“Pak Mada, Anda ada pertemuan dengan Tuan Damar di jam 10 pagi ini, setelah itu kita ada makan siang bersama Ibu Putri membahas hasil revisi rumah sakit, sudah itu saja agenda yang lain Bapak hanya menyelesaikan pekerjaan dan laporan yang ada di meja!” hampir satu bulan penuh setiap pagi Jasmine datang ke ruangan Mada melaporkan jadwal apa saja yang akan di lakukan pagi ini.
Tidak ada jawaban dari Mada, bahkan Jasmine seperti angin berlalu saja.
Tidak ada pertanyaan, atau kalimat “Cuma itu saja?” tidak pernah keluar sama sekali. Bos dingin dan kaku yang membuat Jasmine menahan nafas saat selesai bicara dengan bosnya sendiri.
“Ada pertanyaan Pak? Kalau tidak ada saya izin keluar dari sini,” ucap Jasmine dengan senyuman manis agar mood pagi ini berjalan lancar jaya.
“Saya gak mau nanya ke kamu, pergi!” usirnya membuat Jasmine melotot langsung.
“Wah, gak ada makasih makasih ya!” gerutu Jasmine di dalam hati langsung keluar begitu saja tanpa menundukkan kepala. Mau dibilang kurang ajar, ia masa bodoh, bosnya sendiri yang mulai tidak punya rasa terimakasih dengan dirinya sudah membacakan jadwal hari ini entah didengar atau tidak.
Jasmine kesal.
Jasmine mencoba menahan diri untuk tetap fokus bekerja, walaupun pekerjaan kali ini begitu banyak setidaknya ia harus selesaikan satu persatu.
Tangan Jasmine terhenti saat seseorang datang tepat di depannya, seorang wanita yang begitu cantik usianya yang tidak muda. Bahkan Jasmine tidak mengenal siapa dia?
“Kamu asisten baru?” tanya wanita itu menatap penampilan Jasmine yang cukup rapi dan begitu cantik dengan polesan makeup wajar tidak terlalu mencolok.
“Benar, saya asisten dan sekretaris baru Pak Mada, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya ramah Jasmine berpikir mungkin tamu Mada? Tapi kenapa resepsionis tidak ada konfirmasi dengan dirinya.
Cukup cantik, bukan cukup sih tapi cantik dan menarik, batinya menatap Jasmine yang masih menunggu jawabannya.
“Saya ingin bertemu dengan Mada, dia di dalam kan? Saya langsung masuk saja!” wanita itu tersenyum ramah melihat Jasmine yang kebingungan.
“Lanjutkan saja pekerjaanmu, maaf saya mengganggumu ya? Saya ibunya Mada,” kenal Utari langsung menjabat tangan Jasmine begitu saja.
Jasmine tersenyum kikuk, ternyata wanita cantik ini ternyata adalah ibu bosnya sendiri. Jasmine dengan cepat langsung sopan dan menundukkan kepala, sikapnya sebelumnya benar-benar bingung biasanya jika ada yang ingin datang ke lantai atas harus konfirmasi dengannya tapi, Utari beda ia langsung masuk begitu saja.
“Salam kenal Ibu, saya Jasmine asisten barunya Pak Mada. Maafkan saya, sebelumnya saya bingung dan tidak sopan dengan Anda,” ucapnya tulus membuat Utari tersenyum.
“Tidak masalah, kalau begitu saya masuk ya. Mada ada di dalam kan?” tanya Utari dengan Jasmine.
“Ada Bu, silakan…,” akhirnya Jasmine membiarkan Utari masuk ke dalam ruangan Mada.
Mada mengerutkan kening ada orang masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu, ingin marah namun tatapannya berubah menjadi datar. Mamanya datang, Mada langsung menghembuskan nafas kasar karena Utari salah satu ibu yang bawel apalagi sejak ia menerima asisten Jasmine yang baru lulus membuatnya terus bertanya.
“Kenapa? Mama datang langsung datar mukamu,” ucap Utari duduk di sofa memperhatikan ruangan Mada yang selalu rapi dan tertata.
“Ada apa Ma, aku sibuk banyak kerjaan!” jawab Mada menyinggung kedatangan Utari tidak nyaman.
“Mama tahu kok kamu sibuk, tapi mama penasaran sama asisten baru mu itu. Eh sekarang mama ketemu langsung sama dia di depan,” ucap Utari dengan senyuman menyebalkan menurut Mada.
“Udah ketemu kan? Sekarang mama bisa pulang, aku sibuk!” Mada mengabaikan Utari begitu saja.
“Cantik yaa dia, namanya Jasmine tadi mama tanyain,” kata Utari membuat gerakan Mada terhenti.
“Ma, udah pulang sana. Aku sibuk, kerjaanku banyak banget!” kata Mada membuat Utari terkekeh kecil.
“Kamu ini, tapi kapan - kapan ajak dia datang ke rumah ya…, mama kok suka ya. Dia cantik banget lho Mada,” ucapan Utari tidak direspon oleh Mada ia memilih melanjutkan sketsa di iPadnya langsung.
“Baiklah mama pulang, mama udah gak penasaran lagi gimana bentukan asisten kamu itu. Karena mama sudah lihat langsung, mama pulang sayang. Kamu jaga kesehatan.”
“Lain kali mama gak perlu ke sini, mama buat waktu aku terganggu beberapa menit dengan kedatangan mama ke sini!” ucapan Mada membuat Utari tertawakan kecil.
