Hubungan Mada dan Jasmine yang sebagai asistennya membuat suasana kantor sedikit lebih lucu. Hanya Jasmine yang berani bicara dengan Mada, bahkan ia tidak takut dengan bosnya sendiri. Mereka mengira selama bekerja di sini, baru kali ini Mada memberikan kelonggaran untuk bernapas di ruangan yang sesak dan dingin.
“Akan ada perjamuan bisnis, seharusnya perusahaan kita yang sebagai firma arsitektur tidak perlu datang. Tapi dengar - dengar Pak Mada di undang khusus yang mengharuskan datang malam ini," ucap salah satu rekan kerja Jasmine saat mereka menggosip di sela kesibukan mereka.
“Oh ya? Apa aku harus ikut?” tanya Jasmine dengan mereka, membuat semuanya geleng kepala serentak.
“Kita tidak tahu, kamu coba tanya dengan Pak Mada sendiri!”usul mereka, akhirnya Jasmine menganggukkan kepala setuju dan kebetulan sekali Pak Mada datang bersama manajer perusahaan membahas kerjaan. Tanpa basa basi, Jasmine menghalangi langkah Pak Mada.
Jasmine yang ceria, tidak takut bahkan menentang sikap dingin Mada memicu perdebatan yang tidak sengaja di dengar oleh teman - teman yang lain.
“Pak, malam ini Bapak menghadiri jamuan pesta-”
“Minggir, kamu menganggu waktu 2 menit, yang tidak jelas.”
Hanya kata itu yang membuat semuanya diam, bahkan Jasmine melongo tak percaya waktu bicara belum ada satu menit sudah ditinggal? Jasmine langsung menyusul Mada memasuki ruangannya yang begitu sibuk, ia memang ada kerjaan tapi Jasmine cukup cepat menyelesaikan kerjaan tersebut.
“Jika tidak penting keluarlah, jangan buat saya pusing. Proposal yang kamu kirim ke email investor mendapatkan komplenan, kenapa tidak melakukan revisi dengan saya Jasmine? Hampir saja mereka menuntut kerugian waktu dan biaya.”
Suara dingin, cukup mencengkram tubuh Jasmine terdiam. Niat hati ingin mendapatkan amarah dari Mada. Jasmine tidak tahu tentang masalah ini, karena pihak sana menghubungi Mada langsung tanpa melalui dirinya.
“Yang email saya kirim kemarin, Pak?” tanya hati – hati Jasmine dengan Mada.
“Yang mana lagi, Jasmine. Sudahlah kamu tidak bisa menyelesaikan kerjaan dengan benar, ada saja yang saya urus sendiri. Lalu gunanya kamu sebagai asisten saya apa?” amarah Mada langsung meledak karena Jasmine ceroboh dalam kerjaan.
“Saya minta maaf Pak, saya pikir semuanya sudah benar. Saya tidak tahu jika mereka menghubungi Bapak secara langsung!”
Hampir satu bulan Jasmine bekerja, jelas banyak ia melakukan kesalahan daripada membantu kerjaan Mada lebih cepat dan efisien. Seperti yang sudah di tegaskan oleh Mada, kalau Jasmine seperti anak kecil yang harus di ajari, dijelaskan, dan diberitahu dengan kerjaan yang berlangsung.
“Kamu hampir satu bulan kerja dengan saya, mulai sekarang kamu wajib lembur!” penegasan Mada membuat Jasmine menganggukan kepala.
“Baik Pak,”
“Duduk, di samping saya. Lihat bagaimana saya membuat sketsa, menggambarkan pikiran mereka dan keinginan mereka. Kamu bisa buat sketsa, tapi tetap saja sketsa mu jelek tidak ada yang cocok di mata saya!” ucapan penuh menyebalkan Mada membuat raut wajah Jasmine kesal.
Punya bos cerewet, menyebalkan, banyak omong, sombong, dingin, kaku, untung saja dia tampan.
“Kamu kalau saya omong dengarkan, baru kali ini kamu saya kasih kesempatan. Lainnya kamu sudah saya buang jauh – jauh hari, yang selalu membuat beban saya semakin bertambah!”
“Kata mereka Bapak dingin, tapi..., bagi saya Bapak cerewet!” protes Jasmine membuat tatapan mereka bertemu.
