapa malam sudah selesai dengan sendirinya, dan malam yang sudah selesai tidak membutuhkan catatan — seperti device yang sudah mati tidak membutuhkan pembacaan ulang.
Kertas itu bersih. Meja itu rapi. Dan jam tiga pagi itu berlalu seperti jam-jam lainnya, tanpa nama, tanpa surat, tanpa apa-apa — dan itulah yang paling diinginkannya darinya, setelah dua puluh dua tahun.