“Tidak masalah, justru mama akan lebih sering datang ke sini,” balas Utari langsung keluar meninggalkan ruangan Mada yang masih fokus dengan kerjaan di tangannya.
Mada menghela nafas lega saat Utari meninggalkan ruangannya, jujur sedikit tidak nyaman karena pembicaraan tadi sangat sensitif menyangkut soal Jasmine.
Jasmine ke ruangan saya! Perintahnya melalui telepon otomatis agar Jasmine tidak ada cela untuk bicara dengan ibunya.
“Kamu mau masuk?” tanya Utari baru saja menutup pintu ruangan anaknya.
“Iya Bu, Pak Mada memanggil saya untuk masuk ke dalam,” sopan Jasmine menjawab ucapan Utari.
“Oh silakan,” ucap Utari tidak menahan Jasmine kembali ia langsung melanjutkan langkah untuk kembali pulang.
“Ada apa Pak?” tanya Jasmine setelah masuk ke ruangan Mada yang sibuk menyelesaikan sketsa.
“Saya hanya butuh inspirasi, duduklah!” jawab pelan Mada memang ia menyelesaikan salah satu sketsa tentang rumah sakit yang diminta Ibu Putri.
“Bagaimana hasil gambar saya, kamu sebagai asisten saya seharusnya menyelesaikan ini. Tapi apa kamu ini, sama sekali tidak punya skill! Saya terus yang menanggung kerjaan kamu!” omel Mada membuat Jasmine tersenyum kecil.
“Bapak sendiri tidak percaya dengan hasil sketsa saya, ngapain Bapak nyalain saya!” bantah Jasmine tidak mau disalahkan.
“Gimana saya mau percaya, gambar kamu banyak revisi!” bantah Mada tidak mau disalahkan oleh Jasmine.
“Maaf Pak, saya masih banyak belajar,” tatapan datar Jasmine membuat Mada menggelengkan kepala.
“Desain rumah sakit sudah hampir sepenuhnya jadi, menurutmu ini kurang dimana? Saya merasa masih kurang tapi apa, saya juga bingung!” Mada memberikan iPadnya ke Jasmine untuk melihat hasilnya. Yang dilihat Jasmine, gambar hasil bosnya sudah sangat sempurna bahkan ia takjub dengan karya Mada yang luar biasa. Pantas ia dijuluki arsitek muda paling estetik dan mahal.
“Sempurna, saya mau juga buat kayak gini!” ucap seru Jasmine dengan Mada.
Senyuman Jasmine yang manis membuat jantung Mada tak beraturan, begitu berdebar apalagi kecantikan asistennya benar-benar membuatnya terpesona.
*
*
*
Damar datang ke perusahaan sahabatnya, ia langsung dijemput dengan asistennya yaitu Jasmine menunggu dibawah.
“Selamat datang Pak Damar, saya Jasmine asisten Pak Mada. Senang sekali untuk kesempatan kali ini kita bisa bertemu,” sapa Jasmine dengan hormat bahkan ceria membuat Damar tak berkedip.
“Kamu asisten Mada? Cantik banget,” bisiknya pelan hampir tak terdengar oleh Jasmine.
“Maaf, Anda bicara sesuatu?” tanya Jasmine kembali karena tidak mendengar suara Damar.
“Hm, tidak saya juga senang bisa bertemu dengan Anda. Jasmine ya?” tanya Damar mengulurkan tangan ke Jasmine.
“Jasmine,” jawab Jasmine dengan sopan setelah itu ia langsung menarik tangannya dan mengajak Damar untuk masuk ke dalam ruangan Mada.
“Mari Pak, kita langsung ke ruangan Pak Mada. Beliau sudah menunggu Anda,” ucap Jasmine sangat profesional bahkan ia bekerja sesuai aturan yang berlaku.
Damar tak bisa mengalihkan matanya ke Jasmine, ia pikir asistennya biasa saja bahkan ini cantik sekali. Damar tak menyangka apa yang diceritakan oleh Mada saat olahraga golf jauh berbeda dengan kenyataan yang ia lihat baru saja.
“Silakan masuk Pak, Pak Mada sudah menunggu Anda di dalam!” Jasmine membuka pintu ruangan Mada, dan Damar langsung masuk setelah mengucapkan terimakasih dengan Jasmine.
“Ternyata cantik juga, bahkan dia membuatku terpikat beberapa detik saat bertemu,” ucap Damar duduk didepan Mada yang sedang menatapnya datar.
“Siapa?” tanya Mada ambigu dengan ucapan sahabatnya.
“Jasmine, boleh aku minta nomer teleponnya? Sepertinya aku tertarik dengan asistenmu, Mada!” ucapan Damar membuat rahang Mada mengeras, harusnya ini adalah pertemuan pembahasan bisnis, bukan pembahasan asistennya.
“Hahaha aku hanya bercanda Broo, jangan bilang kau cemburu saat aku meminta nomor telepon Jasmine?” goda Damar membuat Mada mengenduk semakin kesal.
“Untuk apa aku cemburu, aku sama sekali tidak cemburu!” bantah Mada yang ada mendapatkan ejekan dari Damar.
“Benarkah? Tapi raut wajahmu terlihat cemburu kawan.”
“Tapi, dia benar - benar cantik sih. Gue akui itu,” ucapan Damar membuat Mada memikirkan sesuatu yang entah kenapa sangat tak nyaman namun ia tertarik.