Setiap pertemuan pasti ada yang namanya perpisahan, di Dunia ini tidak ada yang abadi.
Masa-masa SMA merupakan masa paling indah bagi remaja, banyak suka duka yang dilalui.
Meskipun masa pubertas udah dimulai jauh sebelum SMA, namun masa ini banyak remaja mulai mengenal cinta kepada lawan jenis-nya.
Selain itu, rasa ingin tahu yang tinggi tentu membuat remaja di era SMA menimbulkan dampak positif maupun negatif.
Dampak positifnya yakni menjadi pribadi yang lebih dewasa karena beraneka ragam ilmu yang telah dipelajari.
Dampak negatifnya yakni menjadi pribadi yang merasa paling benar sehingga menimbulkan kenakalan remaja.
"Aturan merupakan sebuah perintah yang boleh dilanggar", hal ini tentu sebuah kontroversi yang marak dijadikan acuan kenakalan remaja yang marak terjadi karena keingintahuan-nya yang tinggi.
Namun semua itu tergantung pribadi masing-masing bagaimana cara menyikapinya serta pola didikan orang tua yang turut menjadi pemicunya.
Beruntungnya Aku Berada di lingkungan yang baik, dengan sahabat yang senantiasa saling mendukung dan menyayangi.
Malam ini tibalah sekolahku mengadakan Prome night acara kelulusan bagi siswa SMA, dimana para siswa yang terpilih menunjukan bakatnya dalam acara tersebut.
Tema acara malam ini yakni casual, namun akan ada acara dansa dengan menggunakan topeng seperti di film-film.
Para Siswa pun Antusias, begitupula dengan Aku dan juga sahabatku.
dengan balutan dress cream yang dijahit oleh ibuku, serta heels 5 cm aku datang ke acara prome night.
Sesampainya segera bergegas kucari keberadaan para sahabatku, karena sebelumnya kami tidak bisa berangkat bersama dikarenakan rumah kami yang berbeda arah.
"drttt... drttt..", suara dering telepon mengagetkanku yang sedang fokus mencari keberadaan sahabatku.
"Hallo Anezz, coba lihat kearah jam 12 dari posisimu", cerutu si penelpon dengan nada kencang.
"Ada apa emang?, eh kalian pada kemana?", tanyaku karena tak kunjung menemukan keberadaan penelpon ini.
"Terlihat dari arah yang diberikan tidak ada siapa-siapa, kecuali badut... ah masa iya..?", batinku.
"holla... holla..", teriakan di telfon membuyarkan lamunanku.
"Eh iya sorry, ternyata masih tersambung ya telfonnya", jawabku.
"Anez.. sini buruan, Aku pakai costum badut buat ngasih surprise citra", celetuk ochi dalam sambungan telpon.
segera ku matikan telepon, dan bergegas menuju kearah badut gemoy tersebut.
"Astaga chi, bukannya dandan malah pakai kostum beginian, emang mau dansa pakai kostum badut ya", tanyaku cerewet sambil ketawa.
"Duh iya mana panas lagi pakai kostum badut begini", jawabnya sambil cengengesan.
"Udah ih lepas aja, nanti mekup nya luntur ochi sayang", Ledekku padanya.
"Wait... mana ini si citra, udah nazar nih pakai kostum beginian, harus dibayar tuntas", celetuknya.
"Emang habis ada yang terkabulkan ya sampai nazar begitu?, tanyaku penasaran.
"Iya, dulu ga sengaja nyeletuk ke citra kalau bisa sekampus sama kak Aldo, aku mau pakai kostum, sekarang dibayar lunas", jawabnya cengengesan.
"sebahagiamu lha chi", jawabku meledeknya.
Tak berapa lama akhirnya citra datang lalu menghampiri kami, kemudian kami lanjut dengan membuat video viral yang nanti akan di upload di t****k, lucunya ochi masih dengan seragam badut gemoy nya.
"Udah ah.. panas, mau ganti dulu ya bestie, tacap dulu biar on point", pamitnya lalu menuju ke kamar mandi.
"Yahh.. ndak sekalian dansa pakai kostum aja chi, biar jadi viral", ledekku padannya.
"Oh tidakk bisa, dewi quan in harus kembali ke singgasana", celetuknya dilanjut dengan tertawanya yang khas.
