Nina mengubah posisi tidurnya beberapa kali untuk mendapat tempat yang nyaman, entah kenapa gadis itu tiba-tiba merasa kasurnya berubah menjadi keras. Ketika ia merasa hembusan angin dingin menyentuh kulitnya, ia mencoba menarik bedcover, tapi tak menemukan apa-apa. Akhirnya terpaksa ia membuka matanya dan terkejut dengan apa yang ia lihat-hutan!
Nina langsung mengerjap matanya berulang kali, memastikan apa yang ia lihat nyata. Bagaimana mungkin ini terjadi? Ia berada di tengah-tengah hutan belantara. Ia mencoba mencubit tangannya beberapa kali dan tak ada yang berubah, ia benar-benar berada di dalam hutan. Nina langsung bangkit dan dengan waspada memperhatikan lagi secara seksama di sekitarnya. Hutan dengan pepohonan yang tinggi dan rapat. Udara malam yang lembab, tanah yang hitam tertutup dedaunan mati.
"Halo?"
"Ibu? Ayah ...?"
"Kak Rano? Sita?"
Tak ada sahutan dan suara, Nina ketakutan.
"Tolong, apakah ada orang di sini?" tanya Nina dengan hati-hati. Ia menunggu beberapa saat tapi yang ia dengar hanya suara serangga hutan, burung, dan berisik angin yang menembus rimbun dedaunan. Ia masih bertahan di tempat, belum berani melangkah kemana-mana.
Udara dingin, Nina hanya mengenakan gaun tidur satin putih dengan lengan pendek. Ia memutuskan untuk berjalan ke depan dan berharap mendapat bantuan. Pepohonan di sekitarnya tinggi dan rapat, persis seperti di hutan pegunungan, begitupun dengan hawanya yang dingin. Sepasang mata mengintai gadis manis itu dari atas pohon. Sosok itu bersembunyi dengan sempurna di sana, mengikuti langkah Nina di tengah hutan.
Pikiran Nina bertanya-tanya, apa yang terjadi dan akan terjadi padanya? Sudah pasti ada yang memindahkannya kemari karena tak mungkin ia berjalan kesini sendiri. Ia berjalan dengan memasang telinganya pada fokus tertinggi. Siapa tahu ada suara manusia terdengar, ia akan langsung menyahut.
Sudah sekitar 30 menit lebih Nina berjalan tapi ia tak menemukan satupun tanda adanya manusia di sini. Hanya sekelebat bayangan hitam bermata merah mengintai beberapa kali serta beberapa sosok kuntilanak. Ia takut, tapi insting bertahannya lebih tinggi. Beruntung tak ada yang mendekat dan mengganggunya. Tak lama kemudian hidungnya mencium aroma lezat masakan serta asap pembakaran. Tubuhnya yang lelah, kedinginan dan lapar pun tergoda. Ia berjalan menuju sumber aroma.
Pepohonan di sekitarnya mulai jarang dan berjarak, hingga ia mampu melihat sebuah lapangan yang luas dengan dua api unggun di sisi kiri lapangan. Ia juga melihat satu meja kayu prasmanan panjang yang berisi banyak aneka hidangan lezat dan dihiasi bunga-bunga putih di sudut-sudut meja. Nina berjalan mendekat dan memandang penuh gairah pada piring dan baki-baki tembaga berisi buah-buahan besar, ayam bakar, ikan bakar, bahkan ubi bakar yang tak pernah ia sukai pun, mengeluarkan aroma yang amat menggugah.
Ketika tangan kanannya hendak mengambil salah satu buah apel, angin berhembus ke sisi kiri wajahnya. Nina merasa kedinginan lalu berjalan mendekati api unggun yang berkobar. Di antara kedua api unggun itu, berdiri sebuah altar kayu sederhana dengan hiasan bunga mawar putih dan melati yang harum. Nina duduk di dekat api unggun sebelah kiri sambil masih memegang apel. Ia berpikir di sini mungkin akan berlangsung sebuah acara pernikahan atau sunatan dari desa tak jauh dari hutan ini. Orang-orang akan berkumpul kemari beberapa saat lagi, untuk acara perayaan entah apa. Karena gadis manis berambut panjang itu dididik sedari kecil tentang sopan santun, ia memutuskan akan memakan apelnya setelah meminta ijin kepada pemilik acara. Meskipun lapar, Nina tahu tata krama.
