Pada usianya yang ke 15 tahun, Rachelle tumbuh menjadi anak yang cantik, baik hati dan sangat menyayangi kedua orangtuanya. Walaupun kehidupan orang tuanya sederhana dan hanya seorang nelayan, Rachelle tidak pernah mengeluh. Dia begitu pengertian dan jarang merengek-rengek untuk meminta sesuatu seperti kebanyakan teman seusianya.
Saat ini dia sedang duduk di kelas 3 SMP, dan Rachelle sangat pintar menari dan bernyanyi. Di sekolahnya dia sering tampil untuk acara-acara perayaan. Menari dan menyanyi adalah hobi Rachelle dari kecil, tak ayal baginya untuk tampil memukau di usianya saat ini yang tengah menginjak usia remaja.
Badannya sangat lincah saat menari dan berjoged, seperti penari KPop profesional dia melenggak-lenggokkan badannya dengan sangat lincah dan lentur.
Suara Rachelle juga terdengar sangat merdu ketika bernyanyi. Sehingga dia sering tampil bernyanyi sambil menari ala artis K-Pop negri ginseng itu.
Dan saat ini Rachelle tengah latihan untuk sebuah acara panggung besar di acara 17 Agustus kemerdekaan Indonesia. Yang diselenggarakan dari acara sekolahnya di tengah kota.
"One two three action!", teriak guru pelatih dari sekolah Rachelle yang tengah melakukan latihan sebelum acara pentas dimulai. Dengan serempak Rachelle dan teman-teman penarinya menari dengan melenggak-lenggokkan badannya di atas panggung di sekolah Rachelle.
Terdengar suara riuh dan tepuk tangan dari satu sekolah meneriaki dan menyoraki Rachelle dan teman-temannya untuk tampil semangat di atas panggung.
Rachelle pun mulai bernyanyi dengan menyanyikan sebuah lagu dari Red Pink, salah satu grup girl penyanyi asal Korea yang lagi tengah Hits.
Dengan suara merdunya Rachelle bernyanyi sambil berjoget ria di atas panggung dengan tiga orang temannya yang juga berjoged dengan lincahnya.
Setelah Rachelle dan tiga orang temannya selesai bernyanyi dengan gerakan dan koreo yang kompak, mereka pun diteriaki dengan suara riuh dari semua teman satu sekolahnya yang sedang menonton mereka latihan.
"Ok bagus.. good job Chell!", ujar guru pelatih seni dan tari sekolahnya Rachelle sembari tos dan tersenyum ke Rachelle dan teman-temannya.
"Besok kita akan GR (Gladi Resik) di pentasnya langsung ya!", sambung Danny sang guru seni dan tari di sekolahnya Rachelle.
"Ok pak guru!", sahut Rachelle dan ketiga temannya serempak sambil bergegas ke ruang ganti.
Danny sang guru seni pun terlihat tersenyum lebar melihat anak didiknya begitu atraktif menari dan menyanyi di atas panggung. Dengan senyuman manis tersungging di bibirnya, dia pun kembali dan masuk ke ruang kelas seni dan tari.
Rachelle dan ketiga temannya berjalan bercakap-cakap sambil tersenyum puas menuju ruang ganti. Dan tiba-tiba Hera muncul bersama dengan gengnya menghadang Rachelle dan teman-temannya.
"Heh lu dan teman-teman lu ini narinya jelek banget tahu gak!", ujar Hera dengan bibir yang mencibir menatap Rachelle dan ketiga temannya.
"Gue dan teman-teman gue gak butuh pendapat lu ngerti! minggir!", sahut Rachelle menghardik Hera dan gengnya sambil melangkah pergi.
"Gue belum selesai ngomong anak kampung!! ujar Hera sambil menghalangi Langkah Rachelle dengan kakinya.
"Mau lu apa sih?, mau cari ribut sama kita?", timpal Jenny teman Rachelle dari belakang sambil menatap Hera dan gengnya dengan tatapan kesal dan marah.
"Lu minggir gak?, atau gue injak kaki lu sampai patah!", timpal Rachelle dengan wajah yang mulai terlihat kesal dan emosi.
"Apa? Injek kaki gue sampai patah?, hahahaha!", sahut Hera sambil tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Rachelle yang bernada mengancam.
"Coba injek kalau lu berani!, gue pengen lihat seberapa besar nyali lu nginjek kaki gue!", sambung Hera sambil mendekat dan bicara di depan muka Rachelle.
Tak ingin berdebat dan berantam dengan Hera, Rachelle pun menatap mata Hera sambil melangkah maju ke depan dengan perlahan tanpa memperdulikan ucapan Hera.