Sifat iseng Ochi cenderung memberi warna pada persahabatan kami bertiga, ditambah Aku dan citra yang cenderung introvert cenderung susah untuk mengespresikan warna dalam hubungan persahabatan ini.
Sembari menunggu Ochi, Aku dan citra lanjut berfoto selfie untuk mengabadikan kenangan sebelum melepas gelar anak putih abu abu.
Saking lamanya menunggu dewi quan inn kembali ke khayangan, akhirnya acara sampai pada acara dansa. semua peserta diwajibkan menggunakan topeng yang telah dibagikan saat masuk tadi.
karena perasaanku tidak enak, ku ajak citra mencari keberadaan dewi quan inn tersebut, namun tak kutemukan batang hidungnya dimanapun.
berkali kali ku tekan calling pada hand phone untuk menemukan keberadaannya tetap tak membuahkan jawaban apapun.
"Para peserta prome night, dihimbau untuk berkumpul menuju ke aula dansa", suara panitia menyeru, sehingga mau tidak mau aku dan citra harus kembali dengan perasaan cemas akan keberadaan ochi.
Di aula dansa semua orang menggunakan topeng, bergaya bak para priyayi bangsawan.
Musik merdu mulai di dengungkan dengan indahnya, membuat siapapun ingin menari bahkan berlakon ala putri dan pangeran kerajaan.
Tak bisa kutemukan sahabatku Ochi, karena susahnya melihat dalam kondisi cahaya redup ditambah topeng yang menutupi wajah membuat sulit mengenali siapapun.
Sorot lampu menerangi seseorang bak putri kerajaan, mahkota serta gaun indah menjuntai membuat semua sorot mata tertuju pada sosok tersebut.
Diujung juga dijumpai sosok bak pangeran disorot lampu dengan gagahnya mengajak sang puteri untuk berdansa, membuat seluruh sorot mata terhipnotis terperdaya akan suasana romantis yang tercipta.
"Anezz, aku kok khawatir dengan Ochi", ujar citra dengan muka cemas.
"Sama cit, kita lapor panitia aja yuk takut ada hal yang tak baik terjadi", ajakku padannya.
"Iya seenggaknya, ada yang bantu mencari juga ya kan?", jawab citra cemas.
Segera kucari panitia acara, tak susah karena bisa dilihat melalui name tag yang terpasang dengan glow in the dark nya.
Saat ku adukan masalah Ochi yang hilang entah kemana, panita dengan santai menyuruh kami kembali ke aula dan bersikap tenang, seolah aduan kami tidak digubris apapun.
Sebal karena tak digubris, akhirnya dengan langkah kesal aku berjalan dan tak sengaja menabrak seseorang.
Gubrakk........
"Aduhhh... gimana sih...", Ocehku namun terpotong karena kaget melihat sosok didepanku ternyata...
Ternyata.... sosok yang sama saat di gor waktu itu, aduh malunya diriku ceroboh banget.
segera aku berdiri sendiri, lalu mengucapkan kata maaf dan hendak berlalu pergi. Namun sosok tersebut menanyakan keadaan diriku, apakah sakit?, apa ini?, apa itu?.
Malu sekali rasannya, dan segera kujawab "I'm fine, and sorry". lalu aku berlalu kearah citra yang masih bertanya kepada panitia lain mengenai keberadaan ochi dengan cemas.
Tak terasa akhirnya tiba dimana peserta dansa dihimbau melepaskan topeng.
Terkejutnya aku ternyata sosok bak putri bangsawan tersebut adalah Ochi sang primadona yang sedari tadi kami cari keberadaannya.
Pantas saja panitia tidak cemas atas aduan yang kami buat tadi, dan menyuruh kami untuk tenang dan menikmati pesta dansa ini.
Ochi sang primadona sangatlah menawan dengan balutan gaun khas bangsawan berdansa dengan Leonanda idola para perempuan di sekolah kami.
Para peserta prome night berteriak histeris dengan tepuk tangan, melihat para primadona sekolah tampil serasi dalam pesta dansa malam ini.
Berasa melihat adegan film kolase zaman kerajaan, namun ada yang mengganggu di fikiranku mengenai laki laki itu...
Siapa dia...?
Kenapa dia bisa disini...?
Sedang apa dia...?