Kakak laki-laki Nina yang bernama Rano Hadi Sunyoto, lega kakeknya sudah mau membuka kamar. Ia menginap tiga hari di sini sendiri bersama kakek dan neneknya. Ia yang memberi tahu seluruh kerabat kabar duka tersebut, ketika kakeknya berteriak histeris berjam-jam, menangisi jasad neneknya semalam. Rano dengan pelan-pelan berjalan masuk ke kamar dan menyapa kakeknya.
Nina pergi ke halaman belakang rumah, mencari pohon apel yang ia tanam bersama kakeknya. Kata Sinyo Sunyoto, pohon ini akan terus berbuah nantinya sehingga jika Nina menginap di rumah mereka, ia tidak akan susah mencari buah kesukaannya itu di tengah perkebunan kopi Sunyoto. Hal itu benar terjadi hari ini, tepat ketika Nina membutuhkannya, pohon itu menyediakannya. Beberapa buah apel merah segar terlihat menghiasi rimbun hijau dedaunannya, ia pun mulai memanjat.
Nina terjatuh dari dahan yang ia pijak, ketika matanya menangkap dengan jelas sesosok manusia serigala, berdiri 7meter darinya. Tubuhnya jangkung, berdiri sedikit membungkuk, memakai kain ponco sepanjang paha, dan bertaring. Perasaan sedih dan takut, membuat tubuh Nina terpaku di tempat. Rambut Nina terurai panjang dari bahu hingga ke perut. Pita merah yang ia gunakan untuk mengikat rambutnya terlepas, terhempas angin ketika ia terjatuh. Kebun villa Sinyo Sunyoto ini hanya dipisahkan oleh pagar kayu dengan hutan di belakangnya. Orang-orang di dalam villa tidak akan mendengar jika Nina berteriak. Siluman itu berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di samping pohon apel. Dia memukul batang utama pohon tersebut hingga bergetar, membuat beberapa buahnya berjatuhan ke tanah. Siluman itu memandangnya dengan tatapan yang sulit Nina jelaskan, tapi yang pasti bukan tatapan benci atau amarah. Setelah itu ia berbalik dan masuk ke dalam hutan.
Beberapa detik setelahnya Nina mampu menggerakkan tubuhnya, memastikan kondisi aman, dia segera mengambil 7 apel merah yang terjatuh dan berlari ke dalam dengan rambut panjang hitamnya berkibar-kibar dari belakang. Dengan senang hati Nina membawanya kembali ke kamar kakek. Ia dikejutkan dengan mendapati Rano yang sudah berada di sana menangis, memanggil-manggil kakeknya yang terbujur kaku di atas kasur. Hari itu, keluarga Sunyoto melakukan pemakaman dua kali.
1 Tahun Kemudian
Burhan bangun dengan rasa sesal, ia melihat tubuh polos teman wanitanya masih terbaring pulas di sampingnya. Burhan segera beranjak dan mandi, membersihkan sisa-sisa Tania dari tubuhnya. Ia tak habis pikir, wanita yang ia sukai ini, selalu menolak ajakan pacaran bahkan menikah darinya. Tania bahkan tak sungkan-sungkan memamerkan beberapa pria yang ia pacari di hadapannya tanpa rasa bersalah. Seperti malam ini dan sebelumnya, Tania datang mengetuk pintu kamarnya tanpa rasa bersalah, meminta jatah mantan katanya. Burhan selalu memberi bahkan juga menawarkan hal ini kepada Tania. Wanita itu tak mau menjadi pacarnya, paling tidak Burhan tidak kehilangan penghangat malam-malam kelabunya. Ia pria dewasa, ia sadar dirinya memliki kebutuhan biologis yang susah untuk ditahan pada saat-saat tertentu. Tania hanya sempat berpacaran dengannya di awal masa kuliah mereka, yang hanya berlangsung beberapa bulan saja.
Burhan mulai muak, karena hubungan mereka, bertahun-tahun setelah itu, hanya teman tidur. Mungkin hanya itu yang bisa Tania dapatkan darinya. Burhan tahu, Tania hanya mau pacaran dengan pria kaya raya. Tentunya usaha penerbitan di kantor pinggiran kota, dengan hanya dua pegawai, tak dianggap Tania. Proyek buang-buang uang kata Tania ketika Burhan dengan bangga menceritakan keberhasilannya membangun kantor publishing sendiri. Itu adalah hari pertama ketika kantornya resmi berdiri secara legal dan Tania orang kedua yang ia kabari. Supernova seperti bayinya sendiri bagi Burhan, akan ia tunjukkan bayinya itu bisa hidup melampau ejekan orang-orang.
'Draft kontrak kerja sama dalam bahasa Inggris, sudah tante lampirkan di email ini, bisa kamu pelajari, tanya tante kalau ada hal yang tidak kamu mengerti. Tante sudah bantu pilihkan apartemen di London yang cocok untuk kamu. Kabari kalau kamu sudah dapat tiket ke London, nanti tante jemput di bandara.