Ia menikmati kehangatan yang terpancar dari api unggun, sambil menunggu orang datang. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita berwajah tegas, memakai kebaya dan jarik serba hitam, rambutnya disanggul rapi dengan tusuk konde emas. Rambutnya terlihat hitam dalam malam gelap ini, tapi begitu pantulan cahaya menerpa kepalanya, terlihat semburat putih keabuan pada kiri sisi kepanya. Raut wajah panik menatapnya tajam. Nina segera berdiri dan hendak bertanya kepadanya tapi wanita itu lebih cepat. Ia meraih kedua tangan Nina dengan kencang.
"Ada apa, Bu?"
"Pulang...," bisik wanita itu pelan tanpa menggerakkan bibirnya sambil menunjuk ke hutan tempat Nina tadi muncul. Ia menatap Nina dengan sorot mata serius dan was-was.
"Pulang sekarang," ulangnya lagi dengan nada menekan, mulai menarik tangan Nina untuk masuk kembali ke dalam hutan.
"Pergi dari sini sekarang!" desisnya putus asa.
Angin kencang kembali berhembus dan wanita itu bertambah panik, ia dengan cepat menarik Nina yang mulai paham, berlari cepat menuju hutan. Namun ketika hampir sampai di mulut hutan, kedua kaki Nina hanya berlari di tempat tak bisa maju. Ketika ia menoleh ke belakang, samar-samar ia melihat sesosok bayangan hitam muncul dari dalam hutan seberang sana. Dari asal angin kencang tadi berhembus.
Bayangan itu berjalan pelan mendekat dan berhenti pada jarak kira-kira 200meter dari tempat mereka berdiri. Ketika pendar terluar cahaya api itu menerpa sosoknya, terkejutlah Nina. Makhluk setinggi hampir 300meter itu adalah siluman kambing berbulu hitam kecoklatan dengan tanduk berdiri diatas dua kaki. Tangan, d**a dan perutnya adalah manusia laki-laki, tapi kaki dan kepalanya berupa kambing lengkap dengan dua tanduk panjangnya. Kambing itu berambut panjang yang menyatu dengan punggungnya dan berjanggut, kedua matanya merah, layaknya api yang berkobar. Nina segera menoleh ke arah wanita di sebelahnya yang menangis, antara panik dan takut.
Ia harus kabur sekarang, bodoh sekali ia tadi hendak menunggu orang-orang untuk datang. Perayaan macam apa yang digelar di tengah hutan belantara tengah malam? Acara setan dan demit! Salah satunya sekarang sudah hadir di sini mungkin untuk menyembelih dan membuat tubuhnya menjadi hidangan cemilan, begitu pikir Nina kalut.
"Grrhh ..!" suara geraman siluman yang dalam dan menggema itu sontak membuatnya bergetar takut.
"Aku mengambil buah dari perjanjian yang dibuat oleh kakekmu, Sinyo Sunyoto" ujarnya.
Meskipun dia jauh tapi suaranya dekat, seolah di sebelah Nina. Wanita berkebaya hitam itu mulai menangis, menatap Nina putus asa. Nina masih tidak bisa menggerakan kakinya ke depan dan tubuhnya tiba-tiba berbalik sendiri, menatap siluman yang mirip Baphomet itu. Tubuh Nina langsung terpaku di tempat.
Suara-suara alam yang menemaninya sedari tadi pun perlahan memelan, lalu memudar, hening, seolah mereka ingin Nina fokus kepada satu monster di seberang sana. Wanita di sebelahnya hanya bisa menangis, menggeleng kepalanya berulang kali sambil bersujud ke arah siluman itu, memohon sesuatu.
