“Anda tidak tertarik dengan nona Jasmine? Cantik ini lho, Pak.”
“Tidak Bu Putri, kita langsung saja membahas untuk desain rumah sakit seperti yang Anda inginkan. Silakan Anda menjelaskan bagaimana keinginan Anda untuk membuat rumah sakit baru,” ujar Mada tidak mau membahas ke ranah urusan pribadinya.
Jasmine mengeluarkan ipad, kertas gambar memberikannya ke Mada. Bahkan ia membawa kertas kecil untuk catatan penting. Jasmine mengeluarkan tablet, yang siap membuat visual secara instan dan cepat. Jasmine cukup dikira lulusan tidak memiliki pengalaman dan ilmu yang minim, nyatanya dia bisa membuat sketsa yang unik, dan cukup bagus untuk Mada arsitek yang estetik berwajah dingin.
Hampir 1 jam mereka membahas konsep rumah sakit dengan 30 lantai menjulang ke atas, sebenarnya untuk denah ruangan seperti umumnya. Yang membedakan hanya konsep, firma arsitektur akan memberikan yang terbaik seperti diinginkan oleh pelanggan besar seperti Ibu Putri.
“Begitu konsep yang saya inginkan bagian depan Pak, tapi…, untuk tampak depan rumah sakit saya masih bingung. Saya tidak mau bangunan yang menjulang tinggi begitu saja, saya ingin bangunan berarti. Sekalian saya minta tolong dengan Anda, untuk memberikan proyek ini langsung. Apa Pak Mada keberatan?”
Mada terdiam, proyek yang dai terima cukup padat. Untuk capai target sepertinya butuh waktu yang lama, dan panjang. Bisa saja Mada melemparkan kerjaan ke firma arsitektur yang lain, tapi melihat harapan Ibu Putri akhirnya Mada menyetujui untuk mengambil proyek tersebut.
“Baik, saya bisa ambil..., tapi sepertinya membutuhkan waktu yang lama dan panjang. Apalagi saya juga padat dalam urusan proyek yang berjalan, bagaimana jika proyek ini di mulai saat salah satu proyek saya selesai Bu?” tanya Mada dengan tegas, dan serius.
“Boleh, atur sebisa mungkin. Untuk pengajuan dana, dan biaya, kirim seperti biasanya saja.”
“Saya akan mengirim rancangan, dan perencanaan lebih dulu untuk Anda. Kita akan ada pertemuan kembali untuk persetujuan,” di sini Mada banyak bicara, Jasmine hanya diam menyimak dan memperhatikan diskusi mereka. Bukan ia tak paham, hanya saja kondisi sekarang sangat fokus dan tegang.
Mada melirik Jasmine yang sejak tadi mencatat, bahkan membuat sketsa polos seperti yang diminta oleh Ibu Putri. Tanpa sadar, ia tersenyum tipis tak terlihat melihat cara kerja Jasmine tetap saja Mada selalu ingat pertemuan pertamanya menumpahkan kopi dan itu menjadi kekesalan Mada selama ini.
“Ibu Putri, bagaimana dengan konsep tampak depan seperti ini. Sejujurnya ini adalah pengalaman pertama saya membuat sketsa rumah sakit, biasanya saya hanya membuat rumah pribadi ataupun renovasi. Jika Anda suka dengan konsep saya, saya akan gambarkan detail sebentar.”
Ibu Putri tersenyum kecil, cukup bagus dan memuaskan. Bahkan Mada pun melihat cara Jasmine membuat visual begitu indah dan estetik. Tangan seni yang sudah menjadi bakatnya membuat Ibu Putri setuju dan senang, hanya saja..., kurang sempurna. Ibarat memang bagus, tapi tolong di usahkan lebih bagus lagi. Begitu kiranya.
“Saya sudah membuat coretan sedikit, bagaimana dengan ini?” sekarang Mada memberikan hasil sketsa tampak depan, lebih detail, lebih rinci, lebih nyata, bahkan orang melihat 2 detik langsung terpesona dan setuju dengan sketsa yang dibuat oleh Mada.
“Wah ini sayang lebih suka, cocok. Saya mau pakai konsep dari Pak Mada saja, tapi..., saya lebih tertarik dengan detail taman kecil di sini punya asisten Jasmine, apa bisa diganti di sini Pak?” tanya Ibu Putri sekaligus melihat hasil tangan Jasmine tidak buruk.