Jasmine tidak banyak berubah, tetap ceria penuh senyuman, dengan energi yang selalu full membuat suasana kantor sedikit berwarna. Tidak tegang dan dingin seperti sebelumnya, Mada menatap mata cantik itu, yang selalu membuat dirinya terpesona saat menatap Jasmine. Seolah dia hanyut dalam dalam tatapan Jasmine, Mada sedikit mendekati Jasmine dengan posisi yang dekat tentu perasaan Jasmine tidak tenang.
“Lihat cara saya menyelesaikan sketsa dengan visual ini,” ujar Mada membuat Jasmine menahan nafas. Aroma parfum Mada membuat dirinya hanyut, terlalu harum untuk dihirup..
“Kamu gugup duduk dengan saya?” tanya Mada melihat tubuh Jasmine tidak tenang, seolah dia gelisah. Padahal Mada, hanya duduk saja tidak melakukan hal lebih. Jasmine tersenyum kecil ia menggeleng kepala sebagai jawaban, ia kembali menatap sketsa yang ada di depannya.
Mada tersenyum kecil melihat raut wajah yang tegang itu, terlihat lucu dan menggemaskan. Baru kali ini ada yang berani mengatakan dia adalah bos ‘cerewet’, padahal semua orang tahu jika Mada adalah laki – laki dingin dan kaku, hanya Jasmine yang mengetahui banyak tentang dirinya. Padahal mereka bekerja berjalan satu bulan, dan masih tergolong baru.
Butuh hampir 1 jam Jasmine duduk diam seperti yang diinginkan oleh Mada hingga akhirnya desain baru telah selesai. Ini adalah kerjaan paling cepat untuk Mada, bahkan revisi yang ia buat jauh lebih bagus dibandingkan hasil karya Jasmine. Hal baru ia sadari, jika dia masih jauh dari kata layak untuk bekerja di firma arsitek di perusahaan ini.
Untung saja tim di sini selalu membantu Jasmine, dan Mada sudah lebih dari dugaan mereka memberikan kesempatan berkali – kali untuk Jasmine. Mada mengamati wajah Jasmine yang diam, ia tahu yang di pikirkan oleh wanita itu.
“Jangan diam, kamu harus banyak belajar dan berusaha membuat gambar.”
“Iya Pak, saya sadar masih banyak kurang dalam urusan kerjaan dan membuat Bapak menganggung beban saya,” senyuman kecil Jasmine membuat Mada menghela napas.
“Apa yang kamu pikirkan, sekarang bersiaplah. Kita akan datang ke acara perjamuan,” kata Mada seketika senyuman Jasmine muncul.
“Ah ya? Waw, kapan itu. Saya pernah ikut acara pertama kali dulu saya –“ seketika Jasmine diam tidak melanjutkan ucapnnya. Ia langsung menutupi dirinya, dengan senyuman manis.
“Kamu kenapa?” tatapan datar Mada tertarik dengan cerita Jasmine namun seketika wanita itu diam saja.
“Enggak Pak, saya lupa mau bilang apa. Jadi saya pulang dulu, baru bertemu di tempat pesta nanti?” tanya Jasmine membuat Mada berpikir sebentar.
“Tidak, kita ke butik cari pakaian!” perintah Mada langsung membuat Jasmine mengangguk kepala saja.
Mereka tiba di butik, melihat baju yang begitu mewah di dalam sana, perasaan Jasmine menjadi aneh. Bahkan Mada yang memilih gaun dengan warna senada jas yang digunakan kali ini, eh tunggu...,Mada hanya membeli untuknya saja?
“Pakai ini, dan ubah tatanan rambut. Mata saya pusing lihat kamu pake jepitan rambut aneh itu,” kata Mada membuat Jasmine tidak terima.
“Pak, saya emang gini. Suka – suka saya, mau pakai jepitan rambut atau apa lah. Kan lucu, bikin saya makin cantik!” dengan percaya diri Jasmine memuji dirinya di depan Mada tanpa respon atau komentar apapun.
Mada menatap gadis itu hingga menghilang di balik pintu untuk mengganti pakaian dan siap pergi ke pesta, sudut bibirnya tersenyum kecil sejak dengan Jasmine ia merasakan getaran aneh, pria dingin itu perlahan tersenyum tanpa ia sadari.