Datang ke acara perjamuan orang kaya, para pengusaha membuat Jasmine merasa kecil, ia hanya gadis polos, biasa yang berpribadian ceria dan penuh energi. Mada hanya melirik sekilas asistennya tersebut, langkahnya semakin dekat dengan gedung hotel di mana pesta di adakan.
“Baru pertama ke sini?” tanya Mada dengan suara dingin tanpa melihat asistennya.
“Iya, baru pertama.”
Jasmine terlihat begitu cantik dengan tatanan rambut gerai, gaun yang mengkilau serasi dengan milik Mada. Hanya saja, jalan mereka sedikit berjarak karena bagaimana pun Jasmine adalah asistennya.
“Halo Mada, lama tidak ketemu kita ya?” salah satu pria seusia Mada menyambutnya dengan semangat.
“Aku sibuk, gimana kabarmu?” tanya Mada bicara santai, seperti mengenal pria itu dekat.
“Aku masih seperti dulu, eh siapa cantik ini?” dia salah fokus dengan Jasmine yang ada di dekat Mada.
Jasmine hanya diam, ingin mengenalkan diri sebagai asisten tapi Mada lebih dulu menjawabnya, “Dia asisten baruku,” ucap Mada dengan tenang membuat pria itu mengulurkan tangan ke arah Jasmine.
“Aku Yuka, siapa nama mu?” tanya pria itu bernama Yuka, hal itu membuat Mada menatap tajam Jasmine untuk diam tidak menanggapi ucapan temannya. Sayang sekali, Jasmine yang ceria tidak mengerti dengan tatapan bosnya sendiri.
“Jasmine, saya asisten Pak Mada!” Jasmine menerima tangan Yuka sebagai tanda pengenalan. Hal itu membuat Mada langsung sedikit batuk membuat Jasmine segera melepaskannya.
“Yuka, kita duluan. Ayo,” ucap Mada menarik tangan Jasmine. Ini adalah sesuatu yang paling mengejutkan untuk Jasmine, mereka bergandeng tangan? Bagaimana tidak? Jasmine terlihat begitu cantik, ia cocok sebagai pasangan Mada yang selama ini mengira arsitek dingin bertemu dengan gadis cantik sepertinya.
Sebagai seorang wanita berperasaan, Jasmine mendadak baper. Ia hanya bisa tersenyum kecil melihat tangannya di genggam oleh bosnya sendiri.
“Pak, tangan saya.”
“Kenapa tanganmu?” tanya balik Mada tidak melepaskan Jasmine justru membawanya ke pemilik pesta di depan panggung.
“Gak enak di lihatin banyak orang, saya asisten Bapak soalnya.”
“Lalu di lihat siapa yang enak?” tanya ambigu Mada membuat Jasmine diam.
“Saya bisa salah paham kalau Bapak gandeng terus,” ucapan Jasmine langsung membuat Mada melepaskan tangan wanita itu begitu saja.
“Jangan dekat dengan laki – laki lain, saya tidak mau dianggap punya asisten suka godain rekan kerja di sini!” setelah mengatakan itu Mada langsung bicara dengan pemilik pesta jamuan, sebagai ucapan terima kasih sudah datang dan mengundang dirinya.
Sedangkan Jasmine mendadak diam? Kapan dia menggoda laki – laki di sini? Hanya menjawab nama dari Yuka lalu salah? Sungguh aneh sekali, bosnya itu. Jasmine merasa jika bosnya tertarik dengan dia? Masa sih? Jasmine sudah berpikir aneh – aneh tapi tidak mungkin, apalagi ia tahu jika Mada bukan orang seperti itu.
Apalagi genggaman tangan yang Mada berikan lembut, tidak ada paksaan. Begitu erat membuat dirinya cukup berpikir yang tidak - tidak dengan bosnya sendiri.
Pesta di sini, Jasmine memilih duduk di meja yang kosong. Ia lebih baik diam saja? bahkan saat menyusul Mada, mereka membahas hal yang tidak di mengerti olehnya. Ia mencoba mencicipi makanan di meja aneka kue membuatnya tersenyum kecil.
“Enak, orang buat pesta gini makanan sampai habis gak ya? Sayang banget kalau di buang,” gumamnya pelan.
Mada melihat asisitennya, walaupun ia bicara matanya tak lengah mengawasi Jasmine yang sibuk memakan kue di meja. Hingga Mada menyusul Jasmine, ia hanya menundukkan kepala.
“Bapak mau kue ini? Enak lho,” katanya memberikan sepotong kue ke piring kecil untuk Mada.
“Saya tidak suka manis, kamu saja yang makan.”