“Saya akan buatkan yang persis seperti yang Anda inginkan.”
“Asisten Jasmine memang bagus dalam urusan sketsa, tapi..., sepertinya Pak Mada tidak salah memilih asisten ya? Bisa cepat begini buat desainnya hehehe.”
Jasmine tersenyum manis, ia tidak merasa tersinggung ataupun kesal. Bahkan ia merasa puas karena secuil sketsanya di ambil oleh Ibu Putri walaupun sepenuhnya milik Mada. Tidak heran jika Pak Mada dijuluki sebagai arsitek estetik yang dingin.
*
*
*
“Kalau belum yakin dengan hasil sketsa jangan di tunjukkan dengan pembeli langsung, dia akan membandingkan konsep yang ia mau dengan yang kamu buat!” sepulang dari meeting mereka singgah di restoran untuk makan siang.
“Saya membuat yang pembeli katakan langsung, Bapak aja yang buat konsep tambahan dengan cara bapak sendiri, makannya langsung suka dengan sketsa Bapak.”
Jasmine berani melawan, hal itu membuat senyuman Mada terbit walaupun tipis.
Baru kali ini, ada orang salah tidak mau mengakui. Kalau bos sendiri tidak mau salah wajar, dia asisten? Mada hanya bisa menghembuskan nafas, membawa Jasmine sama halnya membawa beban baru di hidupnya.
“Sebenarnya kamu punya ilmu dalam arsitek atau enggak?” tanya Mada dengan sorot mata tajam, memang benar Jasmine lulusan arsitek hanya saja konsep yang dibuat terlihat aneh dan berbeda.
“Punyalah, kalau gak punya saya gak bisa buat apa – apa kali, Pak.”
“Sekalipun kamu buat sketsa, hasilnya sama saja. Sama – sama jelak,” cibir Mada bicara langsung dengan Jasmine.
Menyebalkan.
Ingin menjawab ucapan Mada, tepat makan siang mereka tiba. Akhirnya Mada dan Jasmine makan siang bersama, pertama kali dengan menu yang sudah dipesan. Terlihat Mada makan dengan harga yang mahal dan enak, sedang Jasmine makan dengan menu sederhana itupun harganya juga cukup mahal bagi Jasmine yang tidak memiliki uang banyak.
Nasi sama ayam goreng, habis berapa ya? Tapi aku bawa uang sih, sayang aja kalau mahal padahal rasanya biasa saja, Jasmine mengunyah dengan perasaan gelisah. Ini bayar sendiri atau dibayari?
“Jangan buat saya kehilangan nafsu makan!” gerutu Mada cukup terganggu dengan sikap Jasmine yang berpikir keras.
“Pak, dari tadi saya diam lho!” bantah Jasmine tidak terima dibilang sebagai ‘ganggu’.
Mada tidak menanggapi, melihat Jasmine makan dengan lahap padahal hanya lauk ayam goreng yang ia pilih. Mada tidak bodoh, itu adalah menu paling murah ia sudah menduga rasanya akan biasa saja. Mada memberikan dua sendok daging miliknya untuk Jasmine.
Jasmine cukup heran, dan melihat Mada memberikan sebagian makanannya untuk dia. Kenapa Jasmine merasa jika Mada masih memiliki hati nurani? Padahal dia orang yang kaku bermulut pedas.
“Kalau mau makan, jangan lihat harga!” ucap Mada membuat perasaan Jasmine berdesir.
“Eh, saya emang suka ayam goreng, Pak!” bantah Jasmine dengan suara bergetar, ia tidak mau di kasihanni.
“Makanlah, kita harus kembali ke kantor.”
“Terima kasih Pak,” lirih Jasmine hampir tak terdengar merasakan perhatian Mada yang selalu di bilang bos dingin dan kaku, nyatanya masih memiliki hati yang baik bukan?
Sejak kedatangan Jasmine, hidup Mada berangsur semakin berwarna. Hanya dengan Jasmine ia bisa mengapresiasikan wajanya. Bahkan Mada banyak bicara dengan Jasmine yang nyatanya gadis itu selalu ceria dengannya. Jasmine mengira ini hanya perhatian bos untuk asisten yang manusia, pada umumnya. Tidak tahu, jika Mada mulai memperhatikan dirinya perlahan untuk semakin dekat dengan Mada sendiri.