Salam,
Rini Jayati.'
Burhan segera menghubungi asistennya, Chandra Setiawan untuk mengurus jadwal penerbangan. Dia melihat secercah harapan untuk kantor Supernova, dengan adanya beberapa investor luar yang hendak bekerja sama.
"Kamu pergi ya, aku sibuk hari ini rapat di luar semua" kata Burhan kepada Tania yang baru bangun.
"Iya ini juga aku mau ke bandara siang ini" jawabnya kesal.
"Aku harap ini yang terakhir Tania, aku gak mau seperti ini terus. Ini salah dan tidak sehat" ujar Burhan tegas. Tania hanya tersenyum sinis meremehkan sambil berjalan menuju kamar mandi. Burhan segera menyiapkan alat kerjanya, siang ini dia akan sibuk di Supernova, malamnya bertemu klien di café.
Sementara itu malam harinya, Nina sedang mengucapkan terima kasih kepada seluruh teman yang datang ke pesta ulang tahunnya yang ketujuh belas. Acara sederhana dengan konsep pesta kebun di café berlangsung sukses. Seluruh teman dan kerabat yang ia undang hadir. Ia menerima banyak ucapan selamat dan kado yang menumpuk di akhir acara. Ibunya Rahma, berjalan mendekati mereka bersama beberapa tamu.
"Pak kenalkan ini anak-anak saya, yang ulang tahun ini Nina, yang kecil umur 5 tahun, bungsu saya, namanya Sita. Dan anak-anak, kenalkan ini Pak Ridwan Salihin, istrinya Bu Rita, dan ini anaknya, mas Sandi," kata Rahma. Mereka adalah tetangga baru Nina di perumahan Mutiara Hijau.
"Sandi ini hanya 2 tahun lebih tua dari Nina, kalian pasti bisa berteman baik nantinya di sini" ujar Rahma senang dengan potensi pertemanan anaknya yang bagus. Rahma senang memiliki koneksi dengan orang-orang kaya, memiliki jabatan atau sekedar punya keahlian yang bisa dia manfaatkan. Baik Nina dan Sandi tersenyum malu-malu khas anak muda. Sandi terlihat seperti pria baik dan sopan. Anak sulung dari tiga bersaudara itu, tutur katanya halus dan tahu tata krama.
"Terima kasih sudah datang ke acara kami, mari Pak Ridwan, Bu Rita, dan Mas Sandi, ayo makan dulu," kata Nina menunjuk meja bulat yang kosong dan kios-kios makan di samping mereka.
"Terima kasih Nina, kaget kami diundang ibumu, baik sekali, padahal kami baru pindah di sini tapi sudah mendapat sambutan hangat" kata Pak Ridwan yang memakai kopiah hitam dan kemeja putih serta celana kain hitam. Kalau bukan kyai, Pak Ridwan nampak seperti calon pejabat, batin Nina. Rahma segera menemani mereka untuk duduk bersama, suaminya, Pak Hadi.
"Kenapa saudara dari keluarga ayah tidak ada yang datang ya Kak? Mas Rudi juga gak ada" tanya Sita melihat sekeliling.
"Karena Ibu tidak mengundang mereka," sahut Rano, Kakak sulung Nina dan Sita. Nina mengatakan bahwa kakak sepupu mereka, Rudi Purwo Sunyoto sudah meminta maaf tak bisa hadir setelah Nina mengundangnya langsung via telepon. Pria yang bekerja sebagai polisi di ibukota itu tak lupa mengirimkan hadiah kepada Nina malam ini sebagai permintaan maaf.
"Kok Ibu gak ngundang mereka Kak Rano?" tanya Sita belum puas.
"Ibu ada sedikit salah paham dengan keluarga ayah, rumit pokoknya Sit, Kakak juga pengennya Mas Rudi dan lainnya bisa datang," jawab Nina pelan. Sita masih berumur 4 tahun ketika ibunya ribut besar dengan saudara-saudara ayahnya di rumah Kakek Sunyoto, setahun lalu. Hanya Nina dan Rano yang paham karena menyaksikan langsung pertengkaran di hari ketujuh pasca Kakek meninggal.
"Sudah kita nikmati pestanya Sit, gak usah berpikir yang buruk-buruk, Nina juga tidak akan berusia tujuh belas tahun untuk kedua kalinya, kita nikmati saja kuenya, kita menggendot bersama ha-ha-ha" kata Rano sembari tertawa dan merangkul kedua adiknya.
Sempurna sekali malam ini, pikir Nina yang bersiap tidur. Ia sangat bersyukur memiliki keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang. Teman-teman baik dan perhatian. Gadis manis berambut panjang itu berangkat tidur dengan senyuman yang tersungging di bibirnya yang merah, berharap bermimpi indah. Ia belum tahu saja, malam ini akan menjadi malam pembuka pada kehidupan penuh terornya.