Saat Rachelle berjalan dan berlalu melewati Hera beberapa langkah, tiba-tiba tangan Hera mencekal lengan Rachelle.
"Elu gak ngerti omongan gue ya?, atau emang lu kupingnya budeg?, dasar anak kampung!", ucap Hera dengan bernada mengejek dan menghina Rachelle.
"Terserah lu ngomong apa!!!, gue gak mau ribut sama orang kayak elu!!", sahut Rachelle sembari melepaskan cekalan tangan Hera dengan kasar dari lengannya.
"Bilang aja kalau lu itu cupu dan gak berani sama gue!", sahut Hera sambil menatap Rachelle dengan sinis dan benci.
"Apaaa?, elu ngatain gue cupu?", ujar Rachelle sambil balik badan dan mendekati Hera dengan tatapan tajam.
"Iyah emang lu itu cupu dan kampungan tahu gak?, hahahaha!", sahut Hera sambil tertawa terbahak-bahak dan diikuti oleh gengnya.
Dengan wajah emosi dan kesal Rachelle menendang tulang kaki Hera dengan keras dan kuat.
"Auuww auuuw sakit!!", jerit Hera sambil memegangi kakinya dengan kedua tangannya.
"Sekali lagi elu ngatain gue cupu dan kampungan, gue akan beneran patahin tulang kaki elu itu ngerti !!", ucap Rachelle sambil menatap Hera dengan wajah marah dan kesal. Kemudian Rachelle dan teman-temannya bergegas pergi meninggalkan Hera dengan gengnya.
Hera dengan wajah marah dan kesakitan menatap Rachelle dan teman-temannya dengan tatapan sinis dan rasa benci yang semakin dalam. Sementara gengnya Hera terlihat bengong dan terpelongo melihat keberanian Rachelle terhadap Hera si komandan geng.
"Tambah berani aja tuh anak udik!, ujar Yetty teman gengnya Hera sambil memegangi kaki Hera yang sakit.
"Auww auww sakit sakit!, rintih Hera sambil duduk dan meniup-niup kakinya yang kesakitan.
******************************************
Sementara Rachelle dan ketiga temannya sedang berganti baju di ruang ganti. Tiba-tiba saat mau keluar dari ruang ganti, pintu kamar mandi terkunci dari luar.
"Ehh kok gak bisa dibuka sih?", ujar Rachelle dan ketiga temannya di kamar yang berbeda.
"Chell, elu pintunya kekunci juga ya?", teriak Dita dari kamar mandi sebelahnya Rachelle.
"Iya nih!, pintunya gak bisa kebuka kenapa ya?", teriak Rachelle dari dalam kamar mandi sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi yang terkunci.
"Sama Chell, kita juga kekunci nih di dalam!", sahut Betty dan temannya yang lain sambil serempak menggedor-gedor pintu kamar mandi yang terkunci.
"Wah sialan!, ini benar-benar keterlaluan!, pasti ini kerjaannya Hera dan gengnya nih!!", sahut Jessy dari kamar mandi sebelahnya Betty.
"Iya benar!, ini pasti kerjaannya mereka semua!", timpal Michelle dari kamar satunya lagi.
"Sialan mereka tuh semua!", ucap Betty sambil terus mendorong-dorong pintu kamar mandi yang terkunci.
"Terus gimana dong kita semua nih?, masa kita di dalam kamar mandi ini terus?", ucap Jessy sambil tertunduk dan bersandar ke pintu kamar mandi.
"Lu semua tenang ya!, biar gue coba telpon pak Danny!", sahut Rachelle sambil mengambil hp dari dalam kantong bajunya.
"Wahh elu bawa hp tadi ke dalam Chell?, syukurlah oh ya Tuhan akhirnya kita bisa keluar dari dalam?", imbuh Betty sambil tersenyum lega dan senang mendengar ucapan Rachelle.
"Iya tadi kebetulan gue langsung lihat hp dan bawa ke dalam kamar mandi", sahut Rachelle sembari mengutak-atik hp ditangannya.
"Tunggu ya semuanya!, Gue telpon pak Danny sebentar!" ujar Rachelle sambil menekan nomor telepon pak Danny.
"Tut... tut..Tut..", bunyi suara sambungan telepon dari hp Rachelle.
"Iya Chel kenapa?", sahut pak Danny sang guru seni Rachelle dan teman-temannya di sambungan telepon.