“Oh saya baru tahu...,” ucap Jasmine lalu tak lama Mada mengajaknya kembali pulang.
Jasmine cukup bingung bagaimana dia kembali pulang? Jarak perjalanan sangat jauh, apalagi tempat dia tinggal sekitar 1 jaman dari hotel ini.
“Pak, saya numpang sampai terminal ya?” ucap pelan Jasmine membuat Mada mengerutkan kening.
“Untuk apa?”
“Saya gak pulang ke kos, besok libur jadi saya ingin ke suatu tempat.”
“Oke,” Mada tidak banyak bertanya, ia langsung menurunkan Jasmine di terminal sesuai dengan gadis itu minta. Jasmine mencari bus terakhir dan menuju panti asuhan yang ia sebutkan, hanya sekitar 1 jaman saja ia akan tiba. Di bus masih banyak orang, karena belum terlalu malam.
Jasmine tinggal di kos dekat perusahaan, berhubung besok libur ia memutuskan untuk kembali ke panti asuhan. Dimana ia dulu sering berkunjung dan menginap di sana. Di bus, Jasmine masih memakai gaun, untungnya tidak terbuka dan bisa dikatakan sopan. Ia tersenyum kecil, mengingat cara Mada memilihkan gaun dan menyuruh orang untuk merias dirinya di butik tapi, lebih parahnya Mada tidak masalah menunggu waktu 1 jam untuk dia saiap.
“Rias wajahnya, buat cantik. Jangan seperti itu, saya malu kalau datang ke pesta dia kayak gini,” walaupun dengan cibiran menyebalkan tidak tahu jika Mada peduli dengan penampilan Jasmine.
“Saya cantik gini Pak, enak aja bilang saya buat malu bapak.”
“Nyatanya kamu selalu membuat saya pusing.”
Setelah ia selesai, tatapan Mada tidak berkedip bahkan ia melihat penampilan Jasmine sangat cantik. Seperti beda orang, matanya melihat jepitan itu di pakai lagi, entah apa yang membuat Jasmine senang menggunakan jepitan rambut. Untung dengan tatanan rambut gerai, ia memakai jepit rambut justru semakin membuatnya cantik.
“Kenapa Pak? Saya gak cocok ya pakai baju seperti ini?” tanya Jasmine melihat Mada tidak berkedip dengannya.
“Atau saya cantik, makannya Bapak gak kedip lohat saya ya pasti?” goda Jasmine membuat raut wajah Mada kembali dingin.
“Cantik, tapi gak cocok di kamu!” cibir Mada membuatnya tertawa langsung.
Jasmine mengingat kejadian itu hanya tersenyum kecil, entah takdir apa yang bisa mempertemukan dia dengan orang dingin dan menyebalkan seperti Mada. Hingga tak terasa dia tiba di tujuan, segera ia turun dan berjalan sedikit menuju panti asuhan.
“Ibu...,” ucap Jasmine memeluk ibu panti yang menyambut bahkan menunggu dirinya. Karena Jasmine mengabarkan akan datang ke panti.
“Anak ibu cantik sekali, kamu dari mana nak?” tanya Ibu Susan, kepala panti yang mengenal baik Jasmine.
“Ada acara kantor tadi, aku gak sempat pulang. Langsung ke sini, ayo masuk Bu...,” ajak Jasmine untuk masuk ke dalam.
Bagi Jasmine, panti ini adalah rumah keduanya. Ia bahkan sudah mengenal banyak tentang panti seperti keluarganya sendiri.
“Bagaimana kerjaan kamu, Jasmine?” tanya Ibu Panti membuatkan teh hangat untuknya.
“Seperti biasa, Bu. Aku sudah banyak beradaptasi, ya bosnya cukup galak. Tapi, dia baik kok Bu.”
“Bos kamu laki – laki, nak?” tanyanya.
“Iya, Pak Mada. Arsitek muda yang berwajah dingin, ibu pasti pernah dengar kan?”
“Dia tampan lho nak, tapi belum menikah ya sepertinya?”
“Belum bu, kalau sudahpun, mana mau sama dia kayak gitu. Aku aja hampir setiap hari kena semprot,” keluh Jasmine menceritakan semuanya dengan ibu panti.
“Jangan bicara seperti itu, Jasmine. Bagaimana pun dia bos kamu sendiri, “ tidak habis pikir Jasmine masih suka mengomentari orang yang hanya di lihat dari satu sisi.
“Ibu..., aku kangen ayah.”
Ibu Susan hanya tersenyum, hingga ia memutuskan untuk meninggalkan Jasmine sendiri agar segera tidur karena sudah larut malam.