“Papa dengar kamu sudah dapat asisten ya?” tanya Maraka Rahagi, mereka sedang sarapan pagi ini dengan Utari Hariani, istri tercintanya.
Maraka memiliki perusahaan properti dan kontruksi, ia bekerja sama dengan Mada yang memang mengambil semua ahli urusan Arsitektur, dan perlengkapannya. Sementara Maraka yang menawarkan semua bahan baku jika perusahaan Mada membutuhkannya. Sayang sekali, putranya terlalu jenius dan cerdas dalam urusan bisnis. Banyak, sekarang nama Mada sudah menjadi sorotan sendiri tanpa bantuannya.
“Sudah, dia baru lulus kuliah. Cukup ceroboh, tapi dia berusaha belajar keras untuk pekerjaan.”
Mereka saling tatap, baik Maraka maupun Utari tidak seperti biasanya Mada mencari orang yang tidak punya banyak pengalaman. Dan sekarang diterima sebagai asisten pribadinya? Cukup terkejut dengan berita ini. Setidaknya putranya bisa bekerja sama dengan asistennya tidak sedingin seperti biasanya.
“Masih muda ya? Berapa umurnya?” tanya Utari penasaran dengan umur asisten anaknya.
“Tidak tahu, aku selesai.”
Mada mengakhiri sarapannya, ia tidak suka orangtuanya membahas urusan yang lebih jauh. Apalagi Mada tidak mengetahui banyak soal asistennya bersama Jasmine. Setelah kembali ke ruang kerja, ia mencari kanvas kosong. Hari libur seperti ini, ia gunakan untuk membuat ide baru soal sketsa, desain, bahkan visual yang bermanfaat.
Baru mengambil pensil mekanik, ia mencoba mengambangkan apa yang sedang ada dipikirannya. Telintas wajah cantik Jasmine. Yang entah kenapa pesta semalam perjamuan bisnis membuatnya tak bisa lupa, jika Jasmine secantik dan seanggun itu.
Membuat visual yang sama seperti apa yang ia perhatikan semalam dengan Jasmine. Gerakan tangan Masa begitu lincah, menggambarkan wajah cantik Jasmine yang hampir mirip dengan kenyataannya.
"Kenapa aku melakukan ini? Aku tidak mungkin tertarik dengan dia bukan? Dia hanya asisten baruku, orang asing yang datang tiba-tiba.”
”Dia terlalu aktif, bahkan membuatku banyak pusing," akhirnya Mada menyudahi lukisan yang hampir selesai itu, hasilnya cukup indah dan bisa dikatakan sempurna jika ia menyelesaikan keseluruhan.
Ingatannya, saat menurunkan Jasmine di terminal. Dia mau kemana? Ia baru teringat, k
dimana rumahnya kenapa harus ke terminal?
“Siapa dia sebenarnya, kenapa membuatku sampai memikirkannya," decak kesal Mada segera masuk ke dalam kamar untuk bersiap ia ada janji dengan teman - temannya bermain golf bersama.
*
*
*
Sementara Jasmine, siang ini langsung pamit dengan ibu panti ia harus segera pulang. Mereka mengucapkan banyak terimakasih untuk Jasmine yang sudah menyempatkan waktu berkunjung di sini.
"Kamu jaga kesehatan, harus makan dengan baik. Lihat, badan kamu makin kurus!" ujar ibu panti mengusap lembut tangan Jasmine selesai berpamitan.
"Baik Ibu, aku pulang ya..., sampai jumpa."
Jasmine langsung masuk kedalam bus seperti jalur semalam, ia harus pulang. Bagaimana pun besok ia akan kembali bekerja. Ia membuka ponsel, tidak ada aktivitas apapun. Bahkan chat grup perusahaan yang ramai saja seolah hari libur ini harus ada acara, sayangnya Jasmine sudah memiliki acara sendiri ada di panti asuhan ini.
Jasmine tiba di kos, yang kebetulan tempat tinggalnya dekat dengan perusahaan. Ia cukup ingat dimana hari pertama ia terlambat. Dan minggunya, ia mencari kos yang kosong dan dapatlah ini. Sebenarnya cukup nyaman hanya saja, Jasmine merasa terlalu sepi dan sendiri di tempat yang kos yang cukup baik.
“Minggu, sebaiknya aku cuci baju, dan beres - beres saja!"
Jasmine melakukan dengan cepat dan cekatan, agar setelah selesai ia bisa rebahan saja. Ia membuka ponselnya, sejujurnya ada kerjaan yang bisa dilakukan di sini. Hanya saja, Jasmine tidak mau melakukannya. Ia ingin libur dan istirahat.
Pandangannya mengingat bosnya galak, Mada.
"Pak Mada terlalu galak, huh..., tp baik sih tetep aja galak, ngapain juga aku mikirin dia? Gak jelas deh, udah ah mending aku tidur dan besok kerja gitu aja..., astaga kapan gajian lama sekali."
Jasmine, merebahkan diri kasur yang cukup besar walaupun standar ia tersenyum kecil, mendapatkan pekerjaan sebagai asisten cukup beruntung. Banyak yang iri dengan dia, tapi Jasmine bisa mendapatnya langsung.
*
*
*
"Waw arsitek tampan kita beneran datang," ujar salah satu pria memakai kacamata dengan kumis dan rambut halus di rahangnya menggoda Mada yang baru datang. Namanya, Vino. Salah satu sahabat terdekat dan baik dengan Mada.