Mulut Nina mulai membaca ayat-ayat suci yang ia hapal, tapi monster itu tersenyum sinis. Mulutnya kemudian ikut komat kamit seolah mengejek bacaan Nina. Ketakutannya meroket ketika siluman kambing itu mulai berjalan ke arahnya. Badannya bergetar hebat, gigi bergemelutuk, tangan kanannya mencengkeram kuat buah apel merah di tangan. Doa-doanya dalam hati semakin kencang dan putus asa dengan memendeknya jarak langkah mereka. Seolah tahu perasaan gadis polos itu, langkah kaki siluman kambing itu semakin mantap dan cepat.
Wanita misterius itu pun berlari dan memegangi kaki siluman kambing, menahannya untuk mendekati Nina. Siluman itu tak menggubrisnya. Ia tetap berjalan dengan tubuh wanita itu ikut terseret.
"Ndoro, tolong batalkan ini ndoro Bhimo, tolong lepaskan mereka," pintanya menangis.
"Nyi Ireng!" serunya Mbah Bhimo. "Aku arep njipuk hak ku, arep ngunduh mantu seko Sinyo Sunyoto! Bengi iki koe kawin karo abdiku, Nina!" ujar siluman kambing yang dipanggil Bhimo itu mengejutkan Nina. (Aku hendak mengambil hakku, mengambil mantu dari Sinyo Sunyoto! Malam ini kamu menikah dengan abdi ku, Nina!)
Mungkin doa-doa Nina mulai terjawab, rasa hangat mulai menjangkiti kedua tumitnya dan menjalar ke atas. Ia akhirnya mampu menggerakkan satu kakinya ke belakang. Ia mencoba mundur lagi dengan kedua kakinya dan berhasil. Kelegaan segera menghangatkan hatinya. Ia mantap berbalik dengan sedikit rasa bersalah meninggalkan Nyi Ireng bersama Bhimo dan mulai berlari masuk ke dalam hutan.
"Ha-ha-hah!"
"Kamu tidak akan bisa kabur dari perjanjian ini, Nina Sunyoto ...!"
Suara tawa siluman itu menggelegar dimana-mana meski jarak mereka mulai jauh. Nina tidak ingin menoleh ke belakang. Berdasarkan banyak cerita horror yang ia baca, dalam situasi seperti ini, jika ia menoleh ke belakang, pasti sesuatu yang buruk akan terjadi. Entah dia jadi disesatkan di hutan atau malah langsung bertemu siluman itu dalam jarak dekat. Nina terus berlari menembus pepohonan yang rapat, terjatuh oleh akar-akar besar beberapa kali, tapi ia bangkit lagi.
"Nina ...!"
"Jangan ingkar janji! Keluargamu tak patheni!" amuk Bhimo dengan suara menggelegar. (Jangan ingkar janji! Keluargamu akan mati!)
Nina penasaran siapa siluman ini, kenapa bisa tahu namanya? Ini di mana? Siapa yang menculiknya dari rumah lalu kemari? Ia mendengar berisik langkah di belakang karena dedaunan di tanah bergemerisik terinjak-injak dengan cepat oleh kaki kambing itu. Suara langkah itu semakin mendekat, semakin membuat Nina mempercepat larinya.
Terus berlari, terus sampai kamu melihat robekan ruang cahaya putih di depanmu, selamatkan dirimu,
Nina terkejut mendengar suara-suara manusia lain di sekitarnya. Suara pria dan wanita. Suara pria ini sedikit familiar dan berbisik pelan di telinganya.
Jangan menoleh kemana-mana, tetap lihat ke depan, jangan sekali-kali menoleh ke belakang!
"Jangan ikut campur, kalian berdua!" bentak siluman itu marah. Nina menurut dalam hati dan terus berlari hingga ia mendengar suara seperti petir tak jauh di depannya dan sesuatu yang ajaib terjadi. Beberapa detik setelah suara petir-petir itu terdengar, muncul sesuatu yang aneh beberapa meter di depan Nina. Sesuatu seperti robekan di ruang hampa dengan cahaya putih berkilat-kilat, seperti yang dikatakan suara itu tadi.
Masuklah ke sana, cepat, kabur dari hutan terlarang ini!-Bisik suara itu lebih menekan.
"Bocah-bocah kurang ajar! Tak pateni kabeh!" ancam Bhimo mengamuk. Nina mempercepat larinya karena siluman itu mendekat dan langsung melompat ke dalam robekan ruang itu.