"Pak.., kami kekunci nih di dalam kamar mandi, bapak bisa datang gak ke sini?, tolong bukain pintunya dong pak kami kekunci semua nih!", Ujar Rachelle dengan nada panik dan terdengar memohon kepada pak Danny.
"Apaaa..?, kekunci di kamar mandi..?, kok bisa...?", sahut pak Danny dengan suara panik dan heran.
"Gak tahu nih pak ulah siapa!, yang jelas kami berempat kekunci semua di dalam kamar mandi wanita nih pak!", sahut Rachelle dengan wajah cemberut.
"Ya udah.., ya udah!, bapak akan kesana sekarang ya, kalian semua tenang aja gak usah panik ok!", sahut pak Danny seraya ngeloyor pergi dari ruang kelas seni.
Dengan langkah tergopoh-gopoh, pak Danny datang dan menghampiri Rachelle dan teman-temannya di ruang ganti dan kamar mandi wanita.
"Chell...apa kalian masih di dalam?", teriak pak Danny sambil matanya memandang sekeliling ruang ganti.
"Iya pak.., kami ada di dalam sini!, tolong bukain pintunya pak!", sahut Rachelle dan teman-temannya kompak berteriak dari dalam kamar mandi.
"Astaga ya ampun!, ulah siapa ini?", sahut pak Danny sambil membuka pintu satu demi satu.
Rachelle dan teman-temannya akhirnya bisa keluar dari dalam kamar mandi. Dengan wajah lesu dan lunglai Rachelle dan teman-temannya menarik nafas dengan lega keluar dari dalam kamar mandi.
"Ini kerjaannya Hera pasti pak dan gengnya!" sahut Jessy merapikan rambut dan seragam sekolahnya dengan wajah kesal.
"Kamu jangan menuduh sembarangan dulu!, emang ada yang lihat kalau ini perbuatan Hera dan teman-temannya?", sahut pak Danny sambil menatap Jessy dan teman-temannya.
"Kalau ada yang melihat buktinya, bapak bisa hukum mereka sekarang juga!", sambung pak Danny sambil menatap Rachelle dan teman-temannya.
"Kami yakin pak.., coba aja bapak tanyakan langsung sama Hera dan gengnya, pasti itu ulah mereka kok!", ujar Michelle sambil tersenyum kecut dan menoleh ke teman-temannya.
Sementara Rachelle terdiam sejenak dan terlihat berpikir, entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Iya Chel apa menurutmu ini perbuatan Hera dan teman-temannya?", ujar pak Danny sambil menatap Rachelle dalam-dalam.
"Uhm..aku juga gak tahu sih pak!, tapi sepertinya iya, karena tadi Hera dan gengnya mengajak kami ribut sebelum masuk ke sini!", sahut Rachelle sembari menunduk.
"Kalau begitu, bapak akan memanggil mereka ke ruangan bapak sekarang juga!, ini perbuatan tidak bagus dan bisa membahayakan seseorang!", ujar pak Danny seraya ngeloyor pergi meninggalkan Rachelle dan teman-temannya di ruang ganti.
"Uhmm bagus tuh!, biar tahu rasa mereka semua!" ucap Betty sambil tersenyum lebar.
"Iya betul besti.., sebentar lagi kita akan melihat Hera and the gangs di..hu...kum! hahaha!", sahut Michelle sembari tertawa puas sambil menoleh ke teman-temannya.
"Gue gak tahu kenapa ya Hera begitu benci melihatku?", ujar Rachelle dengan raut wajah sedih sambil menoleh ke teman-temannya.
"Yah palingan juga karena iri sama lu Chell!, apalagi Hera itu kan gak punya bakat atau talenta apapun!, pastinya dia iri melihat elu dan kita semua bisa tampil di panggung besar nanti!", sahut Jessy sambil menatap Rachelle dan berjalan menuju wastafel.
"Iyah betul itu Chell.., dan kerjaannya Hera kan emang selalu ngebully orang!, itu doang talentanya, mentang-mentang dia anak orang yang paling kaya di sekolah ini, jadi gak ada guru yang berani negur dia..!", sahut Betty menimpali ucapan Jessy.
"Iya benar! dasar Hera anak paling belagu dan gak paling sok jago!, padahal dia gak punya bakat apapun yang bisa buat sekolah bangga sama dia!", imbuh Michelle sembari mencuci tangannya di wastafel.
Sementara Rachelle terlihat merenung dan menatap wajahnya di depan kaca. Dengan menarik nafas panjang, dia mencuci wajahnya sambil terbayang-bayang saat Hera sedang mencekalnya tadi setelah selesai latihan.