"Arsitek satu ini emang sibuk banget bos, gila - gila..., proyek dia dimana - mana. Semua dia sanggupi gak capek lo, Mada?" imbun temannya satu lagi bernama Damar, dia merupakan pengusaha hotel dan interior di luar kota.
"Enggak, ayo langsung main. Udah lama, gak olahraga!"
"Bukannya lo sering gym sendiri? Kok gak pernah olahraga?" tanya kembali Damar karena mengenal Mada hampir setiap hari melakukan gym diwaktu yang luang. Bangun tidur biasanya akan langsung olahraga sebelum berangkat ke kantor.
"Maksudnya olahraga golf, Damar Santoso!" decak kesal Vino bukan hanya Mada yang tidak pernah main golf dirinya pun sama, terlalu sibuk untung saja hari ini mereka bisa bertemu dan menghabiskan waktu dengan main golf bersama.
"Bilang dari tadi kan bisa, makanya kalau ngomong yang bener Mada. Kan banyak gak ngerti dengan bahasa kakumu itu," ujar Vino mengendus tak kalah kesal karena ia tak mengerti dengan ucapan ambigu Mada.
"Heh, berani ya lo ngatain gue kaku!” tatapan tajam Mada membuat Vino terkekeh sendiri.
Jika Mada dengan sahabatnya, ia akan bicara selayaknya santai dan cenderung biasa. Jika dalam urusan kantor dan pekerjaan terutama bertemu dengan orang baru, ia akan menggunakan bahas formal.
"Udah dehh, ayo langsung oper bolanya!"
Tatapan Mada jatuh dengan pramugolf, pendamping yang membawakan stik bahkan mengatur bola serta mengatur strategi agar pukulan tepat sasaran.
Ini emang baju olahraga hampir te*la*njang gini ya? batin Mada tidak nyaman dengan cara mereka bergerak dan membuat pandangan Mada tak nafsu.
Ia memiliki tanpa pendamping, dan melakukan pukulan sesuai keinginan dia sendiri. Bahkan ia lebih jauh sasaran dibandingkan Vino dan Damar. Mada lebih unggul dari mereka, hingga berakhir ia meletakkan stik golf dengan kasar.
Ia mengambil air minum membuat tenggorokannya dingin langsung. Tatapannya mengarah ke ponsel, seolah pertemuan dengan sahabatnya hanya biasa saja.
“Eh gue denger katanya lo bawa asisten lo di acara perjamuan ya?" tanya Vino ikut istirahat, "Jujur, asisten lo cantik tapi gue belum lihat pasti sih..., katanya sih emang cantik banget malahan!" ucap Vino menatap Mada ia hanya mendengar gosip seorang arsitek Mada telah datang ke pesta membawa seorang asisten yang cantik.
"Dia baru lulus kuliah, masih banyak yang belum dia paham soal pekerjaan. Hanya buat kerjaanku semakin bertambah, huh!"
"Emang lo cari asisten itu dimana?" tanya Damar penasaran, karena yakin Mada bukan tipe yang mengajarkan orang dari nol.
"Bukan urusanmu, aku cari dia dimana. Intinya sedikit susah tapi dia selalu belajar dan berusaha memberikan kerjaan yang cukup baik."
"Misal nih, menurut lo dia cantik dan ada kemungkinan gak lo tertarik dengan asisten lo? Sekarang bukan hal mengejutkan lagi bro, bahkan dunia bisnis asisten ada yang jadi simpenan, ada yang menikah juga, bahkan jadi pacaran juga ada. Sekarang, lo gimana?" pertanyaan Vino membuat Damar ikut penasaran dan menunggu jawaban dari Mada.
Mada diam, tanpa sadar dia juga hampir tertarik dengan Jasmine bukan? Hanya saja, mereka baru mengenal hampir satu bulan ini. Interaksi mereka cukup baik, namun tidak ada niat untuk dekat tidak ada.
"Gue gak ada waktu untuk mikirin itu semua, kerjaan gue banyak. Dan dia bukan urusan gue, pertanyaan lo konyol!" abai Mada kembali meneguk air putihnya kembali.
"Awas ya, lo jatuh cinta sama asisten lo. Gue orang pertama yang bakal ketawain lo!" ujar Damar membuat tatapan Mada malas.
"Dia masih gagal moveon sama mantannya bukan?" goda Vino membuat Damar terkekeh kecil mendengarnya.
"Cantikan siapa, Mada?" tanya Damar kembali membuat Mada kembali kesal dengan godaan mereka.
"Saran gue sih, jangan kembali ke masa lalu bro..., dia udah nyakiti lo. Bahkan dia ninggalin diri kita di masa sulit, sekarang udah enak dia datang kembali. Gue tendang langsung ya, gak peduli dia cewek atau bukan intinya gue gak sudi balikan sama mantan!" ujar Vino membuat Damar sekali terkekeh sendiri dengan obrolan mantan.
"Mantan emang nyakitin bro, lupain deh mantan lo yang gak tahu diri itu," jawab Damar semakin membuat tatapan Mada kesal.
"Gue bahkan gak pernah mikirin mantan gue, bener - bener ya lo berdua. Gue juga gak sudi dia kembali. Untuk apa? Membaca buku dua kali? Najis!" kekeh Mada membuat mereka tertawa berbahak